Biaya Hidup Mencekik! Cuma 28% Keluarga Jepang Mau Tambah Anak
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan biaya hidup yang kian besar membuat keluarga di Jepang semakin enggan menambah anak.
Survei Meiji Yasuda Life menunjukkan hanya 28,2% orang tua yang memiliki satu anak ingin memiliki anak kedua pada 2026, kurang dari separuh angka pada 2020.
Survei yang dilakukan pada September itu melibatkan orang tua dengan satu anak berusia 0-6 tahun. Hasilnya menjadi yang terendah sejak survei dimulai pada 2018.
Mayoritas responden yang enggan atau merasa sulit memiliki anak kedua menyebut kekhawatiran ekonomi sebagai penghalang utama.
Kondisi ini muncul ketika jumlah kelahiran Jepang terus merosot. Menurut data Kementerian Kesehatan Jepang, jumlah kelahiran pada 2025 turun menjadi 671.236, terendah selama 10 tahun berturut-turut.
Angka itu menyusut 2,2% dari 2024, meski penurunannya lebih landai dibandingkan penurunan sekitar 5% pada beberapa tahun sebelumnya.
Data kelahiran menunjukkan persoalan demografi Jepang masih berlanjut, sementara hasil survei keluarga memberi gambaran tentang salah satu tekanan yang mungkin memengaruhi keputusan memiliki anak: kemampuan ekonomi rumah tangga.
Namun, penurunan kelahiran tidak hanya disebabkan biaya hidup. Pemerintah Jepang juga menyoroti pendapatan rendah, kesulitan menemukan pasangan, serta tantangan menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak.
Makin Sedikit Orang Tua Ingin Punya Anak Kedua
Proporsi orang tua yang ingin memiliki anak kedua turun dari 56,9% pada 2020 menjadi 28,2% pada 2026. Artinya, porsinya menyusut lebih dari separuh dalam enam tahun.
Di antara orang tua yang tidak ingin atau merasa sulit memiliki anak kedua, sebanyak 54,5% mengkhawatirkan pendapatan pada masa depan. Angka itu meningkat 9 poin persentase dibandingkan survei tahun sebelumnya.
Meski demikian, keinginan memiliki anak belum sepenuhnya hilang. Sebanyak 66,4% responden mengatakan mereka dapat mempertimbangkan anak kedua jika kondisi ekonomi membaik.
Dari kelompok tersebut, 60,4% menyebut kenaikan pendapatan gabungan pasangan sebagai faktor yang dapat mengubah keputusan, sedangkan 22,9% berharap tekanan kenaikan harga mereda.
Tekanan harga masih menjadi persoalan di Jepang. Data resmi terbaru yang tersedia menunjukkan inflasi konsumen pada Agustus 2026 sebesar 1,9% secara tahunan.
Mengutip Japan Times, Gubernur Bank of Japan Kauzo Ueda mengatakan: "Inflasi yang mendasarinya saat ini sudah berada di kisaran 2%, dan kami tidak bisa membiarkannya meningkat lebih jauh ke depannya."
Sementara itu, Reuters melaporkan pada Oktober bahwa kenaikan biaya energi dan pelemahan yen kembali menimbulkan risiko tekanan harga bagi rumah tangga.
Angka inflasi yang lebih rendah tidak otomatis berarti biaya hidup kembali murah. Ketika harga kebutuhan sehari-hari sudah meningkat, keluarga tetap harus menanggung tingkat pengeluaran yang lebih tinggi.
Bagi orang tua yang mempertimbangkan anak kedua, kepastian pendapatan dan kemampuan membayar biaya pengasuhan menjadi bagian penting dari keputusan tersebut.
Biaya Membesarkan Anak Cetak Rekor
Biaya membesarkan anak di Jepang terus membebani keluarga. Meiji Yasuda Life menghitung rata-rata pengeluaran untuk membesarkan anak mencapai ¥43.356, atau sekitar Rp4,93 juta per bulan per anak (¥1=Rp113,70), rekor tertinggi dalam survei.
Pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan seperti makanan, kegiatan ekstrakurikuler, dan penitipan anak. Seiring meningkatnya biaya, sejumlah orang tua mengurangi pengeluaran untuk rekreasi dan perjalanan demi menghemat uang.
Ekonom Meiji Yasuda Life, Kazutaka Maeda, menilai masalahnya bukan semata-mata orang tua kehilangan keinginan untuk memiliki anak kedua, melainkan kesulitan mewujudkannya dalam kondisi ekonomi saat ini. Ia menyebut adanya kesenjangan antara keinginan keluarga dan kenyataan yang mereka hadapi.
Maeda menyarankan lingkungan yang membantu keluarga mengatasi hambatan memiliki anak kedua, termasuk menempatkan kedua anak di fasilitas penitipan yang sama dan menyediakan pengaturan kerja fleksibel seperti bekerja dari rumah.
(mae/mae)