Harga Batu Bara "Mati", Kekuatan Pasar Dunia Lagi Terbelah
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tak bergerak. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (6/4/2026) ditutup di posisi US$ 139,3 per ton atau stagnan.
Tertahannya harga batu baar disebabkan ada faktor tarik menarik. Di sisi lain, banyak negara tengah kembali beburu batu bara karena melonjaknya harga minyak. Namun, permintaan di beberapa negara justru melemah.
Vietnam mengusulkan untuk meningkatkan kapasitas produksi batubara hingga 15% guna menjaga pasokan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kementerian Pertanian dan Lingkungan Vietnam mengusulkan agar produsen batubara domestik diizinkan meningkatkan produksi hingga maksimal 15% di atas kapasitas yang telah berlisensi.
Usulan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, yang terus mengganggu pasar energi global. Jalur transportasi utama seperti Selat Hormuz menghadapi potensi risiko, sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Di dalam negeri, permintaan listrik terus meningkat, sementara upaya mengamankan bahan bakar impor masih menghadapi ketidakpastian akibat volatilitas pasar, kendala logistik, tekanan harga, serta risiko pasokan.
Kementerian tersebut juga mengusulkan penyesuaian izin pertambangan mineral agar memungkinkan peningkatan kapasitas produksi batubara hingga maksimal 15% dari kapasitas izin yang ada.
Kementerian menyatakan bahwa batubara domestik tetap menjadi sumber energi dasar yang krusial, penting untuk menjaga stabilitas operasi sistem kelistrikan, mendukung produksi industri, serta menjamin ketahanan energi nasional.
Jika disetujui, kebijakan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik dan industri utama, sekaligus memperkuat ketahanan energi.
Selain itu, kebijakan ini juga memungkinkan pemanfaatan kapasitas tambang yang ada secara lebih optimal-termasuk peralatan, teknologi, tenaga kerja, dan infrastruktur-sehingga meningkatkan efisiensi dan mempercepat konversi kapasitas menjadi produksi nyata.
Pasar China Adem
Pasar batu bara China kembali menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Di tengah lemahnya permintaan musiman, penurunan stok di pelabuhan justru menjadi penahan harga agar tidak jatuh lebih dalam.
Data terbaru menunjukkan stok batu bara termal di pelabuhan wilayah utara China terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan ini bukan dipicu lonjakan permintaan, melainkan gangguan dari sisi pasokan.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya distribusi, termasuk perawatan jalur kereta utama yang mengangkut batubara dari tambang ke pelabuhan. Kondisi ini membuat suplai yang masuk ke pelabuhan menyusut.
Di sisi lain, permintaan batu bara justru sedang berada dalam fase lemah. Saat ini China berada di periode transisi, bukan musim puncak konsumsi listrik seperti musim panas atau musim dingin.
Akibatnya, pembelian dari pembangkit listrik cenderung terbatas, sementara aktivitas perdagangan juga relatif sepi.
Namun menariknya, harga batu bara tidak mengalami penurunan tajam. Penurunan stok di pelabuhan berperan sebagai "buffer" yang menahan tekanan penurunan harga.
Artinya, meskipun fundamental permintaan sedang lemah, keterbatasan pasokan membuat harga tetap bertahan.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan tarik-menarik antara supply dan demand. Permintaan melemah karena faktor musiman sementara pasokan ke pelabuhan terganggu akibat kendala logistik.
Kombinasi ini menghasilkan kondisi pasar yang cenderung stagnan. Harga tidak memiliki katalis untuk naik signifikan, tetapi juga tidak cukup lemah untuk jatuh tajam.
Fenomena serupa juga terlihat di pasar batu bara kokas (coking coal) China. Pasar menunjukkan sinyal campuran antara gangguan pasokan dan lemahnya permintaan.
Di satu sisi, terjadi pengetatan pasokan di sejumlah wilayah akibat inspeksi tambang, kecelakaan, hingga penghentian operasi sementara.
Namun di sisi lain, permintaan dari industri hilir seperti pabrik baja dan produsen kokas justru melemah. Hal ini mencerminkan aktivitas sektor baja yang belum pulih sepenuhnya.
Selain itu, sentimen pasar juga tertekan oleh pelemahan harga futures, yang membuat pelaku pasar cenderung menahan pembelian.
Secara teori, gangguan pasokan seharusnya mendorong harga naik. Namun dalam kondisi saat ini, lemahnya permintaan justru lebih dominan.
Akibatnya, harga coking coal tidak mampu menguat signifikan dan cenderung bergerak stagnan, bahkan dengan bias melemah.
(mae/mae)