Produksi Emas per Negara 2010 vs 2025: China Tetap No.1, RI-AS Susut
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta produksi emas dunia mengalami perubahan besar dalam 15 tahun terakhir. Sejumlah negara berhasil meningkatkan produksi secara agresif, sedangkan beberapa pemain lama justru kehilangan posisinya.
China masih menguasai peringkat pertama dengan produksi sebanyak 384 ton pada 2025. Angka tersebut meningkat dari 351 ton pada 2010, berdasarkan data World Gold Council per Desember 2025 yang dihimpun Visual Capitalist.
Rusia menjadi negara dengan produksi terbesar kedua setelah menghasilkan 345 ton emas. Produksinya melonjak 70% dibandingkan 2010 yang mencapai 203 ton. Kenaikan tersebut mengangkat Rusia dari posisi kelima menjadi kedua.
Australia menempati posisi ketiga dengan produksi 293 ton. Jika digabungkan, China, Rusia, dan Australia menghasilkan lebih dari 1.000 ton emas sepanjang 2025.
Produksi Emas Indonesia Turun
Indonesia berada di peringkat ke-10 produsen emas terbesar dunia pada 2025 dengan produksi sebanyak 104 ton. Posisi ini turun dibandingkan 2010 ketika Indonesia menempati peringkat ketujuh.
Produksi emas Indonesia menyusut sebanyak 28 ton atau sekitar 21,2% dalam periode tersebut, dari 132 ton pada 2010 menjadi 104 ton pada 2025.
Indonesia masih berada di atas Afrika Selatan yang menghasilkan 99 ton, tetapi tertinggal dari Meksiko dengan 114 ton dan Uzbekistan sebanyak 125 ton.
Kanada dan Ghana Melesat
Kanada mencatat salah satu kenaikan terbesar. Produksinya meningkat lebih dari dua kali lipat dari 102 ton menjadi 213 ton. Negara tersebut pun naik dari posisi kedelapan pada 2010 menjadi peringkat keempat pada 2025.
Ghana juga hampir menggandakan produksi dari 94 ton menjadi 187 ton. Hasil tersebut membawa Ghana naik dari peringkat kesembilan menjadi produsen emas terbesar keenam dunia.
Secara persentase, Kazakhstan mencatat pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara dalam tabel. Produksinya melonjak sekitar 173% dari 30 ton menjadi 82 ton.
Amerika Serikat dan Afrika Selatan Anjlok
Perubahan sebaliknya terjadi di Amerika Serikat. Produksi emas negara tersebut turun 32% dari 231 ton menjadi 157 ton. Posisinya ikut merosot dari urutan ketiga menjadi ketujuh.
Afrika Selatan mengalami penurunan yang lebih dalam. Produksinya menyusut lebih dari separuh, dari 210 ton pada 2010 menjadi hanya 99 ton pada 2025. Negara tersebut turun dari posisi keempat menjadi ke-11.
Pada saat yang sama, porsi BRICS dan negara-negara yang berafiliasi dengan kelompok tersebut terhadap produksi emas dunia meningkat dari 38% pada 2010 menjadi 50% pada 2025. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa pasokan emas global semakin terkonsentrasi di negara berkembang dan kekuatan ekonomi non-Barat.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)