Meledak! Harga Batu Bara Terbang 5 Hari Beruntun, Tembus US$ 153
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tak terbendung. Persoalan pasokan menjadi salah satu penyebabnya.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (6/10/2026) ditutup di posisi US$ 152,95 per ton. Harganya naik 1,3%.
Kenaikan ini memperpanjang reli harga batu bara yang sudah melonjak 4,5% dalam lima hari te terakhir. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 4 September 2026 atau sebulan terakhir.
Harga batu bara terbang dipicu oleh berkurangnya pasokan ekspor dari Indonesia hingga persoalan pasokan di India dan Eropa.
Ekspor batu bara Indonesia turun 9,3% menjadi 227,7 juta ton pada periode Januari-Agustus 2026. Penurunan ini dipengaruhi kuota produksi pemerintah, ketidakpastian kebijakan, serta gangguan pengiriman akibat fenomena El NiƱo yang kuat.
Krisis pasokan batu bara mulai membayangi sektor kelistrikan India. Jumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara domestik yang berada dalam kondisi stok kritis meningkat menjadi 81 unit, dari sebelumnya 73 unit dalam sepekan.
Kondisi tersebut terjadi ketika permintaan listrik India terus melonjak, sementara pasokan batu bara belum mampu mengejar kebutuhan pembangkit. Data Kementerian Batu Bara India menunjukkan Coal India hanya mengirim rata-rata sekitar 1,81 juta ton batu bara per hari pada 1-3 Oktober 2026.
Ā
Angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan sekitar 2,95 juta ton per hari untuk 176 pembangkit berbasis batu bara domestik dengan total kapasitas sekitar 207 gigawatt (GW). Akibatnya, stok batu bara di pembangkit turun menjadi 18,22 juta ton pada 5 Oktober, atau merosot 3,8% dibandingkan sepekan sebelumnya.
Permintaan Listrik Melonjak
Tekanan pasokan semakin besar karena konsumsi listrik India meningkat tajam. Sejumlah negara bagian seperti Punjab, Haryana, Maharashtra, dan Uttar Pradesh menghadapi kenaikan permintaan listrik.
Produksi listrik tenaga air juga menjadi persoalan. Pembangkit hidro India tercatat turun sekitar 12% pada September. Kondisi ini membuat pembangkit batu bara harus bekerja lebih keras, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik pada periode puncak malam hari.
Konsumsi listrik India pada Juli-September mencapai sekitar 502 miliar unit (BU), naik 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus September, konsumsi mencapai sekitar 162 BU, meningkat 11% secara tahunan.
Lonjakan permintaan bahkan mendorong perusahaan distribusi listrik (discom) membeli listrik dari bursa. Indian Energy Exchange (IEX) mencatat tawaran pembelian di pasar Day-Ahead Market melonjak 281% sepanjang September.
Kenaikan permintaan tersebut turut mengerek harga listrik. Harga rata-rata di Day-Ahead Market mencapai INR 7,3 per unit, naik 105% secara tahunan. Sementara harga di Real-Time Market mencapai INR 6,9 per unit, melonjak 108%.
Persoalan utama bukan hanya pasokan batu bara, tetapi juga ketidakseimbangan antara penerimaan dan konsumsi.
Penerimaan batu bara pembangkit memang meningkat 6% pada Agustus dan 3,3% sepanjang April-Agustus tahun fiskal 2026/2027. Namun, konsumsi batu bara tumbuh jauh lebih cepat, yakni 12,5% pada Agustus dan 9,2% sepanjang April-Agustus.
Tekanan tersebut tercermin dari defisit listrik India pada September yang mencapai sekitar 560 juta unit, tertinggi setidaknya dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Pemerintah India pun mulai mengambil langkah darurat. Kementerian Energi memerintahkan lebih dari 100 pembangkit batu bara captive untuk beroperasi pada kapasitas maksimum hingga akhir tahun guna mengantisipasi lonjakan permintaan listrik.
Perintah tersebut mencakup 112 pembangkit dengan kapasitas minimal 50 MW yang memasok listrik untuk industri seperti aluminium, baja, semen, dan kilang minyak.
India Mulai Cari Batu Bara Alternatif
Krisis stok juga mendorong perusahaan listrik terbesar India, NTPC, untuk meningkatkan pembelian batu bara dari perusahaan tambang swasta.
Reuters melaporkan stok batu bara NTPC telah turun dari sekitar 18 juta ton pada April menjadi hanya 5,5 juta ton akibat kenaikan produksi listrik dan gangguan pasokan setelah hujan lebat. NTPC berencana membeli hingga 15 juta ton batu bara dari sumber swasta serta menggunakan sekitar 50 juta ton dari tambangnya sendiri.
Sekitar 47% pembangkit listrik India saat ini memiliki stok batu bara yang hanya cukup untuk kurang dari empat hari. NTPC memperkirakan konsumsi batu baranya dapat mendekati 300 juta ton pada tahun fiskal 2026/2027.
Peluang bagi Batu Bara Impor
Situasi ini berpotensi membuka ruang lebih besar bagi batu bara impor. Kpler memperkirakan India akan kembali meningkatkan pembelian batu bara termal dari pasar seaborne mulai kuartal IV-2026 karena permintaan listrik meningkat sementara pasokan domestik menghadapi tekanan.
Kondisi tersebut menjadi kabar penting bagi pasar batu bara global, termasuk Indonesia. Jika pembangkit India meningkatkan pembelian dari pasar internasional, permintaan terhadap batu bara termal berkalori menengah dan rendah berpotensi ikut terdorong.
Di sisi lain, India menghadapi kombinasi persoalan yang cukup kompleks: konsumsi listrik meningkat, produksi hidro melemah, pasokan batu bara domestik tertahan, sementara pembangkit batu bara tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik India akan meningkat 4,2% pada 2026 menjadi sekitar 1,353 miliar ton, antara lain akibat meningkatnya kebutuhan pendinginan yang dipengaruhi kondisi El NiƱo.
Dengan musim permintaan listrik tinggi masih berlangsung hingga akhir tahun, tekanan terhadap stok batu bara India menjadi salah satu faktor yang patut dicermati pasar komoditas global.
Dari China dilaporkan, harga batu bara bergerak beragam. Sejumlah tambang dengan stok rendah mulai menaikkan harga karena penjualan berjalan lancar, tetapi kenaikan belum meluas ke seluruh pasar.
Survei terhadap 160 tambang di Shanxi, Shaanxi dan Inner Mongolia mencatat persediaan 4,01 juta ton per 30 September, naik tipis 0,22% secara mingguan tetapi turun 4,68% secara tahunan.
Dari Jerman dilaporkan stok batu bara di pembangkit listrik Jerman mulai menipis di tengah gangguan logistik yang masih berlangsung akibat rendahnya permukaan sungai yang mencapai rekor terendah.
(mae/mae)