5 Kebiasaan Sederhana Orangtua yang Buat Anak Merasa Dihargai

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
16 October 2026 09:15
Anak sedang membaca
Foto: Andrew Ebrahim via Unsplash
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Anak tidak selalu mengingat makanan yang disajikan di meja makan atau hadiah yang pernah diberikan orangtuanya. Namun, mereka cenderung mengingat bagaimana perasaan mereka saat bersama keluarga, termasuk apakah didengarkan, dipahami, dan diperlakukan dengan penuh perhatian.

Perasaan dihargai tidak harus dibangun melalui hadiah mahal atau pujian yang diberikan setiap saat. Justru, perhatian sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak merasa dirinya penting, diterima, dan memiliki tempat yang aman di dalam keluarga.

Sikap orangtua dalam keseharian juga berperan dalam membentuk rasa percaya diri serta cara anak memandang dirinya sendiri. Ketika anak merasa pendapat dan perasaannya dihormati, mereka akan lebih mudah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Dikutip dari Times of India, ada lima kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan orangtua untuk membuat anak merasa dihargai.

1. Tanyakan Hal-Hal Kecil, Bukan Hanya Peristiwa Besar

Pertanyaan seperti "Bagaimana sekolahmu hari ini?" memang dapat membuka percakapan. Namun, orang tua juga bisa menggali cerita yang lebih spesifik mengenai keseharian anak. Misalnya, tanyakan tentang gambar yang mereka buat, permainan yang dimainkan, atau ucapan lucu dari teman mereka.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa pengalaman sehari-hari anak merupakan sesuatu yang berharga untuk diketahui.

UNICEF menekankan pentingnya kegiatan berbicara dan mendengarkan sebagai bagian dari pola asuh positif. Ketika orang tua menunjukkan ketertarikan terhadap hal-hal kecil, anak dapat merasakan bahwa cerita dan pengalaman mereka memiliki arti.

2. Berikan Perhatian Penuh Selama Beberapa Menit

Anak tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam untuk merasa dekat dengan orang tua. Terkadang, beberapa menit perhatian tanpa gangguan ponsel sudah dapat menjadi momen yang bermakna.

Orang tua dapat duduk di dekat anak, menatap wajahnya ketika berbicara, dan membiarkan mereka menyelesaikan cerita sebelum memberikan nasihat.

Cerita tersebut mungkin tampak sepele bagi orang dewasa, seperti pensil yang patah atau pertengkaran kecil di tempat bermain. Namun, bagi anak, pengalaman itu bisa menjadi sesuatu yang penting.

UNICEF menyarankan praktik mendengarkan secara aktif, termasuk memberikan kontak mata dan respons penuh perhatian, untuk membantu anak merasa didengarkan dan terhubung dengan orang tua.

3. Hargai Usaha yang Sering Tidak Terlihat

Pujian seperti "Bagus sekali" terkadang terdengar terlalu umum apabila disampaikan berulang kali. Sebaliknya, apresiasi yang spesifik dapat memberikan makna lebih mendalam.

Orang tua bisa mengatakan, "Kamu tidak gampang menyerah, ya, meski puzzle itu mulai sulit," daripada hanya memuji hasil akhirnya.

Ucapan tersebut membantu anak memahami perilaku apa yang diperhatikan dan dihargai oleh orang dewasa. Pesan yang diterima pun bukan semata-mata tentang keberhasilan, melainkan bahwa usaha mereka benar-benar terlihat dan diakui.

4. Pertahankan Satu Ritual Kecil yang Menjadi Milik Anak

Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menciptakan rasa aman dan kedekatan emosional bagi anak.

Ritual tersebut bisa berupa pertanyaan sebelum tidur, berjalan-jalan pada Minggu pagi, berjabat tangan dengan gaya khusus, atau mengobrol selama lima menit sebelum lampu kamar dimatikan.

Hal yang membuat ritual ini bermakna adalah sifatnya yang dapat diprediksi. Anak belajar bahwa ada waktu tertentu dalam keseharian mereka yang secara khusus menjadi ruang untuk terhubung dengan orang tua.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi kenangan emosional yang bertahan lebih lama daripada aktivitas besar yang hanya sesekali dilakukan.

5. Libatkan Anak dalam Kehidupan Keluarga

Memberikan kesempatan kepada anak untuk berkontribusi dalam kehidupan keluarga juga dapat menumbuhkan perasaan dihargai.

Orang tua dapat meminta pendapat mereka ketika menentukan menu makan malam, menata rumah, atau merencanakan kegiatan akhir pekan. Tanggung jawab sederhana yang sesuai dengan usia juga bisa diberikan.

Pelibatan ini bukan berarti anak memiliki kewenangan lebih besar daripada orang dewasa. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan, pendapat, dan usaha mereka memiliki tempat dalam keluarga.

Anak dapat belajar bahwa mereka bukan sekadar penerima aturan, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang turut berkontribusi.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Stop Bilang Kalimat Toksik Mental Miskin ke Anak, Ini Penggantinya


Most Popular
Features