10 Negara Produsen Beras Terbesar di Dunia, Siapa Pesaing RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Asia menjadi menjadi lumbung beras dunia sekaligus pasar terbesarnya. Peran besar Asia membuat perubahan produksi, cuaca, kebijakan, hingga gangguan perdagangan di satu negara Asia dapat dengan cepat mengguncang pasokan dan harga beras global.
Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan dominasi tersebut masih sangat kuat. India dan China berada di posisi teratas, sementara Indonesia juga masuk jajaran negara dengan produksi beras terbesar dunia.
Asia Kuasai Produksi Beras Dunia
India menjadi produsen beras terbesar dunia pada musim 2025/2026 dengan produksi mencapai 154,02 juta ton, setara 28,2% dari total produksi global.
China berada di posisi kedua dengan produksi 146,33 juta ton atau 26,8%. Jika digabungkan, kedua negara tersebut menyumbang sekitar 55% produksi beras dunia.
Bangladesh, Indonesia, Thailand, Filipina, Myanmar, Pakistan, dan Kamboja melengkapi 10 besar produsen beras dunia.
Indonesia ada di peringkat 4 dunia dengan produksi 33,8 juta ton.
USDA Pangkas Proyeksi Produksi Beras
USDA memangkas proyeksi produksi beras global untuk musim 2026/2027, terutama akibat penurunan produksi di India dan Bangladesh.
Dalam Rice Outlook September 2026, USDA memperkirakan produksi beras global pada September 2026/27 mencapai 533,9 juta ton, turun dari 545,9 juta ton pada September 2025/26.
Penurunan tersebut terjadi meskipun stok awal global meningkat menjadi 202,7 juta ton.
Di sisi permintaan, konsumsi dan penggunaan residual global diproyeksikan mencapai 539,6 juta ton, turun 3,2 juta ton dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, ekspor beras dunia diperkirakan berada di 62,7 juta ton pada 2026/27.
Di India, kondisi El Niño menyebabkan hujan monsun datang lebih lambat dan lebih sedikit, sehingga kondisi lahan menjadi lebih kering. Hingga awal Agustus, curah hujan selama musim monsun di India barat daya tercatat hampir 12% di bawah rata-rata jangka panjang.
Farmers work in a paddy field on the outskirts of Guwahati, India, Tuesday, June 6, 2023. Experts are warning that rice production across South and Southeast Asia is likely to suffer with the world heading into an El Nino. (AP Photo/Anupam Nath) Foto: AP/Anupam Nath |
Kondisi tersebut mengganggu penanaman padi di sejumlah negara bagian sentra produksi, khususnya wilayah timur dan semenanjung selatan. Luas tanam padi India untuk musim kharif diperkirakan turun sekitar 4% atau 1,4 juta hektare dibandingkan 2025/2026.
USDA pun memangkas proyeksi produksi beras India 2026/2027 sebesar 3 juta ton menjadi 147 juta ton akibat penurunan produktivitas dan luas panen.
Jika terealisasi, produksi India akan mencatat penurunan tahunan pertama sejak 2015/2016.
Pekerja memuat bal jerami padi ke traktor, di sawah, pada pagi yang berkabut, di tengah polusi udara yang terjadi di Mansa, di negara bagian Punjab, India utara, 12 November 2025. (REUTERS/Bhawika Chhabra) Foto: Pekerja memuat bal jerami padi ke traktor, di sawah, pada pagi yang berkabut, di tengah polusi udara yang terjadi di Mansa, di negara bagian Punjab, India utara, 12 November 2025. (REUTERS/Bhawika Chhabra) |
Produksi beras Bangladesh 2026/2027 dipangkas 1% menjadi 36,9 juta ton berdasarkan basis beras giling.
Produksi padi musim boro, yang menyumbang sekitar 54% produksi nasional, terdampak keterbatasan pupuk hingga akhir 2025 serta banjir di wilayah Haor Basin pada awal 2026.
Sementara itu, luas tanam padi musim aus juga turun karena petani beralih ke komoditas lain. Banjir pada awal musim turut menunda penanaman padi aman.
Sri Lanka Justru Cetak Rekor
Berbeda dengan India dan Bangladesh, produksi beras Sri Lanka justru diproyeksikan mencapai rekor 3,7 juta ton pada 2025/2026.
USDA menaikkan estimasi luas panen dan produktivitas. Produktivitas bahkan diperkirakan meningkat 10%.
Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya penggunaan pupuk setelah pemerintah Sri Lanka membatalkan kebijakan 2021 yang sebelumnya melarang penggunaannya.
Konsumsi Global Dipangkas
Seiring penurunan produksi India, USDA juga memangkas proyeksi konsumsi dan penggunaan beras global 2026/2027 sebesar 3,2 juta ton menjadi 539,6 juta ton.
Konsumsi beras India juga dipangkas karena produksi domestiknya diperkirakan lebih rendah. Meski demikian, konsumsi beras India tetap diproyeksikan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Konsumsi tersebut bahkan diperkirakan sekitar 4 juta ton lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya pada 2024/2025.
Peningkatan konsumsi didorong program pemerintah India untuk memperkuat ketahanan pangan serta memperluas penggunaan beras sebagai bahan baku produksi etanol. Saat ini India menetapkan kewajiban campuran etanol sebesar 20%.
Ekspor Dunia Hampir Tak Berubah
Sementara itu, proyeksi ekspor beras dunia 2026/2027 nyaris tidak berubah, yakni 62,7 juta ton, setelah dipangkas 160.000 ton.
Penurunan terbesar berasal dari Kamboja, dengan proyeksi ekspor dipangkas 200.000 ton menjadi 3,6 juta ton.
Penjualan Kamboja ke negara tetangga Vietnam diperkirakan tetap lesu.
Kamboja biasanya mengekspor beras gabah ke Vietnam, yang memiliki infrastruktur penggilingan, pengeringan, dan penyimpanan yang lebih baik sehingga memberikan keuntungan biaya.
Sejalan dengan itu, USDA memangkas proyeksi impor beras Vietnam 2026/2027 sebesar 200.000 ton menjadi 3,6 juta ton, terutama akibat melemahnya permintaan terhadap beras gabah dari Kamboja.
(mae/mae)

