MARKET DATA
Newsletter

AS Beri Kabar Baik, Inflasi-Neraca Dagang RI Bisa Buat Keringat Dingin

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
01 October 2026 06:21
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)

Dari pasar saham Amerika Serikat, burswa Wall Street berakhir beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 turun 0,25% menjadi 7.651,54, setelah sebelumnya sempat menguat hampir 0,7% sepanjang sesi perdagangan.

Nasdaq Composite justru naik 0,24% ke 26.861,06. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 0,86% atau 443,87 poin ke 50.906,05.

Perdagangan Rabu sekaligus menandai berakhirnya September dan kuartal III 2026.

Sepanjang September indeks S&P 500 turun 0,5% , Dow Jones jatuh 4,3% sementara Nasdaq menguat 1,9%

Sementara sepanjang kuartal III, S&P 500 naik 2% sementara Nasdaq menanjak 2,5% dan sebaliknya Dow Jones turun 2,7%

Pergerakan bursa dipengaruhi rilis data Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Indeks pada Agustus naik 3,4% secara tahunan, melambat dari 3,7% pada bulan sebelumnya.

Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tetap berada di level 3,7%.

Data yang lebih menggembirakan terlihat pada core PCE, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi. Core PCE naik 3% secara tahunan, turun dari 3,3% pada bulan sebelumnya sekaligus lebih rendah dari perkiraan ekonom.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ditutup lebih tinggi, naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,298%.

Imbal hasil sempat menembus 5,3% pada level tertinggi dalam sesi perdagangan. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun naik hampir 5 basis poin menjadi 5,642%.

"Saya tidak melihat ekspektasi inflasi benar-benar melonjak. Jadi, saya pikir yang diperhatikan trader adalah angka pertumbuhan," kata Rob Haworth, Senior Investment Strategy Director di U.S. Bank Asset Management Group, kepada CNBC International.

Menurut Haworth, ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, termasuk proyeksi GDP kuartal III dari Atlanta Fed serta revisi naik ekspektasi GDP kuartal II, turut mendorong kenaikan suku bunga riil jangka panjang.

Perhatian pasar kini beralih ke laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Nonfarm payrolls diperkirakan hanya bertambah 84.000 pekerjaan pada September, sekitar setengah dari tambahan pekerjaan pada Agustus setelah penyesuaian musiman.

Peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga menurun pada Rabu. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, trader kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada bulan depan sebesar 35%, turun dari sekitar 51% sehari sebelumnya.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya pada Desember.

 

"Data inflasi hari ini memang sedikit lebih baik dari perkiraan, tetapi data tenaga kerja dan GDP yang kuat menunjukkan angka tersebut kemungkinan tidak akan menggagalkan ekspektasi konsensus untuk kenaikan suku bunga lainnya sebelum akhir tahun," kata Adam Hetts, Global Head of Multi-Asset sekaligus Portfolio Manager di Janus Henderson Investors.

Haworth mengatakan pasar masih memperkirakan sekitar 75% peluang adanya tiga kali kenaikan suku bunga hingga pertengahan tahun depan.

"Pasar belum menganggap persoalan ini sepenuhnya selesai, tetapi mungkin tidak lagi melihatnya sebagai isu yang mendesak seperti yang sebelumnya dikhawatirkan," ujarnya.

(slm/slm)


Most Popular
Features