MARKET DATA

Mata Uang Asia 'Menang' Lawan Dolar AS, Rupiah Ikut Menguat Tipis

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
08 October 2026 09:44
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Pelemahan indeks dolar memberi ruang bagi hampir seluruh mata uang kawasan untuk bergerak di zona hijau pada pagi ini.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, sembilan dari 10 mata uang Asia yang dipantau mencatat penguatan terhadap dolar AS. Hanya peso Filipina yang masih bergerak melemah.

Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar dengan apresiasi 0,15% ke KRW1.337,1/US$. Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,13% ke JPY157,83/US$.

Baht Thailand menguat 0,06% ke THB33,6/US$, sementara dong Vietnam dan ringgit Malaysia masing-masing terapresiasi 0,05% ke VND25.975/US$ dan MYR4,084/US$.

Yuan China menguat 0,03% ke CNY6,7028/US$, diikuti dolar Singapura yang naik 0,02% ke SGD1,2793/US$.

Rupiah dan dolar Taiwan sama-sama mencatat penguatan 0,01%, masing-masing ke level Rp17.870/US$ dan TWD31,847/US$.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang yang melemah dengan depresiasi 0,01% ke PHP62,677/US$.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,11% ke level 102,142.

Meski terkoreksi pada perdagangan Asia pagi ini, dolar masih bertahan dekat level tertinggi dalam sekitar 18 bulan. Mengutip Reuters, DXY berada di kisaran 102,23 setelah menguat 0,3% pada perdagangan Rabu.

Kekuatan greenback masih ditopang oleh risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September yang menunjukkan nada kebijakan relatif hawkish. Risalah tersebut memperlihatkan sebagian besar pembuat kebijakan masih menilai pengetatan lanjutan sebagai langkah yang tepat, sementara hampir seluruh peserta melihat risiko inflasi masih condong ke atas.

"Risalah FOMC memperkuat nada hawkish yang menyertai kenaikan suku bunga The Fed pada September, dengan sebagian besar peserta masih menilai pengetatan lebih lanjut sebagai langkah yang tepat dan hampir seluruhnya melihat risiko inflasi masih condong ke atas," tulis analis Westpac, dikutip dari Reuters.

Meski demikian, risalah tersebut belum banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap pertemuan The Fed akhir bulan ini. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan yang berakhir 28 Oktober masih berada di sekitar 19%.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini menunjukkan koreksi terbatas terhadap kekuatan dolar yang sebelumnya sudah cukup tinggi. Dengan DXY masih berada dekat level puncak dalam 18 bulan, perhatian pasar selanjutnya tetap tertuju pada perkembangan inflasi AS dan sinyal kebijakan The Fed untuk menilai apakah penguatan dolar masih berlanjut dalam beberapa sesi ke depan.

(haa/haa)



Most Popular