Royal! Ini 10 Emiten "Bangsawan" dengan Yield Tertinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham dengan dividend yield tinggi masih menjadi salah satu pilihan investor yang mengincar pendapatan pasif dari pasar modal.
Selain potensi kenaikan harga saham, dividen dapat memberikan arus kas rutin selama perusahaan mempertahankan kebijakan pembagian labanya.
Berdasarkan data perdagangan saham, terdapat 10 emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun yang mencatatkan yield sekitar 10% atau lebih. Angka yield dalam daftar ini telah dibulatkan menjadi satu angka di belakang koma agar lebih mudah dibaca.
Perhitungan yield menggunakan harga saham saat ini dibandingkan dengan akumulasi dividen per saham secara tahunan atau selama 12 bulan terakhir. Rumus sederhananya adalah total dividen tahunan per saham dibagi harga saham terkini, kemudian dikalikan 100%.
Misalkan, emiten BMRIÂ dengan dividen per saham sebesar Rp476,96 selama 12 bulan terakhir. Nilai tersebut dibagi dengan nilai harga saham saat ini ketika tulisan dibuat di level Rp4.180 per sahamnya.
Sehingga 476,96 (DPS) dibagi dengan 4.180 (Harga Saham) dikalikan dengan 100% maka dapat ditemukan bahwa imbal hasil memegang saham BMRI tercatat setara dengan 11,41%.
Artinya, yield tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya dividen yang dibagikan perusahaan, tetapi juga pergerakan harga saham di pasar. Ketika harga saham turun sementara dividennya tetap, yield akan meningkat. Sebaliknya, kenaikan harga saham bisa membuat yield terlihat lebih rendah meskipun nominal dividennya tidak berubah.
PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menempati posisi teratas dengan yield 18,6%. Posisi berikutnya dihuni PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan yield 16,3%.
Dua bank berkapitalisasi pasar besar juga masuk dalam daftar, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan yield 11,4% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 11,0%.
Daftar tersebut berasal dari beragam sektor. Selain perbankan, terdapat emiten batu bara, pertambangan emas, bauksit, perkebunan kelapa sawit, barang konsumsi, serta industri kesehatan. Keberagaman ini dapat memberi investor lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan saham dividen dengan profil risikonya.
Dari sektor barang konsumsi, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menawarkan yield 11,3%. Sementara PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan yield 10,7%. Adapun sektor komoditas diwakili CITA, TAPG, ADRO, dan AADI.
Namun, yield tinggi tidak otomatis menandakan saham tersebut murah atau layak dibeli. Angka dalam daftar ini bersifat historis dan tidak menjamin perusahaan akan membagikan dividen dengan nominal serupa pada periode berikutnya.
Investor tetap perlu memperhatikan pertumbuhan laba, kemampuan menghasilkan arus kas, tingkat utang, payout ratio, dan konsistensi pembagian dividen. Yield tinggi juga dapat muncul akibat penurunan harga saham atau pembagian dividen khusus yang belum tentu berulang.
Karena itu, dividend yield sebaiknya digunakan sebagai salah satu indikator awal dalam proses penyaringan saham, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan investasi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)