Hari Ini! Revisi Aturan DHE-Insentif BI Berlaku, Inflasi Jadi Sorotan
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Bursa melemah setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang untuk pertama kalinya dalam sebulan. Meski demikian, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kenaikan sepanjang Agustus.
Indeks S&P 500 turun 0,33% ke level 7.686,14. Nasdaq Composite melemah 0,12% menjadi 26.370,89. Sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 374,09 poin atau 0,7% ke 53.185,90.
Dow tertekan oleh penurunan saham Goldman Sachs dan Alphabet.
Ketegangan kembali meningkat setelah Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi bahwa militer AS pada Minggu menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Serangan tersebut menjadi serangan AS yang secara terbuka dikonfirmasi terhadap posisi Iran sejak akhir Juli. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Teheran menyerang pangkalan militer AS di Yordania sebagai aksi balasan.
Harga Minyak Melonjak
Kembalinya aksi militer AS-Iran langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Sementara minyak mentah Brent menguat 2,71% ke US$90,49 per barel.
Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor panjang, sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.
Tom Hainlin, National Investment Strategist U.S. Bank Asset Management, menilai level harga minyak saat ini memang sudah relatif tinggi, tetapi belum cukup untuk memberikan pukulan besar terhadap perekonomian AS.
"Ekonomi dunia masih memiliki cukup minyak untuk kebutuhannya, dan harga US$80-US$90 tidak cukup membatasi hingga membuat ekonomi kolaps," ujarnya, kepada CNBC International.
Menurutnya, harga minyak saat ini hanya berada di batas atas kisaran tersebut dan belum mengubah prospek konsumsi masyarakat, dunia usaha, kecerdasan buatan (AI), manufaktur yang kembali ke AS, maupun elektrifikasi ekonomi.
Namun, situasinya bisa berbeda jika harga minyak menembus US$100 per barel. Menurut Hainlin, level tersebut mulai berpotensi menjadi beban yang cukup berat bagi perekonomian.
Wall Street Tetap Cetak Kenaikan di Agustus
Meski perdagangan akhir bulan diwarnai gejolak akibat meningkatnya ketegangan Timur Tengah, Wall Street tetap berhasil membukukan kenaikan secara luas sepanjang Agustus, dengan sektor teknologi menjadi motor utama.
Dow Jones naik lebih dari 1% sepanjang Agustus. Ini menjadi kenaikan bulanan kelima berturut-turut sekaligus bulan positif ke-15 dalam 16 bulan terakhir.
Sementara itu, S&P 500 melonjak 2,6% dan Nasdaq Composite melesat 3,9% sepanjang Agustus. Keduanya sekaligus mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Mei.
S&P 500 dan Dow Jones bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Agustus.
Dengan demikian, meski eskalasi AS-Iran kembali menjadi ancaman bagi pasar, Wall Street berhasil menutup Agustus dengan rapor positif.
(mae/mae)