Krisis Listrik India Makin Parah, Harga Batu Bara Malah Adem Ayem
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tetap melemah meski India mengalami krisis listrik. India adalah konsumen batu bara terbesar kedua di dunia setelah China.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (20/10/20276) ditutup di posisi US$ 152,5 per ton. Harganya melemah 0,7%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemah dua hari beruntun. Kendati melemah, level saat ini masih ada di kisaran tertinggi tiga tahun.
Harga batu bara tetap melemah meski India dan China dilaporkan kekurangan pasokan.
Reuters melaporkan separuh dari 191 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di India beroperasi dengan persediaan bahan bakar yang sangat rendah.
Kondisi ini terjadi akibat lonjakan permintaan listrik di tengah cuaca yang lebih panas dari biasanya, yang dikaitkan dengan fenomena El Niño, berdasarkan data pemerintah.
Jumlah pembangkit listrik dengan stok batu bara kritis yakni persediaan bahan bakar yang hanya cukup untuk menghasilkan listrik kurang dari tiga hari meningkat menjadi 96 unit per 19 Oktober. Angka ini naik dari 60 unit pada pertengahan September, menurut data Central Electricity Authority (CEA).
Kekurangan pasokan tersebut terjadi meskipun Kementerian Batu Bara India pekan lalu menyatakan telah meningkatkan pasokan ke pembangkit listrik.
Data pemerintah juga menunjukkan total persediaan batu bara di pembangkit listrik India turun sekitar 5% sejak awal Oktober.
Permintaan listrik harian pada jam beban puncak tahun ini tercatat sekitar 45 gigawatt (GW) hingga 50 GW lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini sebagian dipicu oleh curah hujan monsun yang lebih rendah, sehingga menekan produksi listrik tenaga air dan meningkatkan ketergantungan pada pembangkit listrik termal.
Pada September, kesenjangan antara permintaan dan pasokan listrik India meningkat menjadi 560 juta kilowatt-jam (kWh), tertinggi sejak Agustus 2023. Kondisi tersebut terjadi meskipun pembangkit listrik berbahan bakar batu bara meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan yang kuat.
Data CEA menunjukkan produksi listrik berbasis batu bara meningkat 13,3% pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, produksi listrik tenaga air turun 20%.
India terus meningkatkan kapasitas energi terbarukan. Hampir 55% pembangkitan listrik negara tersebut berasal dari sumber nonfosil.
Namun, keterbatasan baterai untuk menyimpan energi bersih membuat negara Asia Selatan itu masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara ketika permintaan listrik melonjak.
Dari China dilaporkan, impor batu bara China naik secara bulanan. China mengimpor 43,37 juta ton batu bara pada September 2026, meningkat dari 42,09 juta ton pada Agustus, tetapi turun sekitar 5,7% secara tahunan.
Indonesia masih menjadi pemasok terbesar berdasarkan volume total. Impor batu bara China dari Indonesia mencapai 14,62 juta ton pada September, meskipun turun 32% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pasokan Indonesia menghadapi kendala. Penyesuaian persetujuan kuota produksi serta rendahnya permukaan air sungai di Kalimantan mengganggu ketersediaan dan pengiriman batu bara.
(mae/mae)