Trump Janji Tak Serang Iran, Suahasil Bakal Buka-Bukaan APBN Hari Ini
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (8/10/2026).
Indeks Nasdaq merosot tajam setelah informasi terbaru mengenai OpenAI memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,25% ke level 27.193,34. Indeks S&P 500 juga melemah 0,47% ke posisi 7.765,36. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average naik 51,77 poin atau 0,1% menjadi 51.231,64.
Tekanan terhadap saham teknologi terjadi setelah pendapatan tahunan yang disetahunkan (annualized revenue) OpenAI dilaporkan US$20 miliar lebih rendah dibandingkan angka yang sebelumnya diindikasikan perusahaan.
Saham Oracle merosot lebih dari 5%. Sementara itu, saham Nvidia turun hampir 3% dan Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi hampir 4%.
Sentimen pasar semakin tertekan oleh lonjakan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin membuat kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang. AS juga dilaporkan tengah mempersiapkan serangan udara besar-besaran di Timur Tengah.
Namun, Trump kemudian menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada awal November mendatang. Pernyataan tersebut mendorong harga minyak turun dari level tertingginya.
Harga minyak mentah Brent naik 4,07% menjadi US$104,28 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,64% dan ditutup pada US$91,49 per barel.
Imbal Hasil Obligasi AS Mulai Turun
Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah surat utang tenor 10 tahun dan 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun terakhir pada pekan ini.
Pada perdagangan Kamis, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227%. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun melemah 6 basis poin ke level 5,601%.
Penurunan tersebut terjadi setelah lelang obligasi Treasury tenor 30 tahun mencatat permintaan yang solid.
Ross Mayfield, ahli strategi investasi Baird, mengatakan tekanan inflasi yang terutama dipicu oleh sektor energi telah mengubah prospek kebijakan The Federal Reserve (The Fed) sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.
Menurutnya, jika AS dan Iran mencapai kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan secara signifikan, harga minyak berpotensi turun dari US$90 menjadi US$70 per barel. Kondisi tersebut dapat mendorong imbal hasil obligasi turun secara berarti.
Lonjakan harga energi dan kenaikan imbal hasil obligasi belakangan memicu volatilitas di pasar saham. Investor khawatir harga energi yang tinggi akan mempertahankan inflasi pada level tinggi dan memaksa The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Meski pasar saham dinilai cukup tangguh menghadapi tekanan tersebut, Mayfield memperingatkan bahwa kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi jangka panjang dapat menciptakan tekanan yang lebih besar bagi saham.
Ia memperkirakan imbal hasil obligasi berpotensi stabil pada kisaran 5%-6%.
"Kita sedang berada dalam proses penyesuaian pasar terhadap tingkat imbal hasil yang baru ini," ujar Mayfield, dikutip dari CNBC International.
Ia menambahkan, imbal hasil yang lebih tinggi dapat mencerminkan pertumbuhan nominal ekonomi yang lebih kuat sekaligus inflasi yang sedikit lebih tinggi.
Jika kondisi tersebut berlanjut, era suku bunga tinggi lebih lama atau kembali ke tingkat suku bunga yang lebih normal kemungkinan akan bertahan, kecuali terjadi resesi besar yang memaksa The Fed memangkas suku bunga secara agresif.
(gls/gls)