IHSG-Rupiah Hari Ini: Diuji Aksi Demo, Diteror Galaknya Inflasi AS
Memasuki perdagangan hari ini, pasar keuangan domestik masih akan diwarnai oleh sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pertama, pasar akan menanti pengumuman hasil uji kelayakan calon Gubernur BI dan jajaran Dewan Gubernur BI. Pasar juga akan mencermati uji kelayakan dua calon Deputi Gubernur BI yang berlangsung hari ini.
Sementara dari global, hasil rilis inflasi terbaru di Negeri Paman Sam yang ternyata masih cukup tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi memberikan sinyal yang cukup membuat tanda tanya mengenai arah kebijakan suku bunga bank The Fed.
Berikut sejumlah sentimen yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik hari ini.
1. Perkembangan Perang: Iran-Oman Belum Sepakat, Selat Hormuz Masih Terkunci
Iran dan Oman masih merundingkan detail kesepakatan terkait Selat Hormuz, setelah Iran menyebut kedua negara telah menyepakati pembagian wilayah perairan dan pendapatan dari jalur strategis tersebut.
Namun, sumber senior Iran menegaskan belum ada kesepakatan final. Teheran juga menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum AS memenuhi tuntutannya, termasuk mengakhiri blokade pelabuhan Iran, memberikan kompensasi, dan mencabut sanksi.
Selat Hormuz sangat vital bagi pasar energi global karena sebelumnya menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia. Gangguan pelayaran sejak perang pecah turut mendorong harga energi.
Oman berharap segera terbentuk koridor sementara untuk memulihkan pelayaran aman. Namun, ketegangan tetap tinggi setelah Donald Trump memperingatkan Oman agar tidak menghalangi AS.
Di tengah upaya diplomasi, harga minyak turun lebih dari 1,5% untuk hari ketiga berturut-turut setelah muncul tanda AS untuk sementara tidak merencanakan serangan baru terhadap Iran.
2. Aksi Demo
Sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa akan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, pada hari ini, Kamis (27/8/2026).
Aksi ini tidak hanya didukung gerakan mahasiswa tetapi juga melibatkan kelompok masyarakat dengan kepentingan dan tuntutan yang berbeda. Di antara tuntutan demonstran adalah penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah hingga tuntutan ekonomi dan demokrasi.
Menyusul aksi demi, sejumlah kantor menerapkan work from home (WFH) untuk mengantisipasi gangguan mobilitas dan potensi kemacetan. Karyawan yang pekerjaannya tidak memungkinkan dilakukan dari rumah bahkan diliburkan.
Kebijakan WFH antara lain diterapkan sejumlah perusahaan di kawasan Sudirman dan Semanggi. Beberapa agenda meeting offline juga ditunda atau dialihkan ke hari lain.
Ratusan mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026) menyebabkan akses jalan menuju arah Bundaran HI ditutup. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Ratusan mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026) menyebabkan akses jalan menuju arah Bundaran HI ditutup. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
3. Menanti Pengumuman Hasil Uji Kelayakan Pimpinan BI
Komisi XI DPR RI akan mengumumkan hasil uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur dan jajaran Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Kamis ini.
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino Kurniawan mengatakan hasil uji kelayakan calon Gubernur BI Destry Damayanti dan calon Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman akan diumumkan bersamaan dengan hasil seleksi calon Deputi Gubernur BI.
"Pengumumannya besok sore bareng sama Deputi Gubernur. Untuk paripurna BI tanggal 1 September. Kalau OJK besok di paripurna," ujar Harris.
Destry dan Aida telah menjalani uji kelayakan di Komisi XI DPR pada Rabu (26/8/2026). Keduanya merupakan calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto untuk masing-masing jabatan.
Sementara itu, Komisi XI DPR akan menggelar uji kelayakan terhadap dua calon Deputi Gubernur BI, yakni Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori, pada Kamis.
Setelah hasil seleksi diumumkan, penetapan Gubernur BI beserta jajaran Dewan Gubernur akan dilakukan dalam rapat paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026).
Pelaku pasar akan mencermati hasil seleksi tersebut karena susunan pimpinan baru BI akan menentukan arah kebijakan moneter, stabilitas rupiah, sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial ke depan.
4. Destry Rampungkan Uji Kelayakan Calon Gubernur BI
Dalam uji kelayakan pada Rabu kemarin, Destry Damayanti mengusung visi "Sinergi Merah Putih untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia".
"Visi kami adalah menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga yang tetap relevan dalam merespons tantangan serta kredibel dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," kata Destry.
Visi tersebut akan dijalankan melalui tiga misi. Pertama, menjaga stabilitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Misi pertama ini sesuai dengan mandat BI, yaitu mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara sistem pembayaran, dan turut serta menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ujarnya.
Misi kedua adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Sementara misi ketiga ialah memperkuat koordinasi BI dengan pemerintah, otoritas, dan berbagai pemangku kepentingan melalui Sinergi Merah Putih.
Destry juga menjabarkan strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Suku bunga acuan atau BI Rate akan tetap menjadi salah satu instrumen utama kebijakan moneter.
"BI Rate akan diarahkan secara pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Destry.
Selain melalui suku bunga, stabilisasi rupiah akan diperkuat dengan intervensi yang terukur dan operasi moneter yang menjaga kecukupan likuiditas.
"Stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat melalui smart intervention. Operasi moneter pro-market akan dioptimalkan agar transmisi kebijakan semakin efektif dan likuiditas tetap memadai bagi pasar uang, perbankan, dan sektor riil," ujarnya.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa BI akan tetap mengutamakan stabilitas rupiah sekaligus menjaga likuiditas untuk mendukung kegiatan ekonomi. Destry juga akan mengedepankan prinsip 3I dan 1S apabila terpilih memimpin bank sentral.
Destry menjelaskan bahwa 3I terdiri dari impactful atau berdampak, inklusif, dan terintegrasi. Sementara 1S merujuk pada sinergi.
"Buat kami, sinergi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang menyatukan kekuatan, saling melengkapi, dan melangkah seirama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang dapat diraih kalau kita bekerja sendirian," kata Destry.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari visi "Sinergi Merah Putih untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia" yang disampaikan dalam uji kelayakan calon Gubernur BI.
"Dengan tema Sinergi Merah Putih untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia, kami merasakan ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia untuk menjawab tantangan global maupun domestik. Tantangan yang kita hadapi saat ini semakin kompleks," ujarnya.
Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
Sinergi Merah Putih mencakup enam bidang, yakni ketahanan pangan dan energi, ekonomi dan lapangan kerja, sumber daya manusia, hilirisasi dan industrialisasi, pembangunan daerah, serta reformasi politik, hukum, dan birokrasi.
Melalui pendekatan tersebut, BI akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas lainnya agar kebijakan stabilisasi berjalan searah dengan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi.
Bagian ini bisa ditempatkan setelah pembahasan prinsip 3I dan 1S, sebelum sentimen dari Amerika Serikat.
Dalam fit and proper testnya, Destry juga memastikan koordinasi bank sentral dan pemerintah semakin solid dalam mengelola serta menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Destry mengatakan dirinya telah membahas kebijakan tersebut dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Koordinasi juga melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Dana SAL itu digunakan untuk menambah dana pihak ketiga bank. Jadi, buat kami tidak masalah sepanjang tujuannya jelas dan juga ada koordinasi," kata Destry.
Penempatan SAL di perbankan dapat menambah dana pihak ketiga sekaligus meningkatkan likuiditas yang tersedia untuk penyaluran kredit dan kegiatan ekonomi.
Destry mengakui kebijakan tersebut turut memengaruhi jumlah uang beredar. Namun, aspek teknisnya telah dibahas bersama oleh pemerintah dan otoritas terkait.
"Sejauh ini sudah tidak ada masalah. Kami tetap berkomunikasi. Tim teknis juga sudah duduk bersama," ujarnya.
Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga memantau pergerakan serta perputaran dana SAL di perbankan.
Koordinasi diperlukan tidak hanya ketika dana ditempatkan, tetapi juga saat pemerintah akan menariknya kembali agar tidak menimbulkan perubahan likuiditas secara mendadak.
"Pada saat mau ditarik, kami juga sudah diberi tahu jauh-jauh hari," kata Destry.
5. Inflasi PCE AS di Atas Ekspektasi
Inflasi Amerika Serikat bertahan lebih tinggi dari perkiraan pada Juli, memperbesar perdebatan mengenai arah suku bunga The Fed.
Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) meningkat 3,7% secara tahunan pada Juli, tidak berubah dari Juni. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan oleh banyak ekonom yang sebesar 3,6%.
Inflasi PCE telah bertahan di atas target The Fed sebesar 2% selama 65 bulan berturut-turut.
Secara bulanan, inflasi PCE naik 0,2% pada Juli setelah turun 0,1% pada Juni. Penurunan pada bulan sebelumnya merupakan yang terdalam sejak April 2020.
Inflasi AS sebelumnya melonjak hingga 4,1% pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan tersebut terjadi setelah konflik AS-Iran mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak global dan mendorong lonjakan harga energi.
Tekanan harga telah mereda dari puncaknya pada pertengahan tahun. Namun, konflik yang belum selesai dan tambahan tarif impor membuat laju penurunan inflasi berlangsung lambat.
Tekanan baru juga berpotensi datang setelah perundingan dagang AS dan Kanada gagal mencapai kesepakatan. Washington akan mengenakan tarif baru terhadap barang impor Kanada senilai US$20 miliar, sedangkan kedua negara telah mengumumkan langkah balasan tambahan.
Data inflasi tersebut dapat memperkuat pandangan sebagian pejabat The Fed bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat masih diperlukan. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada Juli.
Inflasi yang bertahan tinggi berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan menopang dolar AS.
6. Ekonomi AS Tumbuh 1,5%
Perekonomian AS tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,5% sepanjang kuartal II-2026. Angka tersebut tidak berubah dari estimasi awal.
Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 2,1%.
Meski pertumbuhan melambat, konsumsi masyarakat tetap kuat. Belanja konsumen yang mencakup sekitar 70% aktivitas ekonomi AS tumbuh 3,4%, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,5% pada kuartal sebelumnya.
Perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh lonjakan impor. Impor meningkat 12,5% karena bertambahnya pengiriman cip komputer dan produk lain yang digunakan untuk mendukung investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam perhitungan PDB, impor menjadi faktor pengurang karena merupakan barang dan jasa yang diproduksi di luar negeri. Lonjakan impor mengurangi pertumbuhan ekonomi kuartal II sekitar 1,64 poin persentase.
Sementara itu, investasi perusahaan tetap meningkat, terutama yang berkaitan dengan pengembangan AI.
Data tersebut menunjukkan perekonomian AS masih mampu tumbuh di tengah konflik dengan Iran dan kenaikan harga energi. Namun, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan awal tahun.
Kuatnya konsumsi di tengah inflasi PCE yang masih tinggi dapat mengurangi urgensi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, pertumbuhan yang melambat dapat mendorong bank sentral bersikap lebih hati-hati sebelum menaikkan suku bunga.
Estimasi ketiga sekaligus terakhir pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026 akan diumumkan pada 30 September 2026.
7. Pendapatan Masyarakat AS Lampaui Ekspektasi
Pendapatan masyarakat Amerika Serikat (AS) tumbuh 0,4% secara bulanan pada Juli, lebih tinggi dibandingkan konsensus sebesar 0,3% dan pertumbuhan Juni sebesar 0,2%.
Pendapatan yang dapat dibelanjakan atau disposable personal income meningkat 0,5%. Setelah memperhitungkan perubahan harga, pendapatan riil naik 0,4%.
Belanja masyarakat tumbuh 0,2%, melambat dari kenaikan 0,3% pada Juni. Kenaikan belanja jasa sebesar US$86,2 miliar tertahan oleh penurunan belanja barang senilai US$49,9 miliar.
Pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan belanja mendorong tingkat tabungan naik dari 2,7% menjadi 3%. Nilai tabungan masyarakat meningkat dari US$646,1 miliar menjadi US$712 miliar.
Pergerakan tersebut menunjukkan rumah tangga AS memilih menyimpan bagian pendapatan yang lebih besar daripada meningkatkan pengeluaran pada Juli.
(evw/evw)
