Investor Ritel Kuasai Bursa RI, Berkah atau Petaka?
Jakarta, CNBC Indonesia - Investor ritel semakin menguasai aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lebih dari separuh nilai transaksi harian bursa berasal dari kelompok investor ini, meskipun dari sisi kepemilikan saham, investor institusi masih menguasai porsi yang jauh lebih besar.
Berdasarkan data BEI, kontribusi investor ritel mencapai 55% dari rata-rata nilai transaksi harian pada September 2026. Dominasi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, bertambahnya jumlah investor tidak serta-merta membuat nilai transaksi ritel ikut meningkat. Di balik besarnya kontribusi tersebut, aktivitas perdagangan ritel secara nominal justru mengalami penurunan dibandingkan awal tahun.
Investor Terus Bertambah, Ritel Aktif di Bursa
Jumlah investor pasar modal Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor mencapai 32,17 juta Single Investor Identification (SID) per September 2026.
Angka tersebut meningkat dari 20,32 juta SID pada akhir 2025, bahkan jauh melampaui posisi 2020 yang masih sebanyak 3,88 juta SID.
Pertumbuhan juga terlihat pada kategori saham dan surat berharga lainnya. Jumlah investornya mencapai 10,25 juta SID pada September 2026, meningkat 1,13% secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,05% pada Agustus.
Seiring bertambahnya jumlah investor, kelompok ritel tetap memegang peran terbesar dalam aktivitas perdagangan saham di BEI.
Sepanjang Januari hingga September 2026, kontribusi ritel terhadap rata-rata nilai transaksi harian konsisten berada di atas kelompok investor lainnya.
Pada Januari, porsinya mencapai 58%. Meski sedikit berkurang menjadi 55% pada September, angka tersebut masih jauh melampaui kontribusi institusi keuangan sebesar 22%, perusahaan sekuritas dan reksa dana 13%, korporasi 7%, serta institusi lainnya 3%.
Meski masih mendominasi dari sisi persentase, nilai transaksi ritel dalam rupiah justru jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun.
Berdasarkan data BEI yang diolah CNBC Indonesia, rata-rata nilai transaksi harian investor ritel diperkirakan mencapai Rp20,25 triliun pada Januari 2026, dengan kontribusi sebesar 58% dari total transaksi harian bursa yang mencapai Rp34,91 triliun.
Namun, memasuki September, nilainya menyusut menjadi sekitar Rp8,22 triliun per hari, seiring turunnya rata-rata nilai transaksi harian bursa menjadi Rp14,94 triliun. Dengan porsi ritel sebesar 55%, nilai transaksi kelompok ini tercatat turun sekitar 59,4% dibandingkan Januari.
Besarnya kontribusi ritel dalam perdagangan saham ternyata tidak diikuti porsi kepemilikan yang sama besar.
Mengacu pada statistik KSEI per akhir September 2026, investor individu hanya memegang 18,10% dari total nilai aset saham yang tercatat di C-BEST, sedangkan 81,90% sisanya dikuasai investor institusi.
Meski demikian, kedua angka tersebut mengukur hal berbeda. Data BEI mencerminkan aktivitas transaksi, sementara KSEI menunjukkan nilai kepemilikan saham. Klasifikasi investor ritel dan individu dalam kedua laporan juga tidak sepenuhnya sama.
Saham-Saham yang Ramai di Kalangan Investor Ritel
Besarnya partisipasi investor ritel di bursa juga menarik untuk dilihat dari saham-saham yang aktif diperdagangkan melalui sekuritas yang banyak digunakan kelompok investor tersebut.
Berdasarkan data transaksi dari sejumlah sekuritas yang banyak digunakan ritel, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan nilai transaksi terbesar mencapai Rp42 triliun. Berikutnya terdapat PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp29,9 triliun dan PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp26,5 triliun.
Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membukukan nilai transaksi Rp22,3 triliun, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp20,8 triliun.
Nilai tersebut mencakup transaksi pembelian dan penjualan melalui sekuritas yang diamati, sehingga tidak secara langsung mencerminkan besarnya kepemilikan saham investor ritel.
Ritel Makin Ramai, Apa Dampaknya bagi Pasar Saham?
Meningkatnya jumlah investor ritel turut membawa peluang sekaligus tantangan bagi pasar saham Indonesia. Semakin luasnya basis investor dapat mendorong aktivitas perdagangan, meningkatkan likuiditas, serta berpotensi mengurangi ketergantungan pasar terhadap kelompok investor tertentu, termasuk investor asing.
Namun, tingginya partisipasi ritel juga memiliki risiko, terutama bagi investor yang belum memiliki pemahaman investasi memadai. Keputusan yang dipengaruhi tren pasar, spekulasi, maupun perilaku ikut-ikutan (herding behavior) berpotensi memperbesar fluktuasi harga, khususnya pada saham dengan likuiditas terbatas.
Meski demikian, volatilitas tidak semata-mata disebabkan investor ritel, melainkan juga dipengaruhi aktivitas institusi dan kondisi pasar. Karena itu, pertumbuhan jumlah investor perlu diimbangi peningkatan literasi keuangan dan pengelolaan risiko agar dapat mendukung perkembangan pasar saham yang lebih sehat.
(mae/mae)