Dulu Menyeberang Laut demi Beli Sandal, Kini Tinggal Klik dari Bantal
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â Di Dermaga Gampong Lampuyang, Pulau Breueh, Aceh, puluhan warga menunggu di bawah terik matahari yang mencapai 30 derajat Celsius saat siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Mata mereka sesekali tertuju ke arah perahu yang datang. Bagi sebagian orang, kedatangan perahu mungkin hal biasa. Namun, bagi warga yang menanti barang pesanannya, ada kebahagiaan kecil yang segera tiba dari seberang laut.
Kini, perahu-perahu yang berlayar dari Pelabunan Ulee Lheue di Banda Aceh tak hanya membawa penumpang dan kebutuhan sehari-hari. Ada karung-karung berisi paket belana online yang dinanti warga. Di dalamnya, tersimpan baju, jilbab, sandal, toples, makanan, kosmetik, suku cadang motor, hingga perlengkapan rumah tangga yang dipesan melalui ponsel.
Di Pulau Breueh, paket-paket itu membawa lebih dari sekadar barang. Ada senyum, kebahagian, harapan, makna ketulusan hingga perubahan cara hidup yang perlahan terasa hingga ke pulau yang berjarak 2-2,5 jam dengan perahu dari Banda Aceh tersebut.
Dermaga Lampuyang adalah satu dari tiga dermaga besar di Pulau Breueh. Dua lainnya adalah Dermaga Gugop dan Seurapong.
Pulo Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Senyum Warga Breueh Menanti Paket
Salwa tak bisa menyembunyikan kegembiraannya ketika mengetahui paket pesanannya telah tiba.
Saat CNBC Indonesia bertemu dengannya di Dermana Lampuyang, September lalu, dia langsung bergegas mencari tumpukan paket yang ditaruh di ujung perahu.
Siswi SMA itu memesan baju dan jilbab di toko online. Baginya, berbelanja secara daring jauh lebih mudah karena pilihan barang beragam dan harganya bisa lebih murah.
"Karena lebih murah dan banyak pilihan," ujarnya singkat.
Paket yang dikirim dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Paket yang dikirim dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Salwa baru mulai berbelanja daring tahun ini. Namun, ia sudah terbiasa menjelajahi berbagai produk melalui ponselnya. Tanpa harus menyeberang ke Banda Aceh, ia bisa memilih barang yang disukai dan menunggu pesanannya datang bersama perahu.
Bagi banyak dari warga Indonesia yang tinggal di kota besar, kemudahan belanja online mungkin terasa sederhana.
Namun, di pulau yang akses belanjanya terbatas seperti Pulau Breueh, kemampuan memilih barang sendiri dengan harga yang sesuai kantong menjadi perubahan berarti.
Paket yang dikirim dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Marmub, siswa kelas XIII SMA, juga merasakan manfaat serupa. Ia kerap memesan suku cadang motor dan barang-barang yang berkaitan dengan hobinya. Belanja online menjadi pilihan karena menawarkan banyak pilihan.
Bagi anak muda Pulau Breueh, internet kini membuka akses yang sebelumnya sulit dijangkau. Dunia belanja tak lagi berhenti di toko-toko seberang lautan.
Paket yang dikirim dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Tak Perlu Lagi Menghabiskan Sehari untuk Belanja
Perubahan ini juga dirasakan Rahmi, ibu dua anak yang kini terbiasa berbelanja secara daring. Baginya, manfaat terbesar bukan hanya banyaknya pilihan barang, melainkan waktu dan biaya yang bisa dihemat.
Rahmi masih mengingat bagaimana repotnya berbelanja ke Banda Aceh. Ia harus meninggalkan rumah dan pekerjaan di ladang, menyeberangi laut, lalu melanjutkan perjalanan dengan becak untuk mencari barang yang dibutuhkan.
"Dulu kalau mau beli barang harus ke Banda (Aceh). Kita harus pergi seharian. Buat kapal aja sudah habis Rp60.000, belum lagi ke sana harus pakai becak ke toko dan makan," tuturnya.
Jika dihitung, ongkos kapal mencapai Rp60.000, biaya makan sekitar Rp40.000, dan transportasi di Banda Aceh sekitar Rp150.000. Totalnya sekitar Rp250.000, belum termasuk harga barang yang dibeli.
Bagi sebuah keluarga, pengeluaran sebesar itu tentu bukan perkara kecil. Belum lagi waktu yang tersita dan pekerjaan di ladang yang harus ditinggalkan.
Kini, kebiasaan itu berubah.
"Sekarang, tinggal buka HP beli. Kita bisa ke ladang, main sama anak-anak di rumah. Barang tinggal ambil di kapal," ujar Rahmi.
Kalimat sederhana itu menggambarkan perubahan besar dalam keseharian warga. Belanja yang dahulu membutuhkan perjalanan panjang kini bisa dilakukan dari rumah bahkan sambil rebahan di atas bantal. Waktu yang sebelumnya habis di perjalanan dapat digunakan untuk bekerja dan berkumpul bersama keluarga.
Karung Paket dan Kepercayaan di Tengah Laut
Di balik kemudahan itu, ada cara sederhana yang membuat paket-paket tersebut sampai ke tangan pemiliknya.
Barang kiriman biasanya dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan di bagian ujung perahu. Tidak ada sistem pengamanan rumit atau proses serah terima yang panjang. Paket-paket itu menunggu di sana sampai diambil pemiliknya.
Muyasir, anak buah kapal berusia 43 tahun, menjadi salah satu orang yang memastikan kiriman tersebut sampai dengan aman. Ia mengatakan, paket bisa dibiarkan di perahu hingga keesokan hari atau sampai menjelang keberangkatan sekitar pukul 08.00 WIB.
Anak buah kapal lain, Syahrir bercerita jika belanja online mulai ramai dalam tiga tahun terakhir.
"Sudah ada sedikit-sedikit lima tahun ini tapi baru ramai banget tiga tahun terakhir. Di kapal ini, sehari bisa tiga karung goni ya mungkin ratusan. Kalau Lebaran bisa sampai 10 karung goni," ujarnya.
Anak buah kapal di Pulau Breueh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Â
Jika pemiliknya belum datang mengambil barang, Â awak kapal lainnya akan menitipkan paket di warung terdekat dari dermaga. Jika masih belum diambil, paket dibawa kembali ke Banda Aceh dan dititipkan di warung kawasan Ulee Lheue.
Cara itu berjalan dengan modal utama yakni kepercayaan dan ketulusan.
Paket-paket tersebut bukan sekadar tumpukan barang dalam karung. Di dalamnya ada barang yang telah dibayar, kebutuhan keluarga, dan pesanan yang dinanti seseorang di rumah. Meski tidak selalu bertemu langsung dengan pemiliknya, awak kapal berusaha memastikan setiap kiriman tidak hilang.
Yang lebih menarik, layanan pengantaran paket lewat perahu ini tidak dipungut biaya.
"Kadang ada yang kasih Rp5.000, tapi banyak yang juga tidak kasih. Kami ikhlas," kata Muyasir.
Dalam sehari, perahunya biasanya mengangkut sekitar tiga karung paket. Jumlahnya meningkat menjelang Lebaran, ketika warga mulai memesan lebih banyak barang untuk kebutuhan hari raya.
Di tengah perubahan yang dibawa teknologi, kebiasaan saling membantu masih bertahan. Kemudahan belanja daring memang bergantung pada internet dan platform digital, tetapi perjalanan paket hingga ke tangan warga tetap mengandalkan orang-orang yang saling percaya dan penuh ketulusan.
Bila di banyak wilayah lain, kurir akan langsung datang di depan rumah pembeli maka di Pulau Breueh tidak demikian.
Kepada CNBC, Salwa bercerita penjual online atau kurir akan mengabari lewat handphone jika barangnya akan dikirim hari itu disertai dengan foto.
"Biasanya 2-3 hari. Mereka akan foto barang dan dikirim pakai kapal yang mana. Kami akan mendatangi kapal itu pas sampai," ujarnya.
Pemebritahuan lewat handphone mengenai pengiriman paket Foto: Maesaroh |
Â
Ketika Belanja Daring Membuka Peluang Usaha
Meningkatnya belanja daring juga melahirkan peluang usaha baru di Pulau Breueh. Keterbatasan akses layanan keuangan membuat sebagian warga membutuhkan bantuan untuk membayar pesanan mereka.
Muslih melihat kebutuhan itu sebagai peluang. Ia membuka layanan pengisian pulsa dan paket data, transfer uang, serta bantuan pembayaran untuk belanja daring. Layanan serupa mulai menjamur di Pulau Aceh, yang dihuni sekitar 3.100 jiwa menurut data yang digunakan dalam laporan ini.
"Tiap hari ada saja yang datang. Kadang lima orang. Ada biaya tambahan tergantung (nilai) barang," ujarnya.
Penjual jasa pembayaran belanja online di Pulau Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Â
Barang yang paling banyak dipesan warga antara lain baju, sepatu, perlengkapan olahraga, dan kebutuhan rumah tangga. Menjelang Lebaran, pesanan semakin beragam, mulai dari toples hingga perlengkapan untuk menyambut hari raya.
Dia menjelaskan untuk paket senilai Rp 50.000-100.000 dia akan menambahkan biaya Rp 3.000 sedangkan jika di atas Rp 100.000 sebesar Rp 5.000 dan di atas Rp 150.000 dan di atasnya biasanya dienai fee Rp 15.000.
Jasa mentransfer paket ini memang bukan utama tapi ramai.
Dia mengatakan keberadaan jaringan seluler dan internet yang semakin kencang semakin memudahkan.
"Dulu sebelum 2019 susah sinyal sekarang sudah lebih kenceng" tuturnya.
Penjual jasa pembayaran belanja online di Pulau Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Bagi Muslih, layanan ini bukan hanya membantu warga berbelanja. Aktivitas tersebut juga menjadi sumber pendapatan tambahan. Dengan demikian, ekonomi digital tidak berhenti pada kemudahan membeli barang, tetapi turut membuka usaha baru di tengah masyarakat pulau.
Jasa layanan ini bahkan menjadi sumber pencaharian Husnaeni. Wanita berusia 36 tahun ini menjalankan bisnis untuk menambah penghasilan setelah kini menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya.
"Yah lumayanlah. Setiap hari ada aja. Kalau mau Lebaran bisa sehari 10 orang. Ada yang pesen piring sampai toples," ujarnya.
Husnaeni bercerita dia menggeluti bisnis ini sejak 2023 setelah jaringan internet lebih kencang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semua desa di Kecamatan Pulo Aceh, termasuk di Pulau Breuh sudah bisa menjangkau sinyal internet meskipun dengan tingkat kecepatan yang berbeda.
Pulau Breueh yang di berada di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu wilayah yang hancur paling parah karena diterjang Tsunami pada 26 Desember 2004.
Hampir 3.000 penduduk atau 70% pulau ini bahkan meninggal dan hilang karena bencana tsunami.
Bencana tersebut juga menghancurkan seluruh rumah dan fasilitas publik, termasuk listrik dan jaringan komunikasi.
Meski jaringan komunikasi sudah dibangun tetapi kekuatan sinyal selular masih rendah. Operator swasta masuk pada 2012 dan sinyal mulai menguat, meski banyak sudut Pulo Aceh masih menjadi blank spot.
Pada 2019, pemerintah daerah mendorong perluasan jaringan secara besar-besaran. BAKTI Komdigi mendirikan menara pemancar (BTS) di Desa Alue Raya.
Pulo Breueh, Aceh. (CNBC Indonesia/Maesaroh) Foto: (CNBC Indonesia/Maesaroh) |
Kini empat BTS berdiri di pulau itu. Pada 2022, BAKTI membuka 24 titik akses internet di Pulo Aceh, tersebar di sekolah-sekolah hingga kantor pemerintahan.
Menurut data Badan Pusat Statistik, kini seluruh desa di Kecamatan Pulo Aceh sudah terjangkau sinyal internet, meski kecepatannya berbeda-beda.
Laut Masih Memisahkan, Internet Mendekatkan
Bagi warga Pulau Breueh, berbelanja kini tidak lagi selalu berarti menyiapkan ongkos kapal, meninggalkan pekerjaan, dan menghabiskan waktu seharian di Banda Aceh. Ponsel membuka akses ke pasar yang lebih luas, sementara perahu menjadi penghubung terakhir yang membawa pesanan hingga ke pulau.
Data compas.co.id per Agustus 2026 penjualan online di Kabupaten Aceh Besar, termasuk di Pulau Breueh terdapat 49 penjual yang mencatatkan total penjualan sebanyak 2.179 unit, dengan pendapatan mencapai Rp206,6 juta. Capaian ini menunjukkan aktivitas perdagangan daring yang cukup besar di wilayah tersebut.
Sebagai catatan, Compas.co.id merupakan penyedia data e-commerce dengan mengambil data penjualan dari empat loka pasar terbesar Indonesia.
Perubahan belanja online mungkin terlihat kecil dari kota besar. Sebuah paket datang, pemiliknya mengambil, lalu kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, bagi warga yang dahulu harus menempuh perjalanan panjang menyebrangi lautan
untuk mendapatkan barang, kemudahan tersebut berarti waktu yang kembali, biaya yang berkurang, dan pilihan yang semakin banyak.
Di Dermaga Lampuyang, karung-karung paket terus datang bersama perahu dari seberang. Ada baju yang dinanti seorang siswi, suku cadang motor untuk seorang pelajar, dan sandal yang dipesan seorang ibu.
Barang-barang itu menyeberangi laut untuk sampai ke tangan pemiliknya. Bersamanya, ikut pula perubahan yang dibawa internet-serta ketulusan orang-orang yang membuat setiap paket tetap sampai, meski pemiliknya belum sempat datang menjemput.
(mae/mae)








