FBI Dijebol Hacker Kelas Kakap, Rahasia Besar Amerika Bocor

Verda Nano,  CNBC Indonesia
27 September 2026 12:00
Anggota tim forensik FBI bekerja di area hutan, dekat dengan jalur pelarian yang dilaporkan oleh pelaku penembakan aktivis sayap kanan AS dan komentator Charlie Kirk, sekutu Presiden AS Donald Trump, yang tewas tertembak dalam sebuah acara di Utah Va
Foto: Anggota tim forensik FBI bekerja di area hutan, dekat dengan jalur pelarian yang dilaporkan oleh pelaku penembakan aktivis sayap kanan AS dan komentator Charlie Kirk, sekutu Presiden AS Donald Trump, yang tewas tertembak dalam sebuah acara di Utah Valley University, di Orem, Utah, AS, 11 September 2025. (REUTERS/Cheney Orr)

Jakarta, CNBC Indonesia - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) tengah menghadapi mimpi buruk keamanan siber. Kelompok peretas (hacker) terkemuka yang berafiliasi dengan nama ShinyHunters dilaporkan berhasil membobol portal keamanan FBI dan mencuri jutaan data sensitif, yang mengungkap operasi internal badan intelijen AS tersebut ke ranah publik.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Reuters, Minggu (27/9/2026), ShinyHunters merilis sekitar 5.000 baris data awal sebagai "sampel". Namun, kelompok ini mengklaim mengantongi total 2 terabyte (TB) data curian. Mereka mengancam akan menahan seluruh data rahasia itu hingga FBI mencabut sebuah pernyataan pada bulan Mei lalu yang dinilai merugikan kelompok peretas tersebut.

Merespons insiden ini, pihak FBI telah mengonfirmasi adanya klaim pembobolan portal FBIJobs.gov dan tengah melakukan investigasi menyeluruh. "Kami secara aktif dan agresif menyelidiki masalah ini," tegas perwakilan FBI.

Bongkar Data Sensitif hingga Operasi Klandestin

Data yang diretas tidak hanya menyasar karyawan aktif, tetapi juga mantan agen FBI. Kebocoran ini dinilai sangat fatal karena mencakup:

  • Data Pribadi Identitas Diri (PII): Nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, dan Nomor Jaminan Sosial (Social Security Number).

  • Informasi Kontak Darurat: Data pasangan atau anak-anak agen yang berisiko menjadi target sasaran.

  • Status Penugasan Berisiko Tinggi: Detail lokasi kantor lapangan dan penempatan unit rahasia.

Parahnya, peretasan ini turut mengekspos unit intelijen tingkat tinggi yang keberadaannya jarang atau bahkan tidak pernah dipublikasikan. Data tersebut mencatat rincian personel yang bertugas di unit strategis, antara lain:

  • 14 agen di unit operasi China, termasuk "Unit Perusahaan Kriminal China" dan "Seksi Intelijen China".

  • 9 personel di unit operasi Rusia, termasuk penanganan "Ancaman Infrastruktur Kritis dan Teknologi Rusia".

  • 3 agen khusus yang memantau pergerakan Iran dan Hizbullah.

  • 11 staf di sektor intelijen manusia (HUMINT).

  • 18 pakar di unit teknologi penyadapan, akses rahasia, serta operasi teknis klandestin berbasis audio dan visual.

"Tambang Emas" bagi Intelijen Asing

Mantan agen kontraintelijen FBI, Eric O'Neill, memperingatkan bahwa kebocoran ini adalah "tambang emas" bagi badan intelijen asing yang bermusuhan, seperti China dan Rusia, serta kelompok ekstremis domestik. "Jika saya ada dalam daftar tersebut, saya akan sangat khawatir," ujar O'Neill.

Senada dengan O'Neill, Trevor Hilligoss, mantan penyidik Angkatan Darat AS yang kini menjabat sebagai Chief Intelligence Officer di SpyCloud, menilai eksposur ini mengancam nyawa para agen.

Menurutnya, agen yang menyamar bisa hancur karier atau bahkan keselamatannya jika identitas aslinya terbongkar. Risiko ini semakin berlipat ganda karena peretas juga memegang data kontak darurat kerabat para agen yang minim akan pengetahuan keamanan operasional (OPSEC).

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rahasia Besar FBI Bocor di Internet, Ungkap Fakta Mengejutkan


Most Popular
Features