MARKET DATA
Newsletter

IHSG & Rupiah Bangkit, 10 Kabar Ini Bakal Menguji Nyali Investor

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
05 October 2026 06:20
Pasar bullish vs bearish
Foto: Pixabay
  • Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan Rupiah menguat sementara SBN stagnan
  • Wall Street ditutup kompak di zona penguatan
  • PMI AS dan juga keyakinan konsumen Jepang menjadi penggerak utama pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat  (2/10/2026). Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah melemah.

Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan kemarin, Jumat (2/10/2026). IHSG naik 0,46% atau 27,38 poin ke level 6.036,89 pada akhir sesi.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di posisi 6.018,08. Indeks sempat menguat dan menyentuh level tertinggi kemarin di 6.053,23. Namun, tekanan jual kemudian menyeret indeks turun hingga menyentuh level terendah di 5.979,98.

Mengutip data IDX, penguatan IHSG siang ini disokong oleh 319 saham yang menguat, 134 saham tak bergerak, dan 337 saham lainnya melemah.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 120,68 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,25 triliun dan berpindah tangan 1,61 juta kali.

Adapun sektor penopang IHSG kemarin adalah energi, konsumer primer, teknologi dan finansial.

Secara spesifik, saham-saham penopang IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. GOTO Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dan PT. Buni Resources Minerals Tbk. (BRMS).

 

Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 1,27 triliun sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 1,31 triliun.

Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 81,98 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar 108,73 triliun.

Lanjut ke mata uang Garuda, Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.868/US$, menguat 0,40% atau 72 poin dibandingkan penutupan Kamis (1/10/2026) di Rp17.940/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah dibuka di level Rp17.925/US$ dan bergerak pada rentang Rp17.850-Rp17.950/US$.

Penguatan rupiah berlangsung seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut pada pukul 15.00 WIB terpantau di posisi 101,877 melemah 0.23%.

Dolar AS melemah di tengah penantian pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama non-farm payrolls (NFP) yang dijadwalkan keluar pada Jumat malam ini.

Data tersebut menjadi perhatian pasar untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

 

Di tengah dinamika yang tengah terjadi, pemerintah turut menyoroti pergerakan rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat mendekati level Rp18.000/US$.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan penerbitan surat utang pemerintah di pasar global turut berperan dalam memperkuat cadangan devisa yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Sementara di pasar SBN terpantau obligasi tenor 10 tahun Indonesia tidak mengalami perubahan sama sekali di level 7.159%

Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026), setelah laporan tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan harapan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada Oktober.

Saham teknologi menjadi penggerak utama kenaikan, sementara laporan pengiriman kendaraan Tesla dan perkembangan pemulihan bisnis Nike turut menjadi sorotan investor.

Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Kompak Naik

Mengutip pembaruan perdagangan CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average naik sekitar 244 poin atau 0,5%. S&P 500 menguat 0,7%, sementara Nasdaq Composite mencatat kenaikan terbesar, yakni 1,2%.

Nasdaq sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa sebelum turun dari puncaknya. Saham Nvidia juga mencapai rekor untuk pertama kalinya sejak Mei. AMD, CrowdStrike, dan Palo Alto Networks turut mencetak rekor.

Meski ketiga indeks menguat, kenaikannya menyusut ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali naik setelah sebelumnya turun merespons laporan tenaga kerja. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

Data Tenaga Kerja di Bawah Ekspektasi

Ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah perkiraan pasar sebanyak 84.000. Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2%, melampaui proyeksi yang memperkirakan angkanya bertahan di 4,1%.

Laporan tersebut memperlihatkan perlambatan perekrutan tenaga kerja. Bagi investor, kondisi ini memperkuat harapan bahwa The Fed tidak perlu kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Menurut kontrak berjangka suku bunga yang dikutip CNBC International, peluang The Fed mempertahankan bunga pada pertemuan Oktober mencapai sekitar 78%, naik dari sekitar 76% sehari sebelumnya.

Namun, perlambatan tenaga kerja tetap perlu dicermati. Meski dapat meredakan kekhawatiran terhadap pengetatan moneter, pelemahan yang berlanjut juga berpotensi memengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Saham Teknologi Jadi Andalan

Penguatan saham teknologi memperlihatkan kembalinya minat investor terhadap aset berisiko setelah laporan tenaga kerja dirilis. Nvidia menjadi salah satu sorotan utama, bersama sejumlah saham semikonduktor dan keamanan siber.

Chief Investment Officer Nuveen, Saira Malik, menilai laporan tenaga kerja dapat memberikan dukungan bagi pasar menjelang musim laporan keuangan perusahaan.

Dalam wawancara dengan CNBC, Malik memperkirakan musim laporan keuangan akan menunjukkan hasil yang kuat. Optimisme tersebut menambah sentimen positif, meski investor masih menghadapi gejolak di pasar obligasi.

Pengiriman Tesla Bikin Kejutan

Tesla melaporkan pengiriman 486.532 kendaraan pada kuartal III-2026. Jumlah tersebut melampaui perkiraan Wall Street sekitar 461.100 unit dan menjadi sentimen positif bagi saham perusahaan.

Dibandingkan kuartal II-2026, pengiriman meningkat dari 480.126 kendaraan. Namun, angkanya masih lebih rendah dibandingkan 497.099 kendaraan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, Tesla berhasil melampaui ekspektasi pasar sekaligus memperbaiki pengiriman secara kuartalan, meski belum membukukan pertumbuhan tahunan.

Saham produsen kendaraan listrik itu menguat pada perdagangan pagi setelah laporan dirilis. Investor menyambut hasil pengiriman yang lebih tinggi dari perkiraan, sambil menantikan perkembangan kinerja keuangan perusahaan.

Nike Tertekan, Pemulihan Bisnis Masih Berat

Di tengah penguatan pasar, saham Nike turun sekitar 6% saat pembukaan, setelah sebelumnya merosot sekitar 10% dalam perdagangan prapasar.

Pendapatan Nike pada kuartal I tahun fiskal 2027 mencapai US$11,21 miliar, turun sekitar 4% secara tahunan dan di bawah ekspektasi US$11,32 miliar. Sementara itu, laba per saham sebesar US$0,48 melampaui perkiraan US$0,43.

Tekanan di pasar China masih membayangi perusahaan, meski bisnis di Amerika Utara tumbuh. Manajemen memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2027 turun dalam persentase satu digit tinggi.

Nike juga menargetkan penghematan US$2,5 miliar hingga 2031 dan merencanakan pemangkasan tenaga kerja mulai 2027. Perkembangan tersebut memperkuat kekhawatiran investor bahwa pemulihan bisnis membutuhkan waktu lebih panjang.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan lebih tenang sepanjang pekan ini, 5-9 Oktober 2026 setelah labil pada pekan lalu. Rupiah dan IHSG mampu bangkit dari tekanan akhir pekan lalu.

Kemampuan IHSG dan rupiah untuk melanjutkan penguatan akan diuji pada pekan ini.

Sepanjang pekan ini, pasar keuangan memang masih akan dibayangi perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta arah harga minyak setelah pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC.

Pergerakan energi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga global. Pasar obligasi juga masih disorot setelah kenaikan imbal hasil di sejumlah negara meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

Dari kalender ekonomi, perhatian investor akan tertuju pada aktivitas sektor jasa AS dan notulen FOMC untuk mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya.

Inflasi produsen Zona Euro akan memberikan gambaran mengenai tekanan biaya perusahaan, sementara keyakinan konsumen Jepang menjadi indikator ketahanan permintaan domestik.

Di Indonesia, cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel akan menjadi penggerak sentimen. Kalender China relatif sepi karena libur Golden Week berlangsung hingga pertengahan pekan. Rangkaian agenda tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, rupiah, imbal hasil obligasi, dan IHSG.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Yaman Lancarkan Serangan

Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui internasional melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.

Presiden Yaman Rashad al-Alimi mengatakan serangan akan terus dilakukan hingga seluruh wilayah "dibebaskan" dari Houthi. Militer Yaman juga menyerukan kelompok tersebut untuk meletakkan senjata.

Houthi telah menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah barat laut Yaman sejak 2014. Bulan lalu, mereka memperluas pengaruh dengan merebut Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Di tengah serangan pemerintah, Houthi mengklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais. Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut.

Konflik kembali memanas setelah gencatan senjata yang relatif bertahan sejak 2022 terganggu oleh meningkatnya serangan terkait perang Iran.

Penguasaan Bab el-Mandeb menjadi kunci strategis karena selat tersebut merupakan jalur utama perdagangan antara Asia dan Eropa. Sementara itu, pertempuran di sekitar Taiz juga meningkat dan berpotensi memutus jalur penting menuju Aden.

Meningkatnya konflik dikhawatirkan memperburuk krisis kemanusiaan Yaman. Program Pangan Dunia (WFP) menyebut tiga dari empat keluarga di sejumlah wilayah Yaman mengalami kelaparan akibat eskalasi pertempuran.

2.OPEC Tahan Produksi Minyak November, Harga Tetap di Atas US$100

 OPEC sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November. Keputusan ini sesuai ekspektasi pasar bahwa tidak akan ada perubahan besar kebijakan produksi hingga 2027.

Keputusan diambil oleh tujuh anggota inti OPEC , yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Produksi negara-negara OPEC masih berada jauh di bawah kuota akibat gangguan ekspor yang dipicu perang AS-Israel dengan Iran. Aliran ekspor dalam beberapa bulan terakhir hanya mencapai sekitar 60%-80% dari kondisi normal.


"Pasar minyak tetap ketat," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Sementara itu, harga minyak sempat tertekan setelah negara-negara G7 mengumumkan pelepasan cadangan diesel dan minyak mentah untuk menekan lonjakan harga energi.
Harga Brent ditutup turun 6 sen menjadi US$102,25 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,76 menjadi US$91,11 per barel.
Meski demikian, Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$73 sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari.

OPEC sebenarnya telah meningkatkan target produksi sepanjang 2026 setelah bertahun-tahun memangkas pasokan. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut hanya terjadi di atas kertas akibat konflik Timur Tengah.

Tujuh anggota inti OPEC memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bph) pada Agustus, naik 630.000 bph dari Juli. Namun, angka tersebut masih sekitar 5 juta bph di bawah level sebelum perang.

OPEC masih memiliki sekitar 2 juta bph pemangkasan produksi. Perubahan kuota berikutnya kemungkinan baru dilakukan setelah 2027.
Pertemuan OPEC berikutnya dijadwalkan pada 1 November 2026.

3. Rapat Dewan Komisioner OJK

Hari ini, Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan sekaligus konferensi pers.

Menarik ditunggu apakah ada kebijakan pemangku pasar modal, industri keuangan dan non-keuangan, terutama menjelang pengumuman MSCI November serta ketidakpastian geopolitik.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube OJK)Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube OJK) Foto: Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Youtube OJK)

4. Keyakinan Konsumen Jepang September 2026

Rangkaian data pekan ini dimulai dengan indeks keyakinan konsumen Jepang yang dijadwalkan diumumkan hari ini, Senin (5/10/2026), pukul 12.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 35,5 dan diperkirakan turun menjadi 35,3 menurut konsensus, sedangkan proyeksi lainnya berada di 35,7.

Perbedaan perkiraan tersebut menunjukkan pasar belum memiliki pandangan yang kuat mengenai arah kepercayaan rumah tangga Jepang.

Investor akan mencermati persepsi konsumen terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan rencana pembelian barang tahan lama. Pelemahan lebih dalam dapat menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup mulai membatasi konsumsi.

Kondisi tersebut berpotensi menahan penguatan yen karena menimbulkan keraguan terhadap ketahanan permintaan domestik. Sebaliknya, hasil di atas perkiraan dapat memperkuat keyakinan bahwa konsumsi masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi.

5. Inflasi Produsen Zona Euro Agustus 2026

Selanjutnya, inflasi produsen Zona Euro akan diumumkan sore ini pukul 16.00 WIB. Secara bulanan, indeks harga produsen sebelumnya naik 1,6% dan diperkirakan meningkat 1,9% menurut konsensus, sementara proyeksi lainnya berada di 2,0%.

Secara tahunan, pertumbuhan harga di tingkat produsen diproyeksikan melonjak dari 5,8% menjadi 8,3%.

Kenaikan tersebut mengindikasikan tekanan biaya perusahaan berpotensi kembali menguat. Jika produsen meneruskannya melalui harga jual, tekanan inflasi konsumen dapat bertahan lebih lama.

Hasil di atas perkiraan berpotensi memperkuat euro dan mengangkat imbal hasil obligasi Eropa karena mengurangi peluang pelonggaran kebijakan Bank Sentral Eropa. Namun, kenaikan biaya juga dapat menekan margin keuntungan perusahaan dan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.

6. ISM Jasa AS September 2026

Malam ini, indeks ISM sektor jasa AS akan dirilis pukul 21.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 55,4, dengan konsensus memperkirakan kenaikan menjadi 55,7, sedangkan proyeksi lainnya berada di 55,0.

Seluruh perkiraan masih melampaui batas 50 yang menandakan ekspansi, sehingga sektor jasa diperkirakan tetap menopang perekonomian AS.

Selain indeks utama, investor akan memperhatikan komponen ketenagakerjaan dan harga. Pada periode sebelumnya, indeks ketenagakerjaan berada di wilayah kontraksi pada 47,8, sementara komponen harga relatif tinggi di 72,6.

Aktivitas yang kuat disertai tekanan harga tinggi dapat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Kondisi tersebut berpotensi mengangkat dolar AS dan imbal hasil Treasury, sekaligus menekan emas, rupiah, dan saham.

7. Cadangan Devisa Indonesia September 2026

Memasuki pertengahan pekan, Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan cadangan devisa pada Rabu pukul 10.00 WIB. Posisi cadangan devisa sebelumnya meningkat menjadi US$146,5 miliar dari US$145,3 miliar.

Kalender belum mencantumkan konsensus pasar untuk rilis terbaru, sehingga perhatian investor akan tertuju pada perubahan posisi cadangan dan penjelasan mengenai faktor yang memengaruhinya.

Cadangan devisa menjadi indikator kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pembayaran eksternal sekaligus mendukung stabilitas rupiah. Penurunan terbatas perlu dilihat bersama penyebabnya, termasuk pembayaran utang pemerintah dan stabilisasi nilai tukar.

Namun, penurunan tajam dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai tekanan eksternal. Sebaliknya, posisi yang stabil atau meningkat berpotensi mendukung rupiah dan surat utang negara karena memperkuat kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi domestik.

8. Notulen FOMC September 2026

Perhatian pasar kemudian beralih ke notulen FOMC yang dirilis Kamis pukul 01.00 WIB. Dokumen tersebut berasal dari rapat September ketika Federal Reserve secara bulat menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin, dari kisaran 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00%.

Investor akan mencari penjelasan mengenai pertimbangan kenaikan tersebut serta dukungan terhadap pengetatan berikutnya.

Proyeksi September mengindikasikan peluang satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun. Namun, pelaksanaannya akan bergantung pada inflasi, tenaga kerja, harga energi, dan kondisi keuangan.

Pasar juga akan menilai apakah anggota FOMC lebih mengkhawatirkan inflasi yang persisten atau risiko perlambatan pertumbuhan.

Notulen semakin diperhatikan karena Kevin Warsh berupaya mengurangi forward guidance. Pembahasan yang hawkish dapat memperkuat dolar AS dan imbal hasil Treasury, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap rupiah, emas, dan saham.

Sebaliknya, perbedaan pandangan yang besar dapat mengurangi keyakinan pasar terhadap kenaikan bunga berikutnya.

0. Keyakinan Konsumen Indonesia September 2026

Pada pagi harinya, indeks keyakinan konsumen Indonesia dijadwalkan diumumkan pukul 10.00 WIB. Indeks sebelumnya berada di level 118,5 dan diproyeksikan sedikit turun menjadi 118. Posisi di atas 100 masih menunjukkan masyarakat secara umum optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Perhatian akan tertuju pada penilaian konsumen terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan prospek ekonomi enam bulan mendatang. Penurunan lebih dalam dapat menunjukkan rumah tangga mulai menahan belanja akibat tekanan harga dan ketidakpastian.

Sebaliknya, hasil yang stabil atau meningkat dapat memperkuat prospek konsumsi domestik serta memberikan dukungan bagi saham sektor konsumer, ritel, dan perbankan.

10. Penjualan Ritel Indonesia Agustus 2026

Rangkaian agenda domestik pekan ini dilanjutkan dengan penjualan ritel Indonesia pada Jumat pukul 10.00 WIB. Pertumbuhannya diproyeksikan meningkat menjadi 1,3% secara tahunan dari 1,1% pada bulan sebelumnya.

Perbaikan tersebut akan menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh, meskipun momentumnya relatif terbatas.

Angka yang melampaui proyeksi berpotensi mendukung saham sektor ritel, barang konsumsi, dan perbankan. Sebaliknya, pertumbuhan yang melemah akan menambah kekhawatiran mengenai daya beli.

Data ini juga akan dibandingkan dengan survei keyakinan konsumen untuk menilai apakah optimisme masyarakat benar-benar diikuti peningkatan belanja. Kombinasi keduanya dapat membantu investor membaca prospek permintaan domestik menjelang akhir tahun.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Presiden menghadiri puncak peringatan HUT ke-81 TNI di Kompleks Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur

  • Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat

  • OJK akan menyelenggarakan Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) September 2026 via zoom meeting

  • Menteri ESDM memimpin Rapat Pimpinan Kementerian ESDM

  • Gakeslab Business Forum 2026 di The Westin, Jakarta Selatan. Turut hadir Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan.

  • Keyakinan Konsumen Jepang September 2026
  • PMI Zona Eropa September 2026
  • PMI AS September 2026
  • Inflasi Turki September 2026
  • Penjualan Ritel Agustus 2026
  • Inflasi Turki September 2026
  • PMI Saudi Arabia September 2026

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • tanggal ex Dividen Tunai Interim PT PAM Mineral Tbk (NICL)
  • tanggal ex HMETD Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
  • tanggal ex Dividen Tunai PT Diamond Citra Propertindo Tbk. (DADA)
  • tanggal cum Dividen Tunai PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


(gls/gls) Next Article AS, Eropa-China Umumkan Kabar Penting di Tengah Erupsi Gunung Krakatau


Most Popular
Features