MARKET DATA
Sentimen Pekan Ini

Catat! Kabar dari AS dan China Bisa Jadi Penggerak Pasar Pekan Ini

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
01 June 2026 10:14
10 Negara Primadona Investor Asing, Ada RI!
Foto: Infografis/ 10 Negara Primadona Investor Asing, Ada RI!/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki pekan pertama bulan Juni 2026, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data makroekonomi utama baik dari dalam maupun luar negeri.

Selain itu, terdapat beberapa implementasi kebijakan domestik strategis dan dinamika geopolitik global yang patut diperhatikan. Berikut adalah rangkuman data dan sentimen penggerak pasar untuk pekan ini.

PMI Manufaktur China Mei 2026

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin China turun menjadi 51.8 pada bulan Mei 2026 dari level tertinggi lima tahun di 52.2 pada April lalu, namun realisasi ini masih tercatat berada di atas perkiraan konsensus yang mematok di level 51.4.

Pertumbuhan pesanan baru dan produksi mulai termoderasi namun secara keseluruhan tetap berada di area ekspansif. Laju ini didukung oleh permintaan domestik, penambahan pelanggan baru, serta peningkatan lini produk, sementara pesanan ekspor sedikit mengalami penurunan.

Produksi pabrik naik secara solid dan merupakan salah satu yang tertinggi sejak akhir 2024. Penyerapan tenaga kerja masuk ke kontraksi marginal, dan waktu pengiriman pemasok memanjang selama tiga bulan berturut-turut seiring dengan pembelian input yang lebih tinggi. Tekanan inflasi pada sektor produksi terlihat mulai mereda pada periode ini.

PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat Mei 2026

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM untuk Amerika Serikat tidak mengalami perubahan dan tertahan pada level 52.7 di bulan April 2026. Angka ini menyamai level tertingginya sejak Agustus 2022, namun masih berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan ke level 53.0.

Pesanan baru tumbuh pada laju yang lebih cepat yakni 54.1 dibandingkan 53.5 pada bulan Maret. Waktu pengiriman pemasok semakin memanjang ke 60.6, sedangkan produksi berekspansi pada laju yang lebih lambat di 53.4.

Tingkat penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan paling tajam dalam empat bulan terakhir ke angka 46.4 dari sebelumnya 48.7. Harga-harga melonjak dengan laju tercepat sejak akhir 2021 yang didorong oleh kenaikan biaya minyak dan solar imbas konflik di Timur Tengah.

Sentimen di antara para panelis terpantau bervariasi memasuki bulan kedua konflik tersebut. Terdapat 31% komentar positif dan 69% komentar negatif. Konflik geopolitik disebutkan dalam 47% respons, sementara masalah tarif dirujuk dalam 18% respons.

Untuk rilis bulan Mei 2026 pekan ini, konsensus pasar memperkirakan PMI Manufaktur ISM akan berada di kisaran 52.6 hingga 53.0.

Inflasi Indonesia Mei 2026

Inflasi tahunan Indonesia tercatat turun secara signifikan ke level 2.42% pada bulan April 2026 dari 3.48% pada bulan sebelumnya. Penurunan ini menandai level terendah sejak Agustus 2025 dan masih berada dengan nyaman di dalam rentang target Bank Indonesia yakni 1.5% hingga 3.5%.

Moderasi tersebut didorong oleh pertumbuhan harga yang lebih lambat pada komponen utama, khususnya makanan yang tercatat sebesar 3.06% dibandingkan 3.34% pada bulan Maret, serta perumahan di 0.74% dibandingkan 7.24%.

Inflasi stabil untuk sektor perawatan kesehatan di 1.49% dan pendidikan di 1.14%. Beberapa kategori mengalami tekanan harga yang lebih kuat, termasuk pakaian di 0.79%, perabotan 0.60%, transportasi 1.61%, rekreasi 1.19%, dan restoran 1.93%.

Harga komunikasi juga mengalami rebound ke angka 0.83%. Inflasi inti mereda ke 2.44% dari 2.52% pada bulan Maret, yang merupakan angka terlunak dalam empat bulan terakhir. Secara bulanan, harga konsumen naik 0.13%. Untuk rilis inflasi bulan Mei 2026 pekan ini, konsensus pasar memperkirakan angka inflasi dapat bergerak di kisaran 3.1%.

Neraca Perdagangan Indonesia April 2026

Surplus perdagangan Indonesia mengalami penurunan menjadi US$3.32 miliar pada Maret 2026 dari US$4.33 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan ekspor sementara impor mengalami kenaikan.

Impor tumbuh 1.51% secara tahunan, melambat dari 10.85% pada bulan Februari, dengan impor minyak dan gas naik 1.34% menjadi US$3.17 miliar. Impor non-migas naik 1.54% menjadi US$16.04 miliar.

Di sisi lain, ekspor turun 3.1% secara tahunan, yang menandai penurunan pertama sejak November tahun lalu di tengah gangguan logistik global. Ekspor non-migas turun 2.52%, sedangkan ekspor migas anjlok 11.84% akibat penurunan tajam pada minyak mentah dan produk minyak.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor non-migas menurun terutama ke mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa, sementara ekspor ke China melonjak 16.22%.

Untuk kuartal pertama 2026, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$5.55 miliar. Rilis data perdagangan untuk bulan April 2026 diproyeksikan akan berada di angka US$0.5 miliar.

Inflasi Kawasan Euro Mei 2026

Tingkat inflasi tahunan Kawasan Euro dikonfirmasi berada pada angka 3.0% di bulan April 2026. Angka ini merupakan level tertinggi sejak September 2023 dan berada secara signifikan di atas target Bank Sentral Eropa yang dipatok sebesar 2.0%.

Lonjakan harga energi mencapai 10.8%, yang merupakan peningkatan paling tajam sejak Februari 2023. Inflasi juga meningkat untuk barang industri non-energi sebesar 0.8% dan makanan belum olahan sebesar 4.6%.

Pertumbuhan harga melambat untuk layanan menjadi 3.0% serta makanan olahan, alkohol, dan tembakau di 1.6%. Tingkat inflasi inti mereda menjadi 2.2% dari 2.3%.

Di antara ekonomi utama zona euro, inflasi mengalami akselerasi di Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol, tetapi termoderasi di Belanda. Untuk pembacaan bulan Mei 2026 pekan ini, konsensus memperkirakan inflasi Kawasan Euro akan mencapai angka 3.3% hingga 3.4%.

Pembukaan Lapangan Kerja (JOLTS) AS April 2026

Pembukaan lapangan kerja di Amerika Serikat turun sebanyak 56.000 menjadi 6.866 juta pada Maret 2026. Angka ini tercatat sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang berada di 6.84 juta.

Jumlah pembukaan pekerjaan mengalami penurunan pada sektor layanan profesional dan bisnis sebanyak 318.000 pekerjaan, tetapi meningkat di sektor keuangan dan asuransi sebanyak 98.000 pekerjaan.

Secara regional, pembukaan pekerjaan turun di wilayah Selatan, Midwest, dan Barat, namun naik di wilayah Timur Laut. Tingkat perekrutan meningkat menjadi 5.6 juta dengan total pemisahan tenaga kerja sedikit berubah di angka 5.4 juta.

Rilis data pembukaan lapangan kerja untuk bulan April 2026 diproyeksikan konsensus akan berada di kisaran 6.87 juta pekerjaan.

Non-Farm Payrolls (NFP) AS Mei 2026

Ekonomi Amerika Serikat menambahkan 115.000 pekerjaan pada April 2026, menyusul revisi ke atas sebesar 185.000 pada Maret. Realisasi ini berada jauh di atas perkiraan pasar sebesar 62.000 pekerjaan.

Penambahan pekerjaan terbesar terjadi di layanan kesehatan, transportasi dan pergudangan, serta perdagangan eceran. Pekerjaan pemerintah federal terus menurun, diiringi penurunan di sektor informasi dan manufaktur.

Angka ini menunjukkan moderasi dalam perekrutan sekaligus menandai peningkatan bulanan berturut-turut pertama dalam lapangan kerja dalam hampir satu tahun terakhir.

Hal ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat secara bertahap mendingin tetapi tetap berjalan secara tangguh. Data NFP untuk bulan Mei 2026 diperkirakan akan mencatat penambahan di kisaran 96.000 hingga 102.000 pekerjaan.

Tingkat Pengangguran AS Mei 2026

Tingkat pengangguran Amerika Serikat bertahan di angka 4.3% pada April 2026, yang berjalan sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun demikian, jumlah pengangguran naik sebanyak 134.000 menjadi 7.37 juta orang, sementara total kesempatan kerja turun sebanyak 226.000 menjadi 162.62 juta orang.

Angkatan kerja menyusut 92.000 menjadi 170.0 juta, mendorong tingkat partisipasi angkatan kerja turun 0.1 poin persentase menjadi 61.8%. Tingkat ini merupakan level terendah sejak Oktober 2021.

Tingkat kesempatan kerja juga menurun menjadi 59.1% dari sebelumnya 59.2%. Tingkat pengangguran U-6 yang mencakup pekerja yang putus asa dan setengah pengangguran meningkat menjadi 8.2% dari 8.0%. Angka pengangguran untuk bulan Mei 2026 diproyeksikan akan tetap stabil pada kisaran 4.3% hingga 4.4%.

Kewajiban Repatriasi DHE SDA 100% Berlaku 1 Juni 2026

Pemerintah Republik Indonesia secara resmi memberlakukan ketentuan operasional terbaru terkait penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam terhitung mulai 1 Juni 2026 melalui regulasi Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026.

Eksportir sumber daya alam sektor nonmigas diwajibkan untuk menempatkan 100% devisa hasil ekspor pada rekening khusus di dalam negeri selama masa tenggang minimal 12 bulan.

Eksportir sektor migas diwajibkan menempatkan sedikitnya 30% devisa selama paling singkat tiga bulan. Pemerintah turut membatasi konversi valuta asing ke Rupiah maksimal sebesar 50%.

Insentif perpajakan telah disiapkan bagi entitas yang patuh, berupa pengenaan tarif Pajak Penghasilan yang lebih rendah dan bahkan dapat mencapai 0% yang disesuaikan dengan jangka waktu penempatan dana di perbankan nasional.

DSI Resmi Mengelola Ekspor Komoditas Strategis

Dalam langkah perbaikan tata kelola sumber daya alam, pemerintah telah membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia yang akan beroperasi mengelola mekanisme ekspor satu pintu komoditas strategis nasional.

Mulai 1 Juni 2026, pelaksanaan pada tahap awal akan difokuskan pada tiga komoditas ekspor terbesar yakni batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy.

Berdasarkan catatan tahun sebelumnya, nilai ekspor gabungan ketiga komoditas tersebut mencapai US$66.13 miliar atau berkontribusi sekitar 23.4% dari total ekspor nasional.

Regulasi satu pintu ini ditujukan untuk memperkuat instrumen pengawasan ekspor, menekan nilai transaksi ilegal, serta mencegah praktik penurunan pelaporan harga.

Operasional penuh akan direalisasikan pada 1 Januari 2027 setelah evaluasi berkala dampak penerimaan negara dilaksanakan setiap tiga bulan pada masa transisi ini.

Konferensi Pers kesiapan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026). (*REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)Konferensi Pers kesiapan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026). (*REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana) Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Pembatasan Pembelian Dolar AS Menjadi US$25.000

Bank Indonesia terus mengkalibrasi instrumen peraturannya di pasar valuta asing untuk menjaga kelancaran stabilitas nilai tukar Rupiah.

Melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 7 Tahun 2026, bank sentral resmi menurunkan batasan transaksi pembelian dolar tanpa dokumen underlying dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per April 2026, dan kembali dipersempit menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang berlaku mulai awal Juni 2026.

Kebijakan disiplin pencatatan dasar transaksi di pasar tunai ini dibarengi dengan perluasan relaksasi pada pasar derivatif, di mana batas transaksi tanpa underlying instrumen seperti forward jual dan swap ditingkatkan menjadi US$10 juta per transaksi.

Pelaku pasar juga akan terus didorong untuk beralih memanfaatkan skema Local Currency Transaction dalam perdagangan bilateral yang volumenya telah menyentuh pencapaian US$22.61 miliar hingga April 2026.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular