Tak Ada Siswa Baru, Negara Ini Tutup 40 Sekolah TK dalam Setahun

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
16 October 2026 14:45
Ilustrasi anak belajar. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi anak belajar. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penurunan angka kelahiran dan semakin banyaknya perempuan yang menunda memiliki anak mulai berdampak serius pada sektor pendidikan anak usia dini di Hong Kong. Sebanyak 40 taman kanak-kanak tercatat ditutup pada tahun ini.

Laporan South China Morning Post (SCMP) menyebutkan jumlah taman kanak-kanak yang beroperasi di Hong Kong kini tersisa 930, turun dari sekitar 970 pada tahun ajaran sebelumnya.

Angka tersebut mencerminkan tekanan demografis yang semakin kuat. Dalam empat tahun ajaran sebelumnya, Hong Kong rata-rata kehilangan sekitar 20 taman kanak-kanak per tahun. Kini, jumlah penutupan sekolah meningkat dua kali lipat.

Penurunan jumlah murid menjadi salah satu faktor utama yang mengancam keberlangsungan sekolah-sekolah tersebut. Kondisi ini berkaitan erat dengan rendahnya jumlah bayi yang lahir beberapa tahun lalu, yang kini mulai memasuki usia taman kanak-kanak.

Pada 2022, Hong Kong hanya mencatat sekitar 32.500 kelahiran, menjadi salah satu angka terendah dalam sejarah pencatatan kelahiran di wilayah tersebut. Anak-anak yang lahir pada tahun itu mulai memasuki usia pendidikan prasekolah pada tahun ajaran 2025.

Dampaknya terlihat pada sejumlah lembaga pendidikan yang kesulitan mempertahankan jumlah murid. Salah satunya adalah Kentville Kindergarten, sekolah swasta ternama di kawasan Kowloon Tong, yang memutuskan tutup. Pihak sekolah menyebut rendahnya angka kelahiran, emigrasi keluarga muda, serta pensiunnya staf sebagai sejumlah faktor yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

Angka Kelahiran Rendah

Tantangan demografi Hong Kong tidak hanya tercermin dari menyusutnya jumlah kelahiran, tetapi juga perubahan pola pernikahan dan keputusan untuk memiliki anak.

Usia median perempuan saat melahirkan anak pertama dilaporkan mencapai rekor tertinggi. Pada saat yang sama, usia median untuk menikah pertama kali juga meningkat.

Data yang dikutip SCMP menunjukkan usia median pernikahan pertama bagi laki-laki mencapai 32 tahun, sedangkan perempuan 31,3 tahun. Pada 2000, angka tersebut masing-masing masih berada di kisaran 30 tahun untuk laki-laki dan 27,3 tahun untuk perempuan.

Tren ini berlangsung di tengah rendahnya angka kelahiran yang belum menunjukkan pemulihan berarti. Dalam periode Juli 2025 hingga Juni 2026, jumlah kelahiran di Hong Kong bahkan tercatat kurang dari 30.000 untuk pertama kalinya dalam rentang 12 bulan.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan pendidikan prasekolah. Selama jumlah bayi yang lahir terus menurun, sekolah-sekolah diperkirakan akan menghadapi persaingan lebih ketat untuk mendapatkan murid.

Bagi Hong Kong, persoalan ini bukan sekadar soal berkurangnya jumlah taman kanak-kanak. Penurunan kelahiran dan bertambahnya usia saat memulai keluarga juga menjadi tantangan demografi yang berpotensi memengaruhi berbagai sektor dalam jangka panjang.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kabut Asap Kepung Malaysia, Selangor hingga Melaka Tutup Sekolah


Most Popular
Features