Ini Perjalanan Rupiah dari Rp17.000 - Rp18.000, Ini Titik Krusialnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin hari semakin dalam. Mata uang Garuda kini bahkan sudah menembus level psikologis baru di Rp18.000/US$.
Melansir data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Kamis (4/6/2026) per pukul 13.09 WIB WIB terpantau berada di posisi Rp18.042/US$ atau melemah 0,57%. Ini kembali menjadi bersejarah bagi rupiah karena untuk pertama kalinya di pasar spot menembus level psikologis tersebut.
Pelemahan pagi ini melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah tajam 0,62% ke posisi Rp17.940/US$.
Dengan posisi tersebut, rupiah terus memperpanjang rentetan pelemahan yang dalam dua bulan terakhir semakin cepat menembus level-level psikologis baru.
Sebagai gambaran, rupiah di pasar spot pertama kali dalam sejarah menyentuh level Rp17.000/US$ secara intraday pada Rabu (1/4/2026). Namun, saat itu rupiah baru menyentuh level tersebut secara intraday.Â
Tak berselang lama, tepatnya pada Senin (6/4/2026), rupiah untuk pertama kalinya dalam sejarah ditutup di atas level Rp17.000/US$, yakni di posisi Rp17.030/US$.
Artinya, sejak penutupan pertama di atas Rp17.000/US$ pada 6 April 2026 hingga rupiah menembus Rp18.040/US$ pada Kamis pagi ini, mata uang Garuda sudah terdepresiasi sekitar 6,12%.
Pelemahan tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu 59 hari kalender atau rupiah hanya membutuhkan kurang dari dua bulan untuk melemah sekitar Rp1.000/US$.
Setelah level Rp17.000/US$ tertembus, tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Satu per satu level psikologis baru ditembus dalam waktu relatif singkat.
Berikut rangkuman titik-titik pelemahan rupiah:
1. Rp17.100/US$
Rupiah mulai menyentuh area Rp17.100/US$ secara intraday pada Selasa (7/4/2026). Pada hari itu, rupiah sempat bergerak ke level Rp17.105/US$.
Namun, penutupan pertama di atas Rp17.100/US$ baru terjadi pada Selasa (14/4/2026). Saat itu, rupiah ditutup di level Rp17.110/US$.
Artinya, setelah pertama kali menutup perdagangan di atas Rp17.000/US$, rupiah hanya membutuhkan sekitar sepekan untuk naik ke area psikologis berikutnya.
2. Rp17.200/US$
Tekanan berikutnya terlihat pada Kamis (23/4/2026). Rupiah bukan hanya menembus Rp17.200/US$, tetapi juga sempat bergerak lebih jauh hingga Rp17.320/US$.
Pada akhir perdagangan, rupiah ditutup di level Rp17.280/US$. Pergerakan hari itu menjadi salah satu lompatan besar karena rupiah langsung melewati area Rp17.200/US$ dan mendekati Rp17.300/US$ dalam satu hari perdagangan.
3. Rp17.300/US$
Masih pada Kamis (23/4/2026), rupiah juga sempat menyentuh area Rp17.300/US$ secara intraday, dengan posisi tertinggi harian di Rp17.320/US$.
Namun, rupiah baru benar-benar ditutup di atas Rp17.300/US$ pada Kamis (30/4/2026). Saat itu, rupiah berada di level Rp17.305/US$.
Dengan posisi tersebut, rupiah menutup April 2026 dalam kondisi sudah jauh berada di atas level Rp17.000/US$.
4. Rp17.400/US$
Memasuki Mei, tekanan terhadap rupiah berlanjut. Pada Selasa (5/5/2026), rupiah menembus level Rp17.400/US$.
Dalam perdagangan hari itu, rupiah sempat menyentuh Rp17.445/US$ dan ditutup di Rp17.410/US$.
Level ini menunjukkan pelemahan rupiah belum berhenti setelah April berakhir. Mata uang Garuda justru membuka bulan Mei dengan tekanan yang masih besar.
5. Rp17.500/US$
Level Rp17.500/US$ mulai tersentuh pada Selasa (12/5/2026). Rupiah sempat bergerak ke Rp17.525/US$ pada perdagangan intraday.
Meski demikian, rupiah belum ditutup di atas Rp17.500/US$ pada hari itu. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.490/US$, hanya sedikit di bawah batas psikologis tersebut.
6. Rp17.600/US$
Pelemahan rupiah semakin dalam pada Senin (18/5/2026). Pada hari itu, rupiah menembus Rp17.600/US$, sempat bergerak hingga Rp17.670/US$, dan ditutup di Rp17.640/US$.
Depresiasi rupiah kala itu juga tercatat menjadi pelemahan harian terdalam rupiah terahadap greenback di sepanjang 2026 ini.
7. Rp17.700/US$
Hanya sehari setelah menyentuh area Rp17.600/US$, rupiah kembali menembus level psikologis berikutnya di Rp17.700/US$.
Level tersebut pertama kali tersentuh secara intraday pada Selasa (19/5/2026). Saat itu, rupiah sempat bergerak ke Rp17.730/US$, meski akhirnya ditutup di Rp17.695/US$.
Adapun penutupan pertama rupiah di atas Rp17.700/US$ baru terjadi pada Senin (25/5/2026). Pada perdagangan tersebut, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.730/US$.
Menariknya, pelemahan lanjutan ini terjadi tidak lama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rabu (20/5/2026).
Dengan begitu, kenaikan BI Rate belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek. Mata uang Garuda masih melanjutkan pelemahan dan kembali mencetak level psikologis baru.
8. Rp17.800/US$
Setelah libur Idul Adha yang berlangsung pada Rabu-Kamis (27-28/5/2026), rupiah kembali mendapat tekanan besar. Pada Jumat (29/5/2026), rupiah dibuka langsung anjlok ke level Rp17.800/US$.
Sepanjang perdagangan, tekanan kian membesar dan rupiah sempat bergerak hingga Rp17.885/US$. Pada akhir perdagangan, mata uang Garuda ditutup di Rp17.865/US$.
9. Rp17.900/US$
Level psikologis Rp17.900/US$ baru saja tertembus pada perdagangan kemarin, Rabu (4/6/2026). Bahkan rupiah ditutup pada posisi yang jauh lebih lemah yakni di level Rp17.940/US$.
10. Rp18.000/US$
Tak butuh waktu lama, level Rp18.000/US$ akhirnya tertembus pada Kamis (4/6/2026) pagi.
Dengan posisi tersebut, rupiah resmi menembus level psikologis baru di pasar spot. Pelemahan ini sekaligus memperlihatkan betapa cepat tekanan terhadap rupiah terjadi dalam dua bulan terakhir.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google