Tiba-tiba Rupiah Balik Menguat Tajam, Benar Purbaya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah perlahan tapi pasti mulai memasuki tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Setelah sempat tertekan dari greenback hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000/US$, rupiah justru berbalik arah dan mulai mencatat tren positif di akhir Januari 2026.
Merujuk data Refinitiv, di awal tahun rupiah membuka perdagangan dengan posisi Rp16.670/US$ pada 2 Januari 2026. Namun, memasuki pertengahan Januari, tekanan menguat dan rupiah beberapa kali sampai menorehkan rekor penutupan terlemah sepanjang masa baru.
Puncaknya terjadi pada Selasa (20/1/2026) ketika rupiah menyentuh Rp16.985/US$ secara intraday atau tinggal selangkah lagi menuju level Rp17.000/US$.
Menariknya, setelah momen tersebut, rupiah justru berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan penguatan dalam empat hari perdagangan beruntun.
Penguatan dimulai pada Rabu (21/1/2026) saat rupiah ditutup menguat 0,09% ke Rp16.930/US$. Tren positif berlanjut pada Kamis (22/1/2026), ketika rupiah ditutup di Rp16.880/US$ atau menguat 0,30%. Penguatan kemudian makin terasa pada Jumat (23/1/2026) dengan lonjakan 0,41% dan rupiah ditutup di Rp16.810/US$.
Rupiah masih melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan terakhir, Senin (26/1/2026), dengan apresiasi 0,24% ke level Rp16.770/US$.
Artinya, sejak menyentuh level terlemah intraday di Rp16.985/US$ pada 20 Januari 2026 hingga penutupan terakhir di Rp16.770/US$ pada 26 Januari 2026, rupiah telah menguat sekitar 1,27%.
Prediksi Purbaya Benar?
Penguatan rupiah ini sebelumnya sempat diprediksi oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ketika ditemui wartawan pada Rabu (14/1/2026).
Purbaya meyakini nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat dalam dua minggu ke depan, dengan salah satu pendorongnya adalah keyakinan atas kembalinya aliran dana asing ke aset domestik.
Purbaya menegaskan bahwa urusan rupiah merupakan wewenang Bank Indonesia. Namun, ia melihat ketika ekonomi membaik, kepercayaan investor asing juga akan ikut pulih. Pada akhirnya, kondisi ini dinilai dapat mendorong penguatan rupiah.
"Modal-modal asing akan masuk. Mereka masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Purbaya saat ditemui wartawan, Rabu (14/1/2026).
Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 akan mencapai 5,45%. Menurutnya, angka ini bisa menjadi basis kuat agar pertumbuhan ekonomi bergerak ke arah 6% pada tahun ini.
"Kita akan dorong ke arah sana. Jadi kalau itu mereka udah yakin. Jadi Anda gak usah takut. Fondasi kita kuat," paparnya.
Selain dana asing, Purbaya juga menyinggung potensi kembalinya dana warga Indonesia yang sempat ditempatkan di luar negeri.
"Rupiah akan kuat karena modal akan masuk ke sini. Dan orang Indonesia yang naro uangnya di sana, ke luar negeri juga akan balik," ujar Purbaya.
Purbaya bahkan menambahkan keyakinannya bahwa dana-dana tersebut akan kembali karena keterbatasan ruang untuk berbisnis di luar negeri.
"Mereka gak biasa bersaing sehat di sana," ujarnya.
Dengan patokan pernyataan Purbaya, target dua minggu itu akan jatuh pada Rabu 28 Januari 2026.
Menjelang tenggat tersebut, pergerakan rupiah memang sudah memberi sinyal bahwa prediksinya mulai terbukti. Rupiah tidak hanya berhasil menjauh dari ambang psikologis Rp17.000/US$, tetapi juga mencatat penguatan beruntun hingga ditutup di Rp16.770/US$ pada Senin 26 Januari 2026.
Bahkan pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa 27 Januari 2026, rupiah kembali dibuka menguat di level Rp16.760/US$.
Rangkaian penguatan ini menunjukkan tekanan yang sempat ekstrem di pertengahan Januari mulai mereda, sekaligus membuka ruang bagi rupiah untuk melanjutkan fase pemulihan terhadap dolar AS seiring meningkatnya optimisme terhadap masuknya kembali aliran modal ke aset domestik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)