Cuan Perusahaan Batu Bara China Bikin Melongo, Raksasa RI Kalah Jauh
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa batu bara China membukukan keuntungan besar pada semester I-2026. Kenaikan harga batu bara akibat perang Iran menjadi salah satu penopangnya.
China Shenhua menjadi pemimpin dengan laba bersih sekitar Rp75,53 triliun, naik 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara year on year.
Nilai tersebut setara sekitar sembilan kali laba PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Emiten Indonesia ini mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,37 triliun pada periode yang sama.
Selain keuntungan, skala produksinya juga besar. Lima grup produsen batu bara terbesar China menghasilkan total 877 juta ton sepanjang semester I-2026, sekitar 26,5 kali produksi AADI pada periode yang sama.
Seluruh konversi dalam artikel ini menggunakan asumsi kurs Rp2.630 per yuan dan Rp17.660 per dolar AS. Pertumbuhan YoY mengikuti laporan dalam mata uang asal, sehingga tidak memasukkan pengaruh perubahan kurs rupiah.
Sebagai catatan, rata-rata harga batu bara pada semester I-2026 tercatat US$129,23 per ton, harganya melesat dibandingkan rata-rata semester I-2025 (US$ 107,12 per ton).
Mayoritas Emiten China Cuan, Siapa Paling Besar?
Mengutip Sxcoal, lebih dari 70% perusahaan tercatat yang terkait dengan industri batu bara China membukukan laba pada semester I-2026. Pemulihan harga batu bara, disertai kenaikan harga jual dan volume penjualan pada sejumlah perusahaan, membantu memperbaiki keuntungan.
Di bawah Shenhua, Shaanxi Coal menempati posisi kedua dengan laba Rp29,64 triliun, disusul Ningxia Baofeng Energy sebesar Rp25,59 triliun. Yankuang Energy dan China Coal Energy melengkapi lima besar, masing-masing membukukan Rp21,59 triliun dan Rp21,43 triliun.
Pertumbuhan laba cukup tinggi pada sejumlah perusahaan. Yitai Coal mencatatkan kenaikan 82,45%, Baofeng Energy 70,14%, dan Yankuang Energy 54,23%. Namun, pemulihan belum merata karena beberapa perusahaan masih merugi atau mengalami penurunan keuntungan.
Berikut kinerja 45 perusahaan dalam tabel Sxcoal setelah dikonversi menjadi rupiah.
Dibandingkan Indonesia, Seberapa Jauh Selisihnya?
Perusahaan batubara terbesar di Indonesia adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). AADI membukukan pertumbuhan laba bersih 10,52% YoY, dari setara Rp7,57 triliun menjadi Rp8,37 triliun menggunakan kurs yang sama. Secara persentase, pertumbuhannya melampaui kenaikan laba Shenhua sebesar 4,1%.
Namun, secara nominal, keuntungan Shenhua masih jauh lebih besar. Dengan laba sekitar Rp75,53 triliun berbanding Rp8,37 triliun, selisih keuntungan keduanya mencapai Rp67,17 triliun dalam enam bulan pertama 2026.
Artinya, laba satu Shenhua hampir menyamai gabungan laba sembilan perusahaan yang masing-masing menghasilkan keuntungan sebesar AADI. Perbandingan ini memberikan gambaran besarnya skala keuntungan perusahaan China tersebut.
Cakupan bisnisnya juga perlu diperhatikan. Shenhua memiliki usaha terintegrasi, mulai dari pertambangan, pembangkit listrik, kereta api, pelabuhan, hingga pelayaran dan industri kimia berbasis batu bara. Karena itu, labanya tidak hanya mencerminkan aktivitas penambangan.
Angka laba Shenhua dalam tabel menggunakan standar akuntansi China. Dalam laporan berbasis IFRS, laba yang diatribusikan kepada pemegang saham setara Rp81,67 triliun. Rasio sembilan kali dalam artikel ini mengikuti angka yang digunakan Sxcoal.
Produksi Shenhua 7,5 Kali AADI
Shenhua menghasilkan 249,9 juta ton batu bara komersial sepanjang semester I-2026, turun 3,6% YoY berdasarkan angka pembanding yang disajikan kembali. Sementara itu, produksi AADI mencapai 33,1 juta ton, dengan penjualan sebesar 33,5 juta ton.
Dengan volume tersebut, produksi Shenhua setara sekitar 7,5 kali produksi AADI. Meski produksinya menurun, laba Shenhua tetap meningkat, menunjukkan bahwa keuntungan perusahaan turut dipengaruhi harga jual, biaya, serta kontribusi berbagai segmen usahanya.
Pada tingkat grup, skala produksi China lebih besar lagi. CHN Energy, induk pengendali Shenhua, menghasilkan 294 juta ton batu bara mentah dan memimpin daftar lima grup produsen terbesar pada semester I-2026.
Lima Grup Kuasai 37% Produksi
Total produksi lima grup tersebut mencapai 877 juta ton, setara sekitar 37% dari produksi batu bara mentah perusahaan industri China di atas ambang batas statistik, yang mencapai 2,37 miliar ton pada semester I-2026.
Jika dibandingkan dengan AADI, volumenya sekitar 26,5 kali produksi AADI. Perbandingan ini bersifat indikatif karena angka China menggunakan produksi batu bara mentah tingkat grup, sementara angka AADI mengikuti pelaporan operasional perusahaan.
Produksi CHN Energy dan Shenhua tidak boleh dijumlahkan karena memiliki hubungan induk dan anak usaha. Adapun total 877 juta ton merupakan produksi lima grup terbesar, bukan keseluruhan 45 perusahaan dalam tabel laba.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)