AS, Eropa-China Umumkan Kabar Penting di Tengah Erupsi Gunung Krakatau
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat pekan lalu setelah laporan tenaga kerja Agustus jauh melampaui ekspektasi. Data tersebut memperbesar peluang bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 271,86 poin atau 0,51% dan ditutup pada level 53.414,25. S&P 500 terkoreksi 0,38% ke 7.718,60, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,29% menjadi 26.506,99.
Data Tenaga Kerja Jauh di Atas Ekspektasi
Jumlah pekerja nonpertanian atau nonfarm payrolls AS bertambah sebanyak 162.000 pada Agustus. Angka tersebut jauh melampaui konsensus ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan penambahan hanya 53.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran bertahan di posisi 4,1%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Selain pertumbuhan lapangan kerja yang kuat pada Agustus, data untuk Juni dan Juli juga direvisi naik.
Laporan tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan mendorong The Fed kembali memperketat kebijakan moneter.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Membesar
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS langsung melonjak setelah laporan tenaga kerja dirilis. Yield Treasury tenor dua tahun, yang sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter, mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa pekan mendatang, berdasarkan CME FedWatch Tool. Sehari sebelumnya, probabilitas tersebut masih berada di level 49,4%.
"Laporan tenaga kerja Agustus yang luar biasa mengingatkan kita bahwa statistik ketenagakerjaan ini telah menjadi sangat volatil, sekaligus sedikit meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September," kata Bradford Smith, manajer portofolio Janus Henderson Investors.
Menurut Smith, arah kebijakan The Fed selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi yang akan datang.
"Setelah penampilan hawkish Ketua The Fed Warsh di Jackson Hole pekan lalu, terdapat kecenderungan yang jelas bagi The Fed untuk mengambil tindakan apabila data mendatang tidak menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam proses disinflasi," ujarnya.
Sempat Menguat Berkat Komentar Waller
Tiga indeks utama Wall Street sebelumnya ditutup menguat pada perdagangan Kamis. Pasar mendapat dorongan dari penurunan yield Treasury setelah Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan dirinya cenderung mendukung suku bunga tetap dipertahankan.
Waller mendukung target suku bunga acuan tetap berada pada kisaran 3,5%-3,75% dalam pertemuan bank sentral pada 15-16 September.
Namun, sentimen tersebut tidak mampu bertahan setelah data tenaga kerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga.
Secara mingguan, Dow Jones terkoreksi 0,3%. Sementara itu, S&P 500 masih menguat tipis 0,1% dan Nasdaq mencatat kenaikan sebesar 0,4%.
Trump Ancam Hentikan Perdagangan
Presiden AS Donald Trump memuji laporan tenaga kerja Agustus yang melampaui perkiraan. Namun, ia pada saat bersamaan kembali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut angka ketenagakerjaan terbaru berhasil melampaui hampir seluruh perkiraan. Ia menilai kuatnya kondisi perekonomian membuat AS seharusnya memiliki tingkat bunga paling rendah dibandingkan negara lain.
Trump bahkan mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara tertentu apabila The Fed tidak menurunkan suku bunga. Ancaman tersebut terutama ditujukan kepada negara-negara yang mencatatkan surplus perdagangan terhadap AS.
Pernyataan itu memperlihatkan tekanan politik terhadap bank sentral semakin kuat, meskipun data ekonomi terbaru justru membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
(gls/gls)