MARKET DATA

Mau Tahu Masa Depan? Jangan Percaya Harga Saham

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
04 June 2026 17:30
Ilustrasi IHSG
Foto: Pexels/Anna Nekrashevich

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama puluhan tahun, teori "efficient market" atau pasar efisien diyakini menjadi fondasi utama dunia investasi. Teori ini menganggap harga saham selalu mencerminkan seluruh informasi dan kondisi fundamental perusahaan secara akurat. Namun kondisi pasar saat ini dinilai justru menunjukkan hal sebaliknya.

Fenomena saham meme seperti GameStop hingga lonjakan saham teknologi seperti NVIDIA memperlihatkan harga saham kini lebih banyak digerakkan arus dana investor dibanding faktor fundamental. Reli harga bisa terus terjadi meski valuasi sudah sangat mahal.

Jika harga saham benar-benar mencerminkan seluruh informasi yang tersedia, pasar seharusnya menjadi salah satu alat peramal masa depan terbaik yang pernah diciptakan.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian.

Saham GameStop, peritel video game yang menjadi simbol demam investor ritel pada 2020, hingga kini masih bernilai lebih dari 20 kali lipat dibanding sebelum euforia tersebut dimulai. Dalam periode yang sama, kinerjanya kurang lebih menyamai Nvidia, salah satu pemenang terbesar dari ledakan AI.

Padahal cerita keduanya nyaris berlawanan. Nvidia ditopang pertumbuhan bisnis yang nyata. GameStop lebih banyak ditopang antusiasme investor.

Kontras itu memunculkan pertanyaan: apakah harga saham benar-benar mencerminkan nilai fundamental, atau ada kekuatan lain yang ikut menggerakkannya?

Teori yang Dominan

Selama puluhan tahun, jawaban paling berpengaruh datang dari Efficient Market Hypothesis (EMH) yang dipopulerkan ekonom peraih Nobel, Eugene Fama.

Intinya sederhana. Karena jutaan investor terus mencari informasi dan bereaksi terhadap berita baru, harga aset diyakini segera memasukkan seluruh informasi yang tersedia. Dalam kondisi seperti itu, harga saham menjadi perkiraan terbaik atas nilai perusahaan dan prospek masa depannya.

Bagi banyak ekonom, pasar bukan hanya tempat transaksi. Ia juga mesin pengolah informasi.

Harga Tidak Selalu Mengikuti Fundamental

Masalahnya, pasar sering bergerak jauh lebih liar daripada yang dijelaskan teori.

GameStop menjadi contoh yang sulit diabaikan. Sulit menjelaskan mengapa perusahaan yang bisnis intinya terus menyusut masih mempertahankan valuasi jauh di atas level sebelum gelombang saham meme muncul.

 

Robert Shiller sudah mengangkat persoalan serupa beberapa dekade lalu. Dalam penelitian mengenai pasar obligasi pada 1979 dan pasar saham pada 1981, ekonom yang kemudian memenangkan Nobel pada 2013 itu menemukan bahwa harga aset bergerak jauh lebih volatil dibanding perubahan fundamental yang mendasarinya.

Jika investor hanya menghitung arus kas dan dividen masa depan secara rasional, fluktuasi harga seharusnya tidak sebesar itu.

Kesimpulannya tidak berarti informasi tidak penting. Hanya saja, informasi tampaknya bukan satu-satunya penggerak pasar.

Ketika Uang Menjadi Penggerak

Di sinilah teori yang lebih baru mulai mendapat perhatian.

Xavier Gabaix dari Harvard University dan Ralph Koijen dari University of Chicago mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai Inelastic Markets Hypothesis. Gagasannya sederhana: harga saham tidak hanya dipengaruhi ekspektasi laba, tetapi juga arus modal yang masuk dan keluar dari pasar.

 

Temuan mereka cukup mencolok. Setiap US$1 dana baru yang masuk ke pasar saham diperkirakan dapat menambah nilai pasar secara keseluruhan sebesar US$3 hingga US$8.

Dengan kata lain, harga tidak selalu naik karena prospek bisnis membaik. Kadang harga naik karena lebih banyak uang yang mengejar jumlah saham yang sama.

Siapa yang Mau Menjual?

Untuk menjelaskan mekanismenya, Gabaix dan Koijen membagi pasar ke dalam tiga kelompok investor:

  1. Pemburu momentum, yang cenderung membeli ketika harga naik.

  2. fixed-allocator, misalnya portofolio 60% saham dan 40% obligasi.

  3. Value investor, yang biasanya baru masuk ketika harga sudah cukup murah.

Ketika dana baru masuk ke pasar, tidak banyak pihak yang langsung bersedia menjual. Pemburu momentum justru ingin membeli lebih banyak. Fixed-allocator baru menjual setelah harga naik. Value investor sering memilih menunggu.

Akibatnya, arus modal baru dapat mendorong harga naik bahkan tanpa perubahan fundamental yang berarti.

Membeli Karena Harus

Dana pensiun menerima setoran setiap bulan. Investor individu membeli saham setiap kali menerima gaji. Banyak institusi juga harus berinvestasi untuk memenuhi target imbal hasil atau mandat tertentu.

Mereka membeli bukan karena baru menemukan informasi bahwa laba perusahaan akan melonjak tahun depan.

Mereka membeli karena memang harus membeli.

Namun transaksi itu tetap memengaruhi harga.

Membaca Pasar dengan Lebih Hati-Hati

Selama ini indeks saham sering diperlakukan sebagai alat untuk membaca masa depan ekonomi. Ketika pasar naik, ekonomi dianggap membaik. Ketika pasar turun, kekhawatiran mulai muncul.

Tetapi jika harga juga dipengaruhi oleh likuiditas, arus modal, dan struktur pasar, hubungan tersebut menjadi tidak sesederhana itu.

Pasar tetap mengandung informasi. Hanya saja informasi itu bercampur dengan banyak faktor lain yang tidak selalu berkaitan dengan fundamental.

Mesin Peramal yang Tidak Sempurna

Investor sudah lama memperlakukan pasar saham seperti mesin peramal masa depan.

Kadang mesin itu bekerja sangat baik. Kadang tidak.

Yang semakin jelas adalah bahwa harga saham tidak hanya mencerminkan apa yang dipikirkan investor tentang masa depan. Ia juga mencerminkan siapa yang sedang membeli, siapa yang enggan menjual, dan berapa banyak uang yang sedang beredar.

Pasar saham tetap berguna. Namun seperti banyak peramal lainnya, ia tidak selalu melihat masa depan sejelas yang sering dibayangkan.



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular