MARKET DATA
Newsletter

Hari Ini! Revisi Aturan DHE-Insentif BI Berlaku, Inflasi Jadi Sorotan

mae,  CNBC Indonesia
01 September 2026 06:22
Dolar AS Tembus rp 17.000  Rupiah terlemah sepanjang Sejarah RI
Foto: Infografis/ Dolar AS Tembus rp 17.000 Rupiah terlemah sepanjang Sejarah RI/ Aristya Rahadian
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, saham menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street ambruk karena perang memanas
  • Rilis data ekonomi dan pengumuman perubahan aturan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir  beragam. Bursa saham menguat sementara rupiah melemah. 

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak mengakhiri perdagangan di zona hijau hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bis dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik arah dan menutup perdagangan Senin (31/8/2026) di zona hijau. Penguatan tipis terjadi di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi serta aksi penyesuaian portofolio investor menjelang efektifnya rebalancing MSCI.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup naik 7,36 poin atau 0,11% ke level 6.525,48. Sepanjang perdagangan, indeks sempat anjlok ke level 6.476,18, sebelum berbalik menguat dan menyentuh level tertinggi 6.528,10.


Penguatan IHSG terutama ditopang saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor keuangan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 9,32 poin terhadap indeks.

Saham lain yang turut menopang IHSG yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 3,24 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (BRMS) sebesar 2,97 poin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 2,81 poin, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 2,20 poin.

Dari sisi sektoral, penguatan dipimpin sektor industrial yang naik 0,50%, diikuti konsumer non-primer 0,42% dan konsumer primer 0,22%.

Namun, sejumlah sektor masih tertekan. Sektor kesehatan menjadi yang paling dalam terkoreksi, yakni 2,35%, disusul utilitas 0,88%, teknologi 0,67%, energi 0,27%, dan properti 0,20%.

Di jajaran saham pemberat indeks, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 8,67 poin. Berikutnya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 3,59 poin, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) sebesar 3,52 poin, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 3,41 poin.

Aktivitas perdagangan juga terpantau ramai. Total volume transaksi mencapai 51,3 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp25 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,39 juta kali.

Sebanyak 392 saham menguat, sementara 233 saham melemah dan 166 saham stagnan.

Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 434,22 miliar.

Rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pelemahan mata uang Garuda mulai mereda menjelang penutupan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Senin (31/8/2026) ditutup melemah 0,14% ke level Rp17.710/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga Rp17.755/US$. Namun, menjelang penutupan, rupiah berhasil memangkas pelemahan sebesar 45 poin.

Meski demikian, posisi penutupan tersebut masih lebih lemah 25 poin dibandingkan perdagangan Jumat (28/8/2026), ketika rupiah berada di level Rp17.685/US$.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,99% di Senin, dari 6,96% pada Jumat pekan lalu. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN tengah menurun karena dijual investor.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Bursa melemah setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang untuk pertama kalinya dalam sebulan. Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kenaikan sepanjang Agustus.

Indeks S&P 500 turun 0,33% ke level 7.686,14. Nasdaq Composite melemah 0,12% menjadi 26.370,89. Sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 374,09 poin atau 0,7% ke 53.185,90.

Dow tertekan oleh penurunan saham Goldman Sachs dan Alphabet.

Ketegangan kembali meningkat setelah Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi bahwa militer AS pada Minggu menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.

Serangan tersebut menjadi serangan AS yang secara terbuka dikonfirmasi terhadap posisi Iran sejak akhir Juli. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran menyerang pangkalan militer AS di Yordania sebagai aksi balasan.

Harga Minyak Melonjak

Kembalinya aksi militer AS-Iran langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Sementara minyak mentah Brent menguat 2,71% ke US$90,49 per barel.

Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor panjang, sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.

Tom Hainlin, National Investment Strategist U.S. Bank Asset Management, menilai level harga minyak saat ini memang sudah relatif tinggi, tetapi belum cukup untuk memberikan pukulan besar terhadap perekonomian AS.

"Ekonomi dunia masih memiliki cukup minyak untuk kebutuhannya, dan harga US$80-US$90 tidak cukup membatasi hingga membuat ekonomi kolaps," ujarnya, kepada CNBC International.

Menurutnya, harga minyak saat ini hanya berada di batas atas kisaran tersebut dan belum mengubah prospek konsumsi masyarakat, dunia usaha, kecerdasan buatan (AI), manufaktur yang kembali ke AS, maupun elektrifikasi ekonomi.

Namun, situasinya bisa berbeda jika harga minyak menembus US$100 per barel. Menurut Hainlin, level tersebut mulai berpotensi menjadi beban yang cukup berat bagi perekonomian.

Wall Street Tetap Cetak Kenaikan di Agustus

Meski perdagangan akhir bulan diwarnai gejolak akibat meningkatnya ketegangan Timur Tengah, Wall Street tetap berhasil membukukan kenaikan secara luas sepanjang Agustus, dengan sektor teknologi menjadi motor utama.

Dow Jones naik lebih dari 1% sepanjang Agustus. Ini menjadi kenaikan bulanan kelima berturut-turut sekaligus bulan positif ke-15 dalam 16 bulan terakhir.

Sementara itu, S&P 500 melonjak 2,6% dan Nasdaq Composite melesat 3,9% sepanjang Agustus. Keduanya sekaligus mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Mei.

S&P 500 dan Dow Jones bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Agustus.

Dengan demikian, meski eskalasi AS-Iran kembali menjadi ancaman bagi pasar, Wall Street berhasil menutup Agustus dengan rapor positif.

Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumlah pengumuman data penting mulai dari inflasi, manufaktur hingga neraca dagang.

Dari luar negeri, kembali memanasnya perang Iran-AS dan jatuhnya Wall Street bisa menjadi sentimen buruk.

Berikut sejumlah sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Trump Ancam Serang Iran Lagi, Konflik Kembali Memanas

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran setelah kedua negara terlibat baku tembak langsung untuk pertama kalinya dalam sekitar sebulan.

Iran meluncurkan rudal ke dua pangkalan AS di Yordania sebagai balasan atas serangan AS terhadap Pulau Larak. Washington mengatakan serangan itu menargetkan peluncur Iran yang diduga bersiap menebarkan ranjau di Selat Hormuz.

"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada respons," kata Trump, dikutip dari Reuters.

Meski demikian, Trump mengatakan serangan terbaru tersebut belum berarti perang kembali ke skala penuh. Ia bahkan menyebut Iran telah "sepenuhnya dikalahkan secara militer".

Selain serangan militer, Washington terus menekan Teheran melalui sanksi sekunder terhadap negara dan perusahaan yang membeli minyak Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Iran mulai melakukan serangan karena tekanan ekonomi akibat sanksi semakin berat. AS bahkan berencana mengumumkan sanksi baru setiap pekan, dengan sektor perbankan menjadi sasaran awal.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran masih menginginkan penyelesaian melalui negosiasi.

Eskalasi terbaru menjadi ancaman bagi Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi kembali mengerek harga energi global.

Menyusul eskalasi, harga minyak kembali menyentuh level US$ 90 per barel.

2. Imbal Hasil US Treasury Kembali Melejit

Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun kembali naik pada perdagangan Senin (31/8/2026), mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan yield SBN sehingga beban utang pemerintah bertambah.

Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,76%, level tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak melonjak menyusul kembali pecahnya bentrokan AS dan Iran untuk pertama kalinya dalam sekitar sebulan.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi AS, sekaligus membuat pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada September.


Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan dalam simposium Jackson Hole pada Jumat lalu.

Warsh mengatakan The Fed masih "harus melakukan pekerjaan" jika para pembuat kebijakan belum mendapatkan keyakinan bahwa inflasi bergerak menuju target 2%.

Warsh selama ini konsisten menekankan pentingnya menurunkan inflasi. Namun, The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni dan Juli, sehingga waktu perubahan kebijakan berikutnya masih menjadi tanda tanya.

Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 64% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada September.

Jika terealisasi, kenaikan suku bunga akan memperketat kondisi keuangan dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk saham.

Di sisi lain, kenaikan yield Treasury dan harga minyak menjadi kombinasi yang perlu diwaspadai pasar karena dapat memperkuat kembali tekanan inflasi sekaligus membatasi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

3. PMI Manufaktur Indonesia

Data PMI manufaktur Indonesia Agustus akan dirilis hari ini Selasa (1/9/2026). Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,2 pada Juli 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada Juni 2026 (46,9).

Investor dan dunia usaha menunggu data ini untuk melihat kemampuan industri pengolahan Indonesia menjelang kuartal IV-2026.

Konsensus memperkirakan indeks naik tipis ke 50,5, dari 50,2 pada Juli. Jika kembali berada di atas level 50, sektor manufaktur Indonesia berarti masih berada di zona ekspansi.



Pada Juli 2026, aktivitas produksi kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak Februari, seiring stabilnya pesanan baru dan membaiknya kepercayaan pelanggan.
Kenaikan PMI ditopang oleh meningkatnya volume produksi setelah empat bulan berturut-turut mengalami penurunan.

Meski pertumbuhannya masih terbatas, pelaku usaha melaporkan adanya perbaikan permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan.

Namun, lonjakan harga bahan baku masih menjadi penghambat pemulihan yang lebih kuat. Sejalan dengan itu, pesanan baru (new orders) masih stabil setelah mengalami kontraksi tajam pada Juni 2026.

4. Inflasi Indonesia dan Neraca Dagang

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan dua data penting pada hari ini Selasa (1/9/2026) yakni inflasi Agustus 2026 dan neraca dagang Juli 2026. Data ini penting untuk mengukur komoditas pangan dan non-pangan mana yang mengalami lonjakan serta dampaknya ke Indonesia.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia diperkirakan naik atau mengalami inflasi pada Agustus 2026. Kenaikan IHK terutama dipicu meningkatnya harga sejumlah bahan pangan, emas, dan biaya pendidikan.
Namun, penurunan tarif pesawat dan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan menahan tekanan inflasi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, dari 13 institusi/lembaga memperkirakan IHK secara bulanan (month-to-month/mtm) naik atau mengalami inflasi sebesar 0,17%.

Sementara itu, IHK secara tahunan (year-on-year/yoy) diperkirakan naik atau mengalami inflasi sebesar 3,11%.

Sebagai catatan, pada rilis inflasi sebelumnya untuk periode Juli 2026, tercatat mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm), sedangkan secara tahunan terjadi inflasi sebesar 2,88% (yoy).

Dengan demikian, IHK diperkirakan berbalik naik secara bulanan setelah mengalami penurunan pada Juli. Inflasi tahunan juga diproyeksikan meningkat sebesar 0,25 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.



Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kenaikan inflasi terutama didorong oleh berbaliknya arah harga pangan bergejolak atau volatile food. Kelompok tersebut diperkirakan kembali mengalami kenaikan setelah turun cukup dalam pada Juli.

Kenaikan terutama terjadi pada harga daging ayam dan cabai rawit. Tekanan harga pangan juga berisiko bertahan akibat gangguan produksi yang dipicu El Nino dan musim kemarau.

"Tekanan harga pangan dapat berlanjut di tengah gangguan produksi akibat El Nino dan musim kemarau, meskipun penurunan harga bawang putih dan bawang merah memberikan sedikit penahan," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.


BPS juga akan merilis data neraca dagang Juli 2026. Sebagai catatan, neraca dagang Indonesia membukukukan defisit sebesar US$ 450 juta di Juni 2026.

Kondisi itu disebabkan nilai ekspor yang sebesar US$ 25,46 miliar, sedangkan impor tercatat senilai US$ 25,91 miliar.

Publik kini menunggu apakah Indonesia akan mencatat deficit dalam tiga bulan beruntun di Juli 2026 atau bisa membalikkan arah menjadi surplus.

5. Aturan Baru DHE Tambang Berlaku 1 September

Pemerintah mulai menerapkan relaksasi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) sektor pertambangan pada 1 September 2026. Kebijakan ini telah disosialisasikan kepada pelaku usaha dalam dan luar negeri.

Relaksasi aturan juga menyepakati 15 bank devisa sebagai penempatan rekening khusus DHE SDA.

Adapun ke-15 bank tersebut yakni lima bank BUMN atau Himbara seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Sedangkan 10 sisanya yakni bank non-BUMN seperti Standard Chartered Bank, Deutsche Bank AG, MUFG Bank Ltd., JP Morgan Chase Bank N.A., Citibank N.A., Bank of China, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk, PT Bank SMBC Indonesia Tbk, dan PT Bank HSBC Indonesia.

Pasal krusial 18A menjadi salah satu yang disorot.

Pasal 18A PP 21/2026 mengatur ketentuan khusus bagi pelaksanaan perjanjian bilateral mengenai perdagangan atau kesepahaman/kesepakatan lainnya mengenai perdagangan.
Bagi DHE SDA yang berasal dari sektor pertambangan, ketentuan tersebut meliputi: kewajiban penempatan paling sedikit 30% untuk jangka waktu paling singkat 3 bulan sejak penempatan pada Rekening Khusus DHE SDA; penempatan dapat dilakukan pada bank yang melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing; dan penukaran ke Rupiah dapat dilakukan pada bank yang melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing.

Keputusan pelaksanaan Pasal 18A ditetapkan melalui Rapat Koordinasi Tingkat Menteri pada 23 Juli 2026.

Pemerintah menetapkan 5 (lima) negara yang memenuhi kriteria Pasal 18A, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Hong Kong, Australia, dan Kanada.

Kelima negara tersebut merupakan negara dengan nilai investasi terbesar pada sektor pertambangan di Indonesia, sekaligus memiliki perjanjian bilateral mengenai perdagangan atau kesepahaman/kesepakatan lainnya mengenai perdagangan dengan Indonesia sebagaimana dipersyaratkan Pasal 18A.

Penggunaan lima besar negara asal investasi pada sektor pertambangan sebagai dasar pemilihan dimaksudkan agar fasilitas Pasal 18A tepat sasaran pada sumber investasi yang paling berkontribusi terhadap kegiatan pertambangan nasional.

Berikut poin utama aturan baru tersebut:

  • Wajib penempatan 30% selama minimal 3 bulan bagi eksportir tambang yang memanfaatkan fasilitas Pasal 18A.
  • Dana dapat ditempatkan di bank devisa BUMN maupun non-BUMN yang ditunjuk pemerintah.
  • Fasilitas ini bersifat opsional bagi eksportir yang memenuhi syarat.
  • Jika tidak memanfaatkan fasilitas, eksportir tetap mengikuti aturan lama, yakni penempatan 100% selama minimal 12 bulan untuk tambang nonmigas.
  • Fasilitas Pasal 18A berlaku bagi perusahaan tambang berbentuk PT, memiliki pemegang saham dari negara mitra, dengan kepemilikan minimal 10%.
  • Pemerintah menetapkan 5 negara mitra, yakni Amerika Serikat, China, Hong Kong, Australia, dan Kanada.
  • Dari 537 perusahaan yang teridentifikasi, 64 eksportir atau sekitar 12% memenuhi kriteria fasilitas tersebut.
  • Sebanyak 15 bank devisa ditetapkan sebagai tempat penempatan DHE, terdiri dari 5 bank BUMN dan 10 bank swasta.
  • Kebijakan mulai berlaku untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) sejak 1 September 2026.

6. Insentif Motor Listrik Mulai September?

Pemerintah memberi sinyal insentif motor listrik berpotensi mulai berlaku pada September 2026. Namun, implementasinya masih menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai dasar hukum.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah belum dapat memastikan tanggal pemberlakuan insentif tersebut karena PMK masih disusun Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Insentif motor listrik, kita tunggu saja PMK-nya," kata Airlangga saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (31/8/2026).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut insentif motor listrik seharusnya sudah dapat berjalan pada September 2026. Namun, hingga kini aturan tersebut belum diterbitkan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita juga menyatakan Kementerian Perindustrian telah siap menjalankan program tersebut dan hanya menunggu PMK.

Dengan demikian, September masih menjadi target, tetapi kepastian waktu pencairan atau pemberlakuan insentif motor listrik bergantung pada rampungnya PMK di Kemenkeu.

7. Mulai 1 September, BI Ubah Skema Insentif Likuiditas Bank

Bank Indonesia (BI) mulai menerapkan skema baru Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) pada 1 September 2026. Lewat aturan ini, BI akan lebih selektif memberikan insentif likuiditas dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan portofolio masing-masing bank.

KLM merupakan insentif untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor produktif dan prioritas. BI kini ingin memastikan likuiditas tersebut digunakan untuk mendorong kredit, bukan menambah kepemilikan surat berharga (SSB).

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan bank dengan kepemilikan SSB yang sudah tinggi tidak akan mendapat tambahan insentif.

"Kalau SSB-nya lebih dari 19%, surat-surat berharganya, ya kita tidak tambahin lagi," ujar Alexander dalam Taklimat Media BI, Senin (31/8/2026).

Dalam skema baru, BI memberikan tambahan insentif likuiditas 2% untuk pendalaman pasar uang (PPU). Sementara insentif untuk pembiayaan sektor produktif tetap mencapai 4%.

Dengan demikian, skema KLM yang sebelumnya sekitar 5,5% akan disesuaikan menjadi 4% untuk sektor produktif dan 2% untuk pendalaman pasar uang.

Hingga saat ini, realisasi KLM mencapai sekitar Rp447 triliun, setara 5% dari dana pihak ketiga (DPK). Penyaluran terbesar berasal dari bank BUMN dan bank swasta nasional.

BI melihat kondisi perbankan tidak seragam. Ada bank yang agresif menyalurkan kredit sehingga kepemilikan SSB menurun. Namun, ada pula bank yang masih memiliki SSB tinggi sementara pertumbuhan kreditnya belum optimal.

Karena itu, BI ingin mendorong likuiditas mengalir melalui pasar uang, termasuk lewat transaksi repo dari bank yang kelebihan likuiditas kepada bank yang membutuhkan dana.

BI juga menilai perlambatan kredit tidak hanya disebabkan persoalan pasokan likuiditas. Faktor permintaan juga menjadi tantangan karena dunia usaha masih menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Sejumlah korporasi bahkan sudah memiliki fasilitas kredit di bank, tetapi belum menarik seluruhnya karena masih menunggu kepastian kondisi ekonomi dan prospek bisnis.

Untuk mengatasinya, BI menggelar business matching guna mempertemukan bank dengan calon debitur, termasuk pelaku UMKM.

Alexander menegaskan pertumbuhan kredit perbankan masih berada dalam target BI sebesar 8%-12% pada 2026. Namun, bank sentral akan terus mendorong penyaluran kredit agar lebih optimal menopang pertumbuhan ekonomi.

8. Data JOLTs dan ISM Manufacturing AS

AS akan mengumumkan dua data penting hari ini yakni lowongan kerja (JOLTs) untuk Juli 2026 dan ISM Manufacturing untuk Agustus 2026.

Sebagai catatan, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 178.000 menjadi 7,359 juta pada Juni 2026, di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,4 juta. Data tersebut merupakan bagian dari laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS).

Penurunan terbesar terjadi di sektor kesehatan dan bantuan sosial (-147.000), rekreasi dan perhotelan (-86.000), perdagangan grosir (-74.000), serta jasa bisnis (-71.000).

Sebaliknya, lowongan meningkat di sektor transportasi, pergudangan, dan utilitas (+97.000) serta pemerintah federal (+39.000).

Jumlah perekrutan relatif stabil di 5,3 juta, sedangkan total pemutusan hubungan kerja berada di sekitar 5,4 juta. Jumlah pekerja yang mengundurkan diri juga bertahan di 3,2 juta.

Sementara itu, aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) menguat tajam pada Juli 2026. Indeks ISM Manufacturing PMI naik menjadi 55,6, dari 53,3 pada Juni, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 54.

Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi. Dengan capaian tersebut, aktivitas pabrik AS mencatat pertumbuhan terkuat sejak Mei 2022.

Penguatan terutama ditopang lonjakan output yang naik ke 58,5 dari 52,2, menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak November 2021. Pesanan baru juga tetap solid dengan indeks 56,7.

Pasar tenaga kerja manufaktur turut membaik. Indeks ketenagakerjaan naik menjadi 52,8 dari 49,7, menandai ekspansi pertama sejak Januari 2025 dan level tertinggi sejak Agustus 2022.

Di sisi lain, tekanan biaya mulai mereda. Namun, kinerja pemasok kembali melambat untuk bulan kedelapan berturut-turut.

9. Manufaktur China Masih Kontraksi

Data NBS Manufacturing PMI menunjukkan aktivitas manufaktur China masih berada di zona kontraksi pada Agustus 2026, meski mulai menunjukkan perbaikan. PMI manufaktur resmi China naik menjadi 49,8, dari 49,2 pada Juli, sekaligus melampaui ekspektasi pasar 49,7.

Angka di bawah 50 masih menunjukkan kontraksi, tetapi laju pelemahan mulai melambat seiring pemulihan permintaan.

Output kembali tumbuh dengan indeks 50,4, dari 49,9 pada Juli. Pesanan baru juga masuk zona ekspansi menjadi 50,6, dari 48,5.

Namun, ketenagakerjaan masih terkontraksi, dengan indeks turun menjadi 48,7 dari 49,0. Persediaan bahan baku juga terus menyusut.

Di sisi lain, tekanan biaya meningkat. Indeks harga bahan baku melonjak menjadi 56,6, level tertinggi dalam tiga bulan. Harga output juga kembali tumbuh ke 50,4 setelah turun pada Juli.

Sentimen bisnis justru melemah ke 53,8, level terendah dalam lima bulan. Kondisi ini menunjukkan pelaku usaha China masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi dalam waktu dekat.

Terkontraksinya manufaktur China menjadi peringatan buat Indonesia karena bisa berimbas pada turunnya permintaan barang dari Indonesia ke China.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Konferensi Pers Berita Resmi Statistik di ruang konferensi pers BPS Pusat, Jakarta Pusat
  • Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional di ruang rapat Komisi IV DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
  • Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR dengan semua mitra kerja di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
  • Seremonial penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan AlpacaDB, Inc terkait eksplorasi kerja sama pengembangan produk offshore di Main Hall Gedung BEI, Jakarta Selatan
  • Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat dengan agenda penetapan pejabat Bank Indonesia antara lain calon gubernur, deputi gubernur senior, dan deputi gubernur di ruang rapat paripurna DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
  • S&P akan mengumumkan data PMI Manufaktur Indonesia dan ASEAN
  • AS akan mengumumkan data JOLTS untuk Juli dan IS Manufacturing Agustus 2026
  • China mengeluarkan data Ratingdog Manufacturing PMI Agustus
  • Launching HP OmniBook di Midaz Senayan Golf, Senayan Avenue, Jakarta Pusat
  • Launching Viewer SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik di Auditorium J. Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan.

Berikut agenda korporasi:

Rencana Rupo emisi Obligasi Berkelanjutan III PTPP Tahap I Tahun 2021, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I PTPP Tahap I Tahun 2021, Obligasi Berkelanjutan IV PTPP Tahap I Tahun 2024, Obligasi Berkelanjutan III PTPP Tahap I Tahun 2021
PTPP

Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk.
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features