RI Menanti Fit & Proper Test Bos BI, Kabar Genting Datang dari Amerika
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Bursa menguat seiring penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS untuk hari kedua berturut-turut. Penguatan saham semikonduktor turut mengangkat indeks Nasdaq.
Indeks S&P 500 naik 0,32% ke level 7.677,28. Sementara Nasdaq Composite menguat 0,66% menjadi 26.151,30.
Indeks Dow Jones Industrial Average juga naik 160,24 poin atau 0,30% ke 53.577,40. Penguatan ini menjadi kenaikan beruntun selama tiga sesi perdagangan.
Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 7 basis poin menjadi 4,625%.
Penurunan yield juga terjadi pada Senin setelah muncul laporan bahwa Departemen Keuangan AS berpotensi menggunakan saldo General Account senilai US$1 triliun untuk membiayai pembelian kembali obligasi.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 3%.
Saham-saham semikonduktor menjadi sorotan investor menjelang publikasi laporan keuangan Nvidia pada Rabu setelah penutupan perdagangan.
Saham Nvidia yang dipimpin CEO Jensen Huang melonjak sekitar 2%, sekaligus mengakhiri penurunan selama tujuh sesi berturut-turut.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) melesat 4,9%, sementara Micron Technology menguat 2,5%.
Sebaliknya, sektor konsumer menjadi pemberat pasar. Saham Dick's Sporting Goods anjlok sekitar 30% setelah perusahaan melaporkan kinerja yang mengecewakan. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sepanjang sejarah perdagangan saham perusahaan.
Tekanan juga menimpa sejumlah ritel besar lainnya. Saham Walmart turun 1%, sedangkan Target merosot hampir 4%.
Sentimen Konsumen AS Memburuk
Sentimen pasar turut tertekan oleh data kepercayaan konsumen AS yang lebih buruk dari perkiraan, di tengah memburuknya konflik perdagangan antara AS dan Kanada.
Indeks Consumer Confidence yang dirilis Conference Board turun 0,8 poin menjadi 89,4 pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah konsensus Dow Jones sebesar 90,2.
Kondisi tersebut menunjukkan konsumen AS semakin pesimistis terhadap prospek ekonomi, terutama untuk beberapa bulan ke depan.
Kanada pada Selasa juga mengumumkan tarif balasan terhadap AS. Pemerintah Kanada menyatakan akan menyamai tarif 50% yang dikenakan Presiden Donald Trump terhadap Kanada secara "dollar for dollar."
Meski demikian, kondisi sentimen konsumen yang memburuk belum sepenuhnya tercermin dalam pola belanja masyarakat.
"Sejauh ini, laporan perusahaan masih menunjukkan konsumen yang tangguh. Jadi, meskipun sentimen memburuk, pengeluaran konsumen masih bertahan," kata Bret Kenwell, analis investasi eToro AS, kepada CNBC International.
Menurutnya, pasar masih dapat mengabaikan sentimen negatif selama konsumen tetap berbelanja. Pasalnya, konsumsi yang menjadi penentu utama kinerja laba perusahaan.
Investor Tunggu Data Ekonomi dan Pidato The Fed
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis Rabu.
Salah satunya adalah indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Juli, yang menjadi salah satu indikator inflasi utama yang menjadi perhatian Federal Reserve (The Fed).
Investor juga menanti pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat dalam simposium tahunan bank sentral AS di Jackson Hole, Wyoming.
Pidato tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi pasar, terutama karena muncul setelah Departemen Keuangan AS berencana menggandakan nilai pembelian kembali obligasi sebagai bagian dari upaya menekan yield Treasury tenor panjang.
(evw/evw)