MARKET DATA
Newsletter

The Fed Galak, Bunga Utang Mencekik: BI-Pemerintah Siapkan Jurus Baru

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 September 2026 06:25
Papan di atas lantai perdagangan menunjukkan angka penutupan indeks industri Dow Jones di Bursa Efek New York, Jumat, 2 Agustus 2024. Saham anjlok pada hari Jumat karena kekhawatiran ekonomi AS dapat terpuruk akibat beban suku bunga tinggi yang dimak
Foto: Gubernur BI Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers Sinergi Kebijakan Moneter & Fiskal di Ruang Konferensi Pers, Gedung Thamrin Lantai 1, Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street berakhir beragam pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham jatuh karena imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS yang berada di level tertinggi dalam beberapa dekade terus menekan saham-saham siklikal.

Indeks Dow Jones turun 161,61 poin atau 0,31% ke level 51.349,98. Dow Jones turun tiga hari beruntun. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,02% menjadi 7.704,13. Sementara itu, Nasdaq Composite naik tipis 0,01% ke 26.939,37.

Saham-saham sempat memangkas pelemahannya setelah ada laporan jika negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran di New York tengah mempertimbangkan kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik di Timur Tengah secara bertahap.

Dalam kesepakatan tersebut, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, sementara AS mencabut blokade ekonominya terhadap Teheran.

Namun, harga minyak dan yield obligasi tetap berada di level tinggi. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, naik lebih dari 3% dan ditutup di atas US$106 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,7% menjadi US$94,61 per barel.

Yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi 5,501%, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2004.

Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) melonjak ke 5,223%, level yang belum pernah dicapai sejak Juni 2007. Yield Treasury tenor 2 tahun juga naik menjadi 4,941%.

 

Seiring lonjakan yield, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral AS The Fed juga meningkat.

Proyeksi kini melihat hampir 71% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya pada Oktober. Angka tersebut naik dari sekitar 55% sepekan sebelumnya.

Yield obligasi yang lebih tinggi cenderung menekan kondisi keuangan konsumen karena biaya pinjaman meningkat, di tengah masyarakat yang juga harus membayar biaya bahan bakar lebih mahal.

Namun, data pada Rabu (23/9/2026) dari indeks purchasing managers' index (PMI) manufaktur dan jasa S&P Global menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di AS masih terus tumbuh kuat.

"Perekonomian terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi kekuatan tersebut membuat kekhawatiran inflasi tetap hidup dan mendorong suku bunga lebih tinggi," kata Jason Stephens, pendiri Evertern Wealth, kepada CNBC International.

"Pasar obligasi mungkin menjadi pasar yang paling penting untuk diperhatikan saat ini," lanjutnya.

 

Menurut Stephens, persoalan yang lebih besar bukan lagi apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tetapi berapa lama suku bunga akan tetap tinggi. Ini akan berdampak pada yield Treasury 10 tahun di atas 5% terhadap sektor perumahan, pinjaman korporasi, pasar swasta, serta valuasi saham.

Ia juga menyebut sektor energi sebagai salah satu faktor yang paling menentukan.

Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak secara cepat akibat perkembangan konflik di Timur Tengah akan langsung memengaruhi pembahasan mengenai inflasi dan suku bunga."Investor mengkhawatirkan suku bunga karena data ekonomi kuat, bukan karena perekonomian sedang runtuh," ujar Stephens.

(evw/evw)


Most Popular
Features