10 Saham Terbang Gila-gilaan di 2026, Ada yang Naik 1.148%
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lonjakan harga yang sangat tinggi sepanjang 2026. Kenaikannya bukan lagi puluhan persen, melainkan sudah mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000% secara year-to-date (YTD).
PT Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA) memimpin daftar dengan kenaikan 1.148,6% YTD. Di bawahnya, PT Asia Sejahtera Mina Tbk. (AGAR) menguat 558,3%, sementara PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV) melonjak 506,4%.
Dengan capaian tersebut, seluruh saham yang masuk dalam daftar 10 besar telah mencatat kenaikan lebih dari 280% sejak awal tahun.
Namun, lonjakan harga yang sangat tinggi tidak selalu diikuti perbaikan fundamental perusahaan yang sejalan dengan kenaikan harga sahamnya. Di balik performa tersebut, masing-masing emiten memiliki cerita yang berbeda, mulai dari aksi korporasi, perubahan kepemilikan, ekspansi bisnis, hingga meningkatnya aktivitas perdagangan.
Karena itu, kenaikan harga saham tetap perlu dilihat bersama perkembangan bisnis dan keterbukaan informasi masing-masing emiten.
ALKA Terbang 1.148%, Kinerja Keuangan Masih Tertekan
ALKA menjadi saham dengan kenaikan YTD tertinggi dalam daftar, mencapai 1.148,6%.
Namun, lonjakan harga saham tersebut belum diikuti perbaikan kinerja keuangan dalam skala yang sama. Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp3,9 miliar, membesar dari rugi Rp1,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan ALKA juga turun menjadi Rp18,6 miliar dari Rp69,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, saham ALKA masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) Bursa Efek Indonesia pada Agustus 2026. Tingkat konsentrasi kepemilikan saham ALKA tercatat berada di atas 98%.
Status HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran, tetapi menandakan bahwa kepemilikan saham emiten tersebut terkonsentrasi pada sebagian kecil pemegang saham.
Sepanjang tahun ini, saham ALKA juga beberapa kali mencatat lonjakan tajam. Pada periode 20-24 Juli 2026, ALKA sempat melesat 89,66% dalam sepekan, kemudian kembali menguat 167,06% sepanjang Agustus.
AGAR Melonjak 558%, Perubahan Pengendali Jadi Sorotan
Saham AGAR mencatat kenaikan 558,3% secara YTD, menempatkannya di posisi kedua dalam daftar.
Salah satu perkembangan korporasi yang menjadi perhatian terjadi pada Juli 2026, ketika Suprajitno Sutomo mengumumkan rencana mengambil alih sedikitnya 51% saham AGAR dan berpotensi menjadi pengendali baru perseroan.
Rencana tersebut mencakup pembelian 450 juta saham dari PT Indo Kreasi Pratama serta sedikitnya 60 juta saham tambahan dari pemegang saham lainnya.
Di saat yang sama, kinerja keuangan AGAR mulai menunjukkan perbaikan. Pada semester I-2026, penjualan bersih naik sekitar 59,5% menjadi Rp141,9 miliar.
Perseroan juga membukukan laba bersih sekitar Rp1,0 miliar, berbalik dari rugi Rp4,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Seperti ALKA, saham AGAR juga masuk dalam daftar HSC BEI dengan tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi.
MGLV Melesat 506%, Fokus Beralih ke AI Data Center
Saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV) mencatat kenaikan 506,4% secara YTD, di tengah perubahan besar pada arah bisnis perseroan.
MGLV sebelumnya bernama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk. dan bergerak di bisnis perdagangan serta produk interior rumah. Setelah masuknya PT Nextier Datamate Center sebagai pengendali, perseroan mengganti nama menjadi PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. dan mengalihkan fokus bisnis ke pengembangan infrastruktur digital dan AI data center.
Perubahan arah bisnis tersebut kemudian diikuti sejumlah aksi korporasi. Perseroan melepas 13 anak usaha dari bisnis lamanya untuk memperkuat fokus pada sektor data center.
MGLV juga berencana menggelar rights issue maksimal 285,73 juta saham dengan harga pelaksanaan Rp8.880 per saham. Dari aksi tersebut, perseroan membidik dana sekitar Rp2,54 triliun yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis data center.
Melalui dua anak usahanya, MGLV menargetkan pengembangan fasilitas data center dengan kapasitas gabungan 102 MW, terdiri dari 42 MW di Jababeka dan 60 MW di Batang.
Ekspansi tersebut juga mendapat dukungan pendanaan dari perbankan. Dua anak usaha MGLV memperoleh fasilitas pinjaman sekitar Rp10,75 triliun dari BNI untuk mendukung pengembangan kedua fasilitas data center tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)