530.000 Gelas Ludes/Hari, Kopi Kenangan Bongkar Gaya Ngopi Baru RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi sebagian masyarakat Indonesia, minum kopi kini bukan lagi sekadar aktivitas untuk mengusir kantuk. Kopi telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, diminum sebelum memulai pekerjaan, menemani rapat, menjadi teman mengerjakan tugas, hingga dikonsumsi saat bertemu dengan teman.
Perubahan kebiasaan tersebut tercermin dari tingginya konsumsi kopi di Indonesia. Salah satu gambaran skalanya terlihat dari Kopi Kenangan. Sepanjang periode 1 Juni 2025 hingga 31 Juli 2026, jaringan kedai kopi tersebut mencatat penjualan rata-rata 530.000 gelas per hari.
Jika ritme tersebut dipertahankan selama setahun, jumlahnya setara dengan lebih dari 193 juta gelas.
Kopi Bukan Lagi Sekadar Pengusir Kantuk
Perubahan tersebut bukan terjadi dalam semalam. Dalam sekitar satu dekade terakhir, kopi berkembang dari komoditas perkebunan dan minuman tradisional menjadi bagian dari industri gaya hidup dengan pasar yang semakin luas.
Data Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia September 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran untuk kelompok minuman jadi, termasuk kopi, telah masuk dalam tujuh besar pengeluaran konsumsi makanan masyarakat Indonesia.
Rata-rata pengeluaran per kapita per minggu untuk kelompok tersebut mencapai Rp3.982, dengan konsumsi sekitar 1,04 gelas per minggu. Angka tersebut menunjukkan bahwa minuman jadi telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat sehari-hari.
Jika ditarik lebih jauh, perubahan juga terlihat dari konsumsi kopi nasional.
Outlet Kopi Kenangan. (Dok. Kopi Kenangan) Foto: Outlet Kopi Kenangan. (Dok. Kopi Kenangan) |
Dari Ngopi ke Bagian dari Rutinitas
Menjamurnya kedai kopi membuat coffee shop memiliki fungsi yang semakin luas. Kedai tidak hanya menjadi tempat membeli minuman, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu teman, melakukan rapat informal, mengerjakan tugas, bekerja, menunggu transportasi, hingga sekadar mengambil minuman sebelum melanjutkan aktivitas.
Pola tersebut juga tercermin dalam strategi ekspansi Kopi Kenangan.
Outlet Kopi Kenangan. (Dok. Kopi Kenangan) Foto: Outlet Kopi Kenangan. (Dok. Kopi Kenangan) |
Mayoritas konsumennya berada pada rentang usia 26-34 tahun, kelompok usia produktif yang mencakup Gen Z dan Milenial, dengan pendapatan sekitar Rp6 juta-Rp7 juta per bulan. Gerai Kopi Kenangan ditempatkan di berbagai lokasi yang dekat dengan aktivitas harian, mulai dari kawasan perkantoran dan pusat bisnis hingga mal, sekolah, dan kampus.
Dengan demikian, kopi tidak lagi menjadi konsumsi sesekali. Bagi konsumen yang rutin membeli, kopi telah masuk ke dalam pola hidup sehari-hari yakni dibeli sebelum bekerja, saat rapat, ketika bertemu teman, maupun ketika bekerja dari cafe.
Perubahan kebiasaan ini juga menuntut industri kopi untuk terus mengikuti perubahan selera konsumen.
Pada 2020, Kopi Kenangan memiliki 17 menu permanen. Jumlah tersebut berkembang menjadi 44 menu pada 2026, menunjukkan bagaimana industri kopi modern terus memperluas pilihan rasa untuk menjangkau selera konsumen yang semakin beragam.
Salah satu perubahan selera yang paling kuat terlihat dari semakin populernya kopi susu gula aren.
Ketika Gula Aren Mengubah Cara Orang Minum Kopi
Kopi yang secara tradisional identik dengan rasa pahit dan sajian kopi hitam kini semakin sering hadir dalam bentuk yang berbeda: dingin, manis, creamy, dengan perpaduan espresso, susu, dan gula aren.
Kopi susu gula aren menjadi salah satu produk yang mempertemukan karakter kopi modern dengan cita rasa lokal.
Pohon aren (Istimewa) Foto: Pohon aren (Istimewa) |
Gula aren bukan bahan baru bagi masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, bahan ini telah digunakan dalam berbagai makanan dan minuman tradisional. Namun, melalui industri kopi modern, gula aren memperoleh peran baru sebagai bagian dari minuman yang dikonsumsi secara massal.
Perpaduan rasa manis dan aroma karamel dari gula aren dengan susu dan espresso membuat kopi lebih mudah diterima oleh konsumen yang mungkin tidak terbiasa dengan rasa kopi hitam.
Kopi Kenangan menghadirkan kombinasi tersebut melalui Kenangan Mantan, salah satu menu yang menjadi bagian dari perkembangan kopi susu gula aren di Indonesia.
Gula Aren (Freepik) Foto: Gula Aren (Freepik) |
Besarnya permintaan terhadap minuman berbasis gula aren juga tercermin dari skala penggunaan bahan bakunya.
Sepanjang Juni 2025 hingga Juli 2026, Kopi Kenangan menyerap 41.597 ton gula aren. Pembelian tersebut mendukung sekitar 10.000 keluarga petani gula aren, dengan nilai ekonomi sekitar Rp41,6 miliar per tahun bagi produsen.
Dengan demikian, perubahan selera konsumen tidak berhenti di meja kasir. Ketika sebuah rasa menjadi populer dan dikonsumsi dalam skala besar, perubahan tersebut ikut menciptakan permintaan baru di sepanjang rantai pasok.
Dari Gaya Hidup Menjadi Mesin Ekonomi
Pada akhirnya, perubahan budaya ngopi di Indonesia bukan hanya cerita mengenai semakin banyaknya kedai kopi atau semakin banyaknya gelas yang terjual.
Dalam satu dekade terakhir, kopi telah mengalami perubahan peran. Dari minuman yang identik dengan kebutuhan untuk tetap terjaga, kopi berkembang menjadi bagian dari rutinitas, ruang sosial, sekaligus gaya hidup masyarakat urban.
Di saat yang sama, perubahan tersebut menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas, mulai dari gerai, tenaga kerja, bahan baku, hingga petani yang berada di hulu rantai pasok.
530.000 gelas yang terjual setiap hari hanyalah salah satu gambaran dari perubahan tersebut. Di balik setiap gelas kopi, terdapat perubahan cara masyarakat Indonesia menjalani hari, memilih rasa, dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi.
(mae/mae)



