Pekan Depan Tegang: Ada Pertemuan Genting IMF, Pidato Fed - Inflasi AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah agenda dan data penting akan dirilis pekan depan. Data-data ini akan menjadi penggerak sentiment pasar keuangan global dan dunia.
Salah satu agenda terbesar di dunia adalah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand.
Data penting yang akan dirilis adalah inflasi China, neraca perdagangan China, inflasi Amerika Serikat (AS) hingga pidato chairman The Fed Kevin Warsh.
Berikut beberapa agenda dan data penting yang akan dikeluarkan pekan depan 12-17 Oktober 2026:
1. Pertemuan IMF
Pertemuan IMF akan digelar di Bangkok pada 12-18 Oktober 2026.
Pertemuan ini digelar di tengah tingginya biaya energi, utang publik yang mencapai rekor, gejolak pasar obligasi, dan kenaikan suku bunga.
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia mengusung tema resmi "Thailand's New Horizons: Empowering People, Building Resilience" atau Cakrawala Baru Thailand: Memberdayakan Masyarakat, Membangun Ketahanan.
Sejumlah isu diperkirakan akan menjadi pembahasan pada perttemuan pekan depan, antara lain:
- Prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
- Stabilitas keuangan global dan kondisi pasar keuangan.
- Pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan inklusif.
- Penciptaan lapangan kerja dan tantangan pembangunan.
- Peran investasi swasta dalam mendorong pembangunan dan infrastruktur.
Pertemuan ini akan dihadiri para menteri keuangan, gubernur bank sentral, pemimpin lembaga internasional, pelaku bisnis, serta perwakilan masyarakat sipil dari berbagai negara.
2. Inflasi Konsumen dan Produsen China
China akan mengumumkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode September 2026 pada Rabu (14/10/2026).
Sebagai catatan, IHK China naik atau mengalami inflasi secara tahunan sebesar 0,8% pada Agustus 2026, dari 0,5% pada Juli yang merupakan level terendah dalam enam bulan.
Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan biaya transportasi, pakaian, layanan kesehatan, serta pendidikan, serta biaya perumahan.
Di sisi pangan, harga turun selama lima bulan berturut-turut.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, meningkat menjadi 1,0% secara tahunan dari 0,9% pada Juli.
Secara bulanan, harga konsumen naik 0,4% pada Agustus 2026, melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3% dan berbalik dari deflasi 0,1% pada Juli.
Pada hari yang sama, China juga akan mengumumkan data inflasi produsen untuk September 2026.
Sebagai catatan, inflasi produsen atau PPI China meningkat menjadi 3,8% secara tahunan pada Agustus 2026, naik dari 3,5% pada Juli yang merupakan level terendah dalam tiga bulan. Angka ini juga melampaui perkiraan pasar sebesar 3,7%.
Kenaikan tersebut terjadi ketika harga energi terus meningkat di tengah guncangan harga minyak global akibat gangguan di Selat Hormuz.
Secara bulanan, harga produsen naik 0,4%, berbalik dari penurunan 0,7% pada Juli. Dalam delapan bulan pertama 2026, harga produsen meningkat 2,0%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,8% pada periode sebelumnya.
Â
Bagi Indonesia, perkembangan inflasi konsumen dan produsen China mengingat China adalah mesin pertumbuhan ekonomi di Asia. Jika konsumsi di China meningkat maka ini bisa menjadi bagi Asia.
3. Neraca dagang China
Pada hari yang sama, Rabu (14/10/2026), China juga akan mengumumkan data perdagangan September 2026. Data ini sangat penting bagi Indonesia mengingat Tiongkok adalah mitra dagang terbesar buat Indonesia.
Jika impor China naik maka ada harapan peningkatan permintaan barang dari Indonesia.
Sebagai catatan, surplus perdagangan China melebar menjadi US$119,09 miliar pada Agustus 2026, naik dari US$101,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor China melonjak 25% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$401,44 miliar, setelah tumbuh hampir 24% pada Juli. Peningkatan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global yang terus mendorong perdagangan di Asia.
Sementara itu, impor China meningkat 28,2% menjadi US$282,36 miliar. Angka ini sedikit di bawah perkiraan pasar, tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 27,5% pada Juli.
4. Inflasi Amerika Serikat
Dunia menunggu data penting dari AS pada Rabu (14/10/2026) yakni inflasi September 2026 Data ini menjadi salah satu pertimbangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Jika inflasi naik maka The Fed diperkirakan akan segera kembali mengerek suku bunga.
Sebagai catatan, inflasi tahunan AS pada Agustus 2026 bertahan di 3,4%, sama seperti Juli dan sesuai perkiraan pasar.
Secara bulanan, inflasi AS naik 0,4%, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan terutama dipicu harga bensin.
Sementara itu, inflasi inti (core CPI) naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari kenaikan 0,2% pada Juli dan perkiraan pasar. Namun, secara tahunan, inflasi inti melambat menjadi 2,4% dari 2,5%, terendah sejak Maret 2021.
5. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Agustus 2026
Pada Kamis (15/10/2026), Bank Indonesia aakn mengumumkan data Utang Luar Negeri (ULN) untuk Agustus 2026.
Sebagai catatan, utang RII pada Juli 2026 tercatat sebesar US$454,8 miliar, naik 4,9% secara tahunan (yoy), dari US$454,5 miliar pada Juni 2026.
ULN pemerintah mencapai US$218,4 miliar, tumbuh 3,2% yoy. Sementara itu, ULN swasta turun 1,2% yoy menjadi US$194,5 miliar.
6. Inflasi produsen AS
Pada Kamis (15/10.2026), AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) untuk September 2026.
Sebagai catatan, inflasi PPI naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga barang, termasuk harga solar.
Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4% di Agustus 2026 dari 4,8% pada Juli, terutama didorong kenaikan biaya transportasi.
Adapun inflasi produsen inti (core PPI), yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dan 4,6% secara tahunan. Angka bulanan tersebut melambat dari kenaikan 0,3% pada Juli, sedangkan angka tahunan meningkat dari 4,3%.
7. Pidato pejabat The Fed
Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memiliki sejumlah agenda penting sepanjang Oktober 2026. Salah satu yang paling dinantikan pasar adalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 Oktober 2026, yang akan diikuti konferensi pers.
Selain rapat kebijakan moneter, agenda The Fed mencakup pidato dan diskusi pejabat bank sentral, serta publikasi sejumlah data ekonomi yang berkaitan dengan aktivitas industri, perbankan, suku bunga, dan nilai tukar.
Pada 14 Oktober, Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle W. Bowman, dijadwalkan mengikuti diskusi di Bangkok, Thailand, dalam rangkaian IIF Annual Membership Summit. Bowman juga dijadwalkan berpidato dalam Bangkok Economic Festival 2026.
Sehari kemudian, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva dalam sesi fireside chat di Bangkok.
Agenda utama berikutnya adalah rapat FOMC pada 27-28 Oktober. Pada 28 Oktober, The Fed juga dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 14.30 waktu setempat sesuai jadwal resmi.
Sepanjang periode tersebut, The Fed turut menerbitkan berbagai laporan rutin, antara lain data produksi industri dan utilisasi kapasitas, aset dan liabilitas bank komersial, nilai tukar valuta asing, serta jumlah uang beredar.
Berikut sejumlah agenda penting The Fed pada Oktober 2026:
- 14 Oktober: Diskusi dan pidato Michelle W. Bowman serta publikasi Beige Book.
- 15 Oktober: Diskusi Kevin Warsh bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di pertemuan IMF Bangkok
- 16 Oktober: Publikasi data produksi industri dan utilisasi kapasitas.
Rangkaian agenda tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan pejabat The Fed terhadap kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
8. Klaim Pengangguran AS
AS akan mengumumkan data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 10 Oktober 2026.
Sebagai catatan, jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun 2.000 menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 200.000 dan menjadi yang terendah sejak pertengahan Juli, ketika klaim mencapai 189.000.
Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan naik 17.000 menjadi 1,716 juta. Meski meningkat, angka tersebut masih mendekati level terendah dalam lebih dari tiga tahun yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, sejalan dengan pandangan Federal Reserve (The Fed) bahwa kondisi ketenagakerjaan tetap mendukung.