Pasar RI Siaga! Data Ekonomi 'Raksasa' Rilis Pekan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan yang padat pada 28 September-2 Oktober 2026. Sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri dijadwalkan rilis dan berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, obligasi, hingga pasar saham.
Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada PMI Manufaktur Indonesia, data ekspor-impor dan neraca perdagangan, serta inflasi September. Data tersebut akan memberi gambaran terbaru mengenai kekuatan aktivitas industri, ketahanan sektor eksternal, serta arah tekanan harga domestik.
Sementara dari eksternal, pasar akan mencermati sederet data penting dari Amerika Serikat (AS), mulai dari JOLTS Job Openings, inflasi PCE, pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, hingga Nonfarm Payrolls (NFP). Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam membaca kekuatan ekonomi AS dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, PMI manufaktur China, tingkat pengangguran Jepang, dan inflasi Zona Euro juga akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan global dan sentimen terhadap aset berisiko.
1. Job Opening AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) periode Agustus pada Selasa (29/9/2026) pukul 21.00 WIB.
Pada Juli 2026, jumlah lowongan pekerjaan di AS tercatat 7,271 juta, naik dari 7,182 juta pada Juni yang direvisi turun. Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta. Kenaikan terutama terjadi pada sektor manufaktur barang tahan lama, layanan kesehatan dan bantuan sosial, perdagangan grosir, serta konstruksi.
Sementara itu, jumlah perekrutan dan total pemisahan tenaga kerja relatif stabil di sekitar 5,1 juta. Jumlah pekerja yang mengundurkan diri secara sukarela atau quits juga relatif tidak berubah di 3,1 juta, sedangkan PHK dan pemberhentian berada di sekitar 1,7 juta.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat seberapa kuat permintaan tenaga kerja AS menjelang rilis data ketenagakerjaan utama lainnya. Penurunan lowongan pekerjaan dapat menjadi sinyal pasar tenaga kerja mulai mendingin dan memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed). Sebaliknya, kenaikan yang kuat dapat menunjukkan permintaan tenaga kerja masih solid dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
2. PMI Manufaktur China
China akan merilis data RatingDog Manufacturing PMI periode September pada Rabu (30/9/2026) pukul 08.45 WIB.
Pada Agustus 2026, RatingDog Manufacturing PMI China naik menjadi 51,5, dari 50,9 pada Juli, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,0. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan output dan pesanan baru yang lebih cepat. Pesanan baru meningkat selama 15 bulan berturut-turut, periode terpanjang sejak 2018, sementara penjualan luar negeri mencatat kenaikan tercepat dalam enam bulan. Produksi juga tumbuh selama sembilan bulan beruntun dan mencatat ekspansi terkuat dalam tiga bulan.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah momentum manufaktur China dapat bertahan. PMI yang tetap berada di atas 50 dapat memperkuat sinyal pemulihan aktivitas industri dan permintaan China, yang penting bagi Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama. Sebaliknya, penurunan kembali mendekati atau di bawah 50 dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan permintaan komoditas global.
3. Inflasi PCE AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) periode Agustus pada Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB. Data ini menjadi salah satu indikator utama yang dicermati Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pada Juli 2026, inflasi PCE tercatat 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), tidak berubah dari bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada di 3,3% yoy, sesuai ekspektasi pasar tetapi masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tingginya inflasi PCE menunjukkan tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda. Inflasi inti bahkan masih berada di atas 3%, sehingga pasar akan mencermati apakah data Agustus mulai menunjukkan tren penurunan atau justru tekanan harga tetap persisten.
Rilis Agustus akan menjadi penting bagi ekspektasi arah suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter, sementara inflasi yang tetap tinggi atau kembali meningkat dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, yield US Treasury, serta arus modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
4. Pertumbuhan Ekonomi AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis estimasi lanjutan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 pada Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada estimasi sebelumnya, ekonomi AS tumbuh 1,5% secara annualized pada kuartal II-2026, melambat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang melonjak 3,4% dan investasi tetap yang tumbuh 7,0%, termasuk investasi nonresidensial sebesar 8,5% seiring kuatnya belanja peralatan dan produk kekayaan intelektual yang didorong permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, belanja pemerintah turun 1,0%, sedangkan perdagangan internasional menjadi penekan pertumbuhan setelah impor melonjak 12,5%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan ekspor sebesar 4,5%.
Rilis terbaru akan dicermati untuk melihat apakah ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan di tengah inflasi yang tetap tinggi dan dinamika pasar tenaga kerja. Revisi pertumbuhan yang lebih kuat dapat menunjukkan ekonomi masih solid dan membuat The Fed memiliki ruang untuk lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Sebaliknya, revisi turun dapat memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi dan meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
5. PMI Manufaktur RI
Indonesia akan merilis data S&P Global Manufacturing PMI periode September pada Kamis (1/10/2026) pukul 07.30 WIB.
Pada Agustus 2026, PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8, dari 50,2 pada Juli yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi, meski penurunannya masih relatif tipis.
Pergerakan tersebut menunjukkan pemulihan sektor manufaktur domestik masih belum stabil. Setelah sempat kembali ke zona ekspansi pada Juli, aktivitas industri kembali melemah pada Agustus, sehingga pasar akan mencermati apakah kontraksi berlanjut atau manufaktur mampu kembali menembus level 50.
Rilis September akan menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan aktivitas industri domestik memasuki kuartal IV-2026. PMI yang kembali di atas 50 dapat memberikan sinyal perbaikan produksi dan permintaan, sementara pelemahan lebih dalam berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
6. Ekspor, Impor, Neraca Dagang RI Agustus 2026
Indonesia akan merilis data ekspor, impor, dan neraca perdagangan periode Agustus pada Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB.
Pada Juli 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat US$26,22 miliar, sementara impor mencapai US$26,09 miliar. Selisih tipis tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$0,13 miliar, berbalik dari ekspektasi pasar yang memperkirakan defisit US$0,3 miliar.
Secara tahunan, ekspor tumbuh 6,05% (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi 3,4%, meski melambat dari 8,84% pada Juni. Sementara itu, impor melonjak 27,02% yoy, melampaui perkiraan 24,1%, meski lebih rendah dari pertumbuhan 34,27% pada bulan sebelumnya.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat apakah surplus perdagangan masih dapat bertahan di tengah laju impor yang jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Surplus yang tetap terjaga dapat menopang posisi eksternal Indonesia dan rupiah, sementara pelemahan ekspor atau kenaikan impor yang lebih kuat berpotensi kembali mempersempit surplus perdagangan.
7. Inflasi RI
Indonesia akan merilis data inflasi September 2026 pada Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB, mencakup inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan.
Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,19% (yoy) dari 2,28% pada Juli dan sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 3,13%. Kenaikan terutama didorong oleh harga makanan, minuman dan tembakau, disertai peningkatan biaya perawatan pribadi dan transportasi. Meski naik, inflasi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.
Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,92% yoy, tertinggi sejak Maret 2023, menunjukkan tekanan harga yang lebih persisten di luar komponen bergejolak dan harga yang diatur pemerintah. Sementara secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,21% (mom), berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah tekanan harga kembali meningkat atau mulai mereda. Inflasi yang tetap berada dalam sasaran BI dapat memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan tetap akomodatif, sementara kenaikan inflasi inti yang berlanjut dapat membuat ruang pelonggaran moneter menjadi lebih terbatas.
8. Tingkat Pengangguran Jepang
Jepang akan merilis data tingkat pengangguran periode Agustus pada Jumat (2/10/2026) pukul 06.30 WIB.
Pada Juli 2026, tingkat pengangguran Jepang turun menjadi 2,4%, dari 2,5% pada tiga bulan sebelumnya dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,5%. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Juli 2025.
Jumlah pengangguran turun 80.000 menjadi 1,67 juta orang, level terendah dalam setahun. Namun, jumlah pekerja juga turun 150.000 menjadi 68,31 juta, sementara angkatan kerja menyusut 240.000 menjadi 69,98 juta. Tingkat partisipasi angkatan kerja juga turun menjadi 64,1% dari 64,4% pada Juni.
Rilis Agustus akan dicermati untuk melihat apakah pasar tenaga kerja Jepang tetap ketat. Tingkat pengangguran yang rendah dapat memperkuat tekanan upah dan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan Bank of Japan (BoJ) dalam menentukan arah kebijakan moneter, sementara kenaikan pengangguran dapat menjadi sinyal melemahnya momentum ekonomi domestik.
9. Inflasi Euro Area
Zona Euro akan merilis estimasi awal inflasi September 2026 pada Jumat (2/10/2026) pukul 16:00 WIB. Eurostat telah menjadwalkan rilis flash estimate inflasi September pada tanggal tersebut.
Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Zona Euro tercatat 3,2%, naik dari 2,9% pada Juli dan masih berada di atas target European Central Bank (ECB) sebesar 2%. Kenaikan terutama didorong oleh inflasi energi yang mencapai 14,3%, sementara inflasi jasa melambat menjadi 3,0%. Inflasi inti, yang mengecualikan energi, makanan, alkohol, dan tembakau, turun tipis menjadi 2,4% dari 2,5% pada bulan sebelumnya.
Tekanan harga juga terlihat di sejumlah ekonomi besar kawasan. Inflasi meningkat di Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia, sementara Belanda menjadi salah satu pengecualian dengan inflasi yang melambat. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga inflasi kawasan tetap tinggi.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda atau tetap persisten. Inflasi yang tetap jauh di atas target 2% dapat membuat ECB lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter, sementara penurunan inflasi dapat membuka ruang yang lebih besar bagi pelonggaran suku bunga.
10. Tingkat Pengangguran AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data tingkat pengangguran periode September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus 2026, tingkat pengangguran AS bertahan di 4,1%, sesuai ekspektasi pasar. Jumlah pengangguran meningkat 115.000 menjadi 7,03 juta orang, tetapi jumlah pekerja juga naik 569.000 menjadi 162,75 juta orang.
Angkatan kerja bertambah 683.000 menjadi 169,78 juta orang, mendorong tingkat partisipasi angkatan kerja naik menjadi 61,6% dari 61,4% pada Juli. Sementara itu, tingkat pengangguran U-6 yang mencakup pekerja setengah menganggur dan mereka yang tidak aktif mencari pekerjaan turun menjadi 7,7% dari 7,9%.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah pasar tenaga kerja AS tetap solid atau mulai menunjukkan tanda pelemahan. Kenaikan tingkat pengangguran dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, sementara angka yang tetap rendah dapat menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
11. Non-farm Payroll AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data Nonfarm Payrolls (NFP) periode September pada Jumat (2/10/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada Agustus 2026, ekonomi AS menambah 162.000 pekerjaan, tertinggi dalam lima bulan dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 56.000. Angka Juli juga direvisi naik menjadi 23.000, sementara revisi gabungan untuk Juni dan Juli menambah 55.000 pekerjaan dari estimasi sebelumnya.
Kenaikan lapangan kerja terutama terjadi pada sektor makanan dan minuman, pendidikan pemerintah daerah, manufaktur, serta layanan kesehatan. Sebaliknya, sektor informasi mencatat penurunan pekerjaan, termasuk pada penyedia infrastruktur komputasi, pemrosesan data, penerbitan, serta penyiaran dan penyedia konten.
Rilis September akan menjadi salah satu data utama yang dicermati pasar untuk mengukur kekuatan pasar tenaga kerja AS. Pertumbuhan pekerjaan yang kembali kuat dapat menunjukkan ekonomi masih cukup solid dan membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Sebaliknya, perlambatan tajam NFP dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memengaruhi pergerakan dolar AS, yield US Treasury, serta aset berisiko global.
Dengan agenda data yang cukup padat, volatilitas pasar berpotensi meningkat sepanjang pekan, terutama ketika data aktual berbeda signifikan dari ekspektasi pasar.
(slm/slm)