Warga RI Makin Sedikit Makan Beras, Produksi Justru Melonjak
Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi beras per kapita di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, produksi beras nasional justru meningkat pada 2025 hingga melampaui kebutuhan konsumsi dan mencatat surplus.
Dalam publikasi Ringkasan Eksekutif Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata konsumsi beras sebesar 6,26 kilogram per kapita sebulan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka tersebut turun 3,02% dibandingkan Maret 2025, ketika konsumsinya mencapai 6,45 kilogram.
Penurunan tersebut melanjutkan tren sejak 2021. Berdasarkan seri publikasi yang sama, konsumsi beras berkurang dari 6,70 kilogram per kapita sebulan pada Maret 2021 menjadi 6,26 kilogram pada Maret 2026, atau sekitar 6,6% dalam lima tahun.
Penurunan juga terjadi di perkotaan maupun perdesaan. Pada Maret 2026, konsumsinya masing-masing mencapai 5,84 kilogram dan 6,89 kilogram per kapita sebulan, dibandingkan 6,04 kilogram dan 7,07 kilogram setahun sebelumnya.
Belanja Makanan Siap Santap Meningkat
Penurunan konsumsi beras terjadi seiring perubahan pola makan masyarakat. BPS mengindikasikan penduduk di perkotaan maupun perdesaan mulai mengurangi porsi beras dalam menu sehari-hari.
Di sisi lain, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi justru meningkat Rp28.801, dari Rp248.501 per kapita sebulan pada Maret 2025 menjadi Rp277.302 pada Maret 2026.
Menurut BPS, kondisi ini mencerminkan kecenderungan masyarakat yang semakin mengutamakan kemudahan dan efisiensi waktu.
Perubahan pola konsumsi juga terlihat dari asupan gizi masyarakat. BPS mencatat rata-rata konsumsi kalori turun 0,29% dari 2.073,43 kilokalori per kapita sehari pada Maret 2025 menjadi 2.067,36 kilokalori pada Maret 2026. Sebaliknya, konsumsi protein meningkat 0,13% dari 62,78 gram menjadi 62,86 gram per kapita sehari pada periode yang sama.
Pengeluaran untuk telur dan susu juga meningkat 12,46% secara tahunan menjadi Rp44.915 per kapita sebulan, tertinggi di antara kelompok makanan.
BPS menilai kenaikan ini dapat mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap pemenuhan protein hewani, meski turut dipengaruhi faktor harga.
Meski demikian, kenaikan konsumsi makanan jadi tidak otomatis berarti masyarakat semakin jarang makan nasi. Sebagian konsumsi beras dapat bergeser ke makanan siap santap, sehingga kebutuhan beras secara keseluruhan belum tentu menurun.
Konsumsi Turun, Pengeluaran Beras Justru Naik
Di tengah penurunan konsumsi, pengeluaran masyarakat untuk beras justru meningkat. BPS mencatat rata-rata pengeluaran beras naik 3,23% dari Rp19.689 di hasil survey Maret 2025 menjadi Rp20.324 per kapita seminggu pada Maret 2026.
Pada saat yang bersamaan, harga beras mengalami penguatan. Mengutip Statistik Terkini Ekonomi Pertanian, rata-rata harga beras di tingkat perdagangan besar Indonesia meningkat 4,81% secara tahunan, dari Rp13.757 menjadi Rp14.419 per kilogram pada Maret 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tangga mengeluarkan lebih banyak uang untuk beras meskipun jumlah yang dikonsumsi lebih sedikit. Hal ini mengindikasikan meningkatnya beban pengeluaran beras yang perlu dicermati dari sisi harga dan daya beli.
Tekanan tersebut terutama relevan bagi kelompok berpengeluaran rendah.
Berdasarkan BPS, kelompok 20% penduduk dengan pengeluaran terendah mengalokasikan 18,94% belanja pangannya untuk padi-padian, dibandingkan hanya 7,50% pada kelompok 20% teratas.
Dengan demikian, penurunan konsumsi beras tidak dapat semata-mata diartikan sebagai perubahan selera makan. Faktor keterjangkauan harga juga perlu diperhatikan, meskipun besarnya pengaruh terhadap penurunan konsumsi belum dapat dipastikan dari data tersebut.
Indonesia Surplus Jutaan Ton Beras, Tapi...
Di tengah tren penurunan konsumsi beras per kapita, produksi beras nasional justru meningkat pada 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29% dibandingkan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.
Kenaikan tersebut sejalan dengan perluasan panen padi menjadi 11,32 juta hektare, meningkat 12,69% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) juga naik menjadi 60,21 juta ton.
Dengan produksi yang meningkat, Indonesia mencatat surplus beras pada 2025. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menghitung surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi mencapai sekitar 3,52 juta ton, berdasarkan neraca pangan nasional.
Memasuki 2026, kondisi surplus masih berlanjut. Bapanas mencatat produksi beras sepanjang Januari-Juni diperkirakan mencapai 19,27 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 15,48 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 3,79 juta ton pada semester pertama.
Meski demikian, surplus produksi tidak serta-merta berarti seluruh wilayah mengalami kelebihan pasokan. Distribusi yang tidak merata, kebutuhan cadangan pangan, serta perbedaan musim panen tetap menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras.
Risiko cuaca juga perlu diperhatikan. Produksi beras Indonesia pada 2026 masih diproyeksikan mencapai sekitar 34 juta ton dan melampaui kebutuhan konsumsi. Namun, El Niño berpotensi menekan hasil panen pada 2027, terutama di lahan pertanian yang bergantung pada curah hujan.
(slm/slm)