Harga Emas Bangkit Usai Terjun Bebas, Tapi Badai Besar Masih Mengintai
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas bangkit pada perdagangan Selasa, pulih dari level terendah dalam lebih dari tujuh pekan.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (29/9/2026) ditutup di posisi US$ 4180,79 per troy ons. Harganya melonjak 1,6%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 4,01% pada Senin.
Pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 06.27 WIB, harga emas melemah tipis 0,014% ke US$ 4180,18 per troy ons.
"Pergerakan hari ini hanyalah koreksi dari kerugian pada perdagangan kemarin. Saya masih berpikir ada sejumlah hambatan yang cukup signifikan bagi emas," kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus kepala strategi logam senior di Zaner Metals, kepada Reuters.
Harga emas anjlok hampir 4% pada Senin, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak 10 Juni 2026. Harga emas juga menyentuh level terendah sejak 5 Agustus 2026.
Penurunan tersebut dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, lonjakan harga energi, serta kekhawatiran inflasi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Â
"Ekspektasi yang meningkat terhadap kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut membuat dolar tetap menguat, sementara imbal hasil obligasi masih tinggi. Saya pikir potensi kenaikan harga emas hari ini mungkin agak terbatas, dan pasar akan tetap berfokus pada data inflasi PCE besok serta data ketenagakerjaan pada Jumat," ujar Grant.
Dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, ditopang oleh volatilitas harga minyak serta kenaikan pesat imbal hasil Treasury dalam beberapa waktu terakhir.
Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Sementara itu, kenaikan imbal hasil Treasury meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga pada level lebih tinggi untuk mengatasi tekanan harga.
Â
Emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya cenderung berkurang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 68% pada Oktober dan 95% pada Desember.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan data inflasi PCE yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta laporan tenaga kerja nonpertanian AS (nonfarm payrolls) pada Jumat.