MARKET DATA

Rupiah Keok Lawan 10 Mata Uang Ini, Paling Buruk Lawan Australia-China

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 September 2026 16:10
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia -Tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan betapa cepatnya pergerakan di pasar valuta asing. Dalam waktu yang relatif singkat, posisi mata uang Garuda bisa berubah mengikuti berbagai perkembangan di pasar.

Merujuk data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Kamis (24/9/2026) sempat menyentuh Rp17.900/US$.

Kurs tersebut kembali mendekati level psikologis Rp18.000/US$, yang belum lama ini juga sempat disentuh rupiah. Tekanan terhadap nilai tukar turut menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) saat menaikkan BI Rate dengan total 100 basis poin pada Mei hingga Juni 2026.

Menjelang penutupan, rupiah membaik 15 poin dari posisi terlemahnya dan mengakhiri perdagangan di Rp17.885/US$. Meski demikian, rupiah masih melemah 0,51% dibandingkan penutupan Rabu di Rp17.795/US$.

Sejak awal tahun atau secara year to date (YTD), pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencapai sekitar 7,29%, dari Rp16.670/US$ menjadi Rp17.885/US$.

Pelemahan rupiah terjadi ketika dolar AS menguat di pasar global. Hal itu tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang kembali berada di kisaran 101. Penguatan dolar menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang tersebut, yang turut memberi tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.

Kabar rupiah melemah terhadap dolar AS mungkin sudah sering terdengar. Namun, dolar AS ternyata bukan satu-satunya mata uang yang menguat terhadap rupiah sepanjang tahun ini. Jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang lain, penurunan rupiah bahkan ada yang lebih dalam.

Karena itu, CNBC Indonesia melihat kinerja rupiah terhadap sejumlah mata uang dunia menggunakan data Refinitiv. Perbandingan ini mencakup dolar AS, enam mata uang penyusun DXY, serta beberapa mata uang lain yang ramai diperdagangkan di dunia.

Dari 11 mata uang dalam daftar, rupiah melemah paling dalam terhadap dolar Australia, yakni 13,16% sejak awal tahun. Kursnya bahkan sudah melampaui Rp12.500 per dolar Australia. Selanjutnya, rupiah mesti terdepresiasi cukup dalam terhadap yuan China. Dengan pelemahan 11,78% kurs satu yuan kini sudah setara dengan Rp2.600.

Serta juga dengan mata uang tetangga yakni dolar Singapura. Rupiah mengalami tekanan sebesar 7,88% dan membuat kurs SGD kini sudah mencapai hampir Rp14.000.

Ketiganya mencatatkan penguatan lebih besar terhadap rupiah dibandingkan dolar AS, yang mencapai 7,29%.

Hanya krona Swedia yang bergerak sebaliknya. Rupiah menguat tipis 0,27% terhadap mata uang tersebut. Selebihnya, rupiah kehilangan nilai terhadap seluruh mata uang dalam daftar.

Perubahan kurs ini terasa ketika rupiah harus ditukar ke mata uang lain. Khususnya bagi para Masyarakat Tanah Air yang perlu menyiapkan lebih banyak uang untuk membayar pengeluaran di luar negeri.Begitu pula keluarga yang mengirim biaya hidup dan kuliah kepada anaknya di negara-negara tersebut.

Besarnya tambahan biaya bergantung pada mata uang yang digunakan untuk membayar kebutuhan tersebut.

Faktor Pelemahan Mata Uang Garuda

Pergerakan rupiah juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan pelaku pasar saat menilai Indonesia. Nilai tukar dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, serta cara pasar memandang risiko suatu negara. Karena itu, tekanan rupiah sepanjang tahun ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan di luar maupun di dalam negeri.

Dari luar, penguatan dolar AS dan gejolak harga minyak turut memengaruhi pasar valuta asing.

Dari dalam negeri, pertanyaan mengenai arah kebijakan Indonesia juga sempat menguat. Pada Februari 2026, Moody's mengubah prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Fitch mengambil langkah serupa pada Maret. Kedua lembaga mempertahankan peringkat kredit Indonesia dan menurunkan prospeknya, bukan peringkatnya.

Penilaian berbeda datang dari S&P pada Juli. Lembaga tersebut mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Keputusan itu memberi pandangan yang lebih tenang di tengah kekhawatiran mengenai kredibilitas kebijakan, meski tidak berarti seluruh tekanan terhadap rupiah telah hilang.

Pasar juga mencermati kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran. Harga minyak yang tinggi dapat menambah kebutuhan subsidi dan kompensasi energi, sementara berbagai program pemerintah tetap membutuhkan belanja.

Meskipun Hingga akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% dari produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas 3%. Namun, defisit pada akhir 2025 mencapai 2,81% dari PDB. Di tengah kenaikan harga minyak, kebutuhan subsidi, dan belanja negara, pasar mencermati apakah pemerintah dapat menjaga defisit tahun ini tetap di bawah 3%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular