RI di Bibir Jurang! IHSG Rawan ke Bawah 5.000, Rupiah Menanti Jurus BI
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan datang dari aksi jual saham-saham teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kembali naiknya harga minyak dunia.
Indeks S&P 500 ditutup turun 1,09% ke level 7.659,44, sementara Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 2,14% ke posisi 26.140,03.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) juga terkoreksi 175,28 poin atau 0,34% ke level 52.002,41.
Pelemahan tersebut membuat S&P 500 dan Nasdaq ditutup di bawah rata-rata pergerakan harga 50 hari terakhir. Sementara itu, indeks volatilitas Cboe atau VIX, yang sering digunakan untuk mengukur kekhawatiran investor, naik menembus level 22 untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
VIX Foto: CNBC International |
Tekanan terbesar masih datang dari saham-saham semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) turun 3% pada Jumat, terutama akibat pelemahan saham Micron Technology, Advanced Micro Devices (AMD), dan Sandisk.
Saham-saham produsen cip memang sedang menghadapi tekanan setelah muncul kekhawatiran mengenai persaingan dari China.
Sepanjang pekan lalu, ETF SMH bahkan anjlok 10%, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak April 2025.
Pelemahan saham teknologi dan AI membuat Wall Street mencatat kinerja mingguan yang beragam. S&P 500 turun sekitar 2% sepanjang pekan lalu, sedangkan Nasdaq merosot lebih dari 4%, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak Juni 2026.
Sebaliknya, Dow Jones masih mampu menguat 0,7% secara mingguan.
Selain persaingan dari China, investor juga mulai khawatir terhadap besarnya utang yang digunakan perusahaan teknologi untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI.
Salah satu perusahaan yang menjadi perhatian adalah CoreWeave, penyedia infrastruktur komputasi AI yang total utangnya sudah melampaui US$51 miliar.
Saham CoreWeave anjlok hampir 12% pada perdagangan Jumat, sehingga total pelemahannya sepanjang pekan mencapai 25%.
Meski demikian, Chief Investment Officer Angeles Investments Michael Rosen menilai kondisi tersebut belum menjadi masalah besar bagi sistem keuangan.
"Pertanyaannya adalah, apakah ini merupakan masalah sistemik?" kata Rosen, dikutip dari CNBC International.
"Penerbitan utang yang meningkat jelas merupakan sesuatu yang perlu diamati, terus dipantau, dan menjadi perhatian jika mencapai tingkat yang berlebihan. Namun, saat ini kita masih sangat jauh dari kondisi tersebut," lanjutnya.
Di tengah tekanan saham teknologi, sektor energi justru bergerak menguat. Saham Chevron menjadi salah satu penopang yang membantu membatasi penurunan Dow Jones.
Penguatan sektor energi sejalan dengan kembali melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, serta Rusia dan Ukraina.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 3,51% menjadi US$101,41 per barel, sementara Brent menguat 3,72% ke level US$109,86 per barel.
Lonjakan harga minyak ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi AS, yang sebelumnya sudah berada di level tinggi akibat dampak perang AS-Iran.
Data inflasi harga produsen AS yang diumumkan pekan lalu mencatat kenaikan terbesar sejak 2022. Sementara inflasi konsumen masih berada jauh di atas target bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali berhati-hati dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya berbicara dalam sebuah acara International Monetary Fund (IMF) di Bangkok. Meski tidak memberikan komentar langsung mengenai peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, pasar melihat sikap tersebut sebagai sinyal bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan bunga pada pertemuan terdekat.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sebesar 82% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.
(evw/evw)