MARKET DATA
Newsletter

Iran Diancam AS, Fed Mengancam Dunia - RI Terancam Transaksi Berjalan?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
21 August 2026 06:21
Ilustrasi bearish market vs bullish market
Foto: Pixabay/gerd Altmann
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat, bursa saham dan rupiah berakhir di zona hijau
  • Wall Street ambruk di tengah kisruh utang Amerika
  • Ancaman baru AS terhadap Iran serta rilis data ekonomi dari dalam dan luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada perdagangan kemarin.  Bursa saham dan rupiah sama-sama menguat.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kembali menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan indeks terutama ditopang saham-saham berbasis komoditas dan tambang.

Berdasarkan data perdagangan akhir sesi kedua, IHSG berada di level 6.501,58, menguat 107,46 poin atau 1,68%. IHSG dibuka di level 6.447,25 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.514 dan terendah 6.4444.

Total transaksi mencapai Rp 15,01 triliun, yang melibatkan 43,68 miliar saham dalam 2,29 juta kali transaksi. Sebanyak 452 saham menguat, 190 saham melemah dan 150 saham lainnya stagnan.

Investor asing kembali mencatat net buy sebesar Rp 680,47 miliar.


Dari sektoral, bahan baku menjadi sektor dengan penguatan paling tinggi, yakni 4,03%. Disusul sektor konsumer primer yang naik 2,52% dan konsumer non-primer 1,81%.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah tampil perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari kemarin. Mata uang Garuda melanjutkan penguatannya seiring dengan pelemahan dolar di pasar global.

Melansir Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), rupiah terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.740/US$.



Penguatan tersebut memperpanjang kinerja positif rupiah menjadi dua hari perdagangan beruntun. Pada Rabu (19/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,14% ke level Rp17.825/US$.

Rupiah memperoleh angin segar dari pelemahan dolar AS setelah pemerintah Negeri Paman Sam mengumumkan langkah untuk meredakan gejolak di pasar obligasi.

Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi pembelian kembali obligasi berjangka panjang guna menjaga likuiditas pasar.

Kebijakan tersebut muncul setelah aksi jual mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh 5,337%, posisi tertingginya sejak 2007. Setelah pengumuman itu, imbal hasil berangsur turun ke sekitar 5,184%.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai ke 6,9% pada perdagangan kemarin, dari 7,04% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham AS jatuh karena imbal hasil (yield) obligasi Treasury terus bergerak naik meskipun Departemen Keuangan AS melakukan operasi pembelian kembali utang (debt buyback) dalam skala luar biasa.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi akan menghambat reli pasar saham yang sedang bullish.

Dow Jones Industrial Average anjlok 703,84 poin atau 1,32%, tertekan oleh penurunan 9% saham Walmart. Indeks yang berisi 30 saham tersebut ditutup di level 52.759,21. S&P 500 melandai 0,87% menjadi 7.641,16, sementara Nasdaq Composite melemah 1% ke 26.067,17.

 

Yield obligasi naik pada Kamis. Yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus level sebelum Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Rabu pagi bahwa mereka akan setidaknya menggandakan pembelian kembali surat utang tenor 10, 20, dan 30 tahun dalam beberapa bulan mendatang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Kamis bahwa operasi pembelian kembali utang tersebut bahkan bisa lebih besar dari US$4 miliar yang telah diumumkan sebelumnya.

Yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704%. Sementara yield obligasi Treasury 30 tahun meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 5,248%. Yield 30 tahun sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir 20 tahun pada awal pekan ini.

Adam Phillips, Managing Director of Investments di EP Wealth Advisors, meragukan program buyback tersebut akan cukup untuk memberikan kelegaan bagi pasar obligasi.

Menurutnya, buyback tersebut bukan solusi atas masalah yang sedang menghantam pasar obligasi. Ada kekuatan struktural yang bekerja dan berada di luar kendali Departemen Keuangan maupun pemerintahan AS. Ia menambahkan, dampak positif dari intervensi pemerintah sebelumnya umumnya hanya berlangsung singkat.

 

"Jika ingin dampaknya bertahan lama, pemerintah perlu melakukan intervensi dengan kekuatan yang lebih besar," ujarnya, kepada CNBC International.

Tekanan terhadap saham juga datang dari kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.

Saat membahas Iran, Presiden Donald Trump mengatakan melalui unggahan di Truth Social pada Rabu bahwa AS akan memulai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun.

Trump menyebut langkah tersebut sebagai perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis, Bessent mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.

Harga kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik hampir 3% menjadi US$86,83 per barel. Sementara minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik lebih dari 2% menjadi US$93,78 per barel.

Penurunan saham Walmart turut menekan pasar secara keseluruhan. Raksasa ritel tersebut mencatat hari perdagangan terburuk dalam lebih dari empat tahun setelah penjualan toko yang sama di AS tidak memenuhi ekspektasi analis.

Prospek laba yang telah disesuaikan untuk kuartal III maupun sepanjang tahun juga berada di bawah ekspektasi.

Wall Street sebelumnya baru saja mencatat sesi perdagangan positif. S&P 500 menghentikan tren penurunan selama tiga sesi berturut-turut, setelah yield Treasury AS berjangka panjang turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun.

Penurunan yield terjadi setelah pemerintah mengumumkan rencana untuk meredakan tekanan akibat gejolak pasar obligasi yang baru-baru ini terjadi.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan setelah AS mengatakan akan memberi sanksi berat kepada Iran. Dari dalam negeri, data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan juga akan menjadi penggerak pasar hari ini.

1. Perkembangan Perang, AS Ancam Iran dengan Sanksi

Pemerintahan Donald Trump berencana menghancurkan ekonomi Iran melalui tekanan dan sanksi besar-besaran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut kemungkinan mengurangi kebutuhan untuk melancarkan operasi militer besar.

AS akan menerapkan "sanksi terberat dalam sejarah" dan mengancam negara yang tetap berbisnis dengan Iran, termasuk membeli minyak atau mentransfer dana.

Bessent mengatakan tekanan ekonomi akan dikombinasikan dengan blokade angkatan laut AS terhadap Iran. "Ini adalah pukulan satu-dua," ujarnya.

Trump menyebut langkah tersebut sebagai "D-Day ekonomi" dan berencana menciptakan isolasi ekonomi terbesar dalam sejarah terhadap Iran.

Meski ekonomi Iran tertekan, dengan PDB menyusut dan inflasi melonjak, sejumlah pakar menilai Iran belum tentu segera runtuh. Iran juga masih mampu mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menangani sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Amerika Serikat akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran, kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis. Ia mengatakan tekanan ekonomi tersebut diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer besar baru terhadap Teheran.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan "perang ekonomi" dan memperingatkan negara mana pun yang memberikan bantuan kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi.


"Jika kami memberikan tekanan ekonomi maksimum, kemungkinan tidak akan ada dimulainya kembali operasi militer skala besar," kata Bessent kepada CNBC International.

AS dan Iran telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, pada April dan Juni, tetapi keduanya dengan cepat runtuh.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam sanksi ekonomi dan perdagangan AS sebagai "terorisme ekonomi" yang akan menyasar masyarakat biasa dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Bessent mengatakan AS akan menjelaskan lebih detail mengenai langkah terhadap Iran dalam konferensi pers pada Senin.

"Ini adalah pukulan satu-dua. Kami memiliki blokade terhadap Iran dan akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah," ujarnya.

Ia bahkan mengatakan langkah tersebut akan membantu "meruntuhkan rezim" Iran dan meminta sekutu AS serta negara-negara lain menentukan sikap.

Terkait kemungkinan sanksi terhadap China karena membeli minyak Iran, Bessent mengatakan banyak pembicaraan sebaiknya dilakukan secara tertutup. China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui laut, menurut data Kpler 2025.

2. AS Akan Buyback Lebih Besar

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pembelian kembali utang pemerintah AS yang dipercepat bisa lebih besar dari US$4 miliar yang telah diumumkan.

Dalam wawancara langsung, Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS akan "membuat pasar" untuk surat utang berjangka panjang, yang belakangan mengalami lonjakan yield. Departemen Keuangan sebelumnya mengumumkan akan menggandakan pembelian kembali utang jangka panjang dari US$2 miliar, sehingga sempat mendorong yield turun tajam.

"Kami akan meningkatkan ukuran buyback. Nilainya bisa lebih dari US$4 miliar untuk setiap penerbitan," ujarnya.

Pernyataan tersebut sempat membuat yield turun. Yield Treasury 30 tahun terakhir berada di sekitar 5,235%, sementara yield 10 tahun naik sekitar 5 basis poin menjadi 4,704%.

Bessent menegaskan keputusan buyback tidak didasarkan pada level yield, tetapi pada fundamental ekonomi. Ia juga mengatakan besarnya buyback akan bergantung pada kondisi pasar.

Menurut Bessent, yield saat ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya. Ia juga menyebut likuiditas obligasi 30 tahun sangat buruk, sehingga menjadi alasan tambahan bagi Departemen Keuangan untuk melakukan intervensi.

Kenaikan yield dipicu sejumlah faktor, termasuk lonjakan utang dan defisit AS, persaingan dari obligasi korporasi dan negara lain seperti Jepang, serta meningkatnya term premium.

Di tengah utang nasional AS yang telah menembus US$40 triliun, Bessent mengatakan AS harus mengandalkan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi beban utang tersebut.

3. Risalah FOMC

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan adanya perdebatan pejabat Federal Reserve (The Fed) yang sangat terpecah mengenai suku bunga dalam risalah pertemuan FOMC 28-29 Juli 2026. Banyak pejabat memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga diperlukan jika inflasi gagal melandai.

Komite memilih 9-3 untuk mempertahankan suku bunga federal funds di 3,50%-3,75%, sekaligus menjadi pertemuan kelima berturut-turut tanpa perubahan. Namun, risalah menunjukkan pandangan hawkish jauh lebih luas daripada hanya tiga pejabat yang berbeda pendapat.

Tiga presiden The Fed regional-Beth M. Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, dan Lorie K. Logan dari Dallas-secara resmi berbeda pendapat dan mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin.

Risalah menyebut sejumlah peserta FOMC menilai "pengetatan kebijakan kemungkinan diperlukan jika inflasi tidak turun." Beberapa pejabat juga menilai kondisi keuangan saat ini mungkin belum cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke target The Fed sebesar 2%.

Bahkan sejumlah pejabat yang memilih mempertahankan suku bunga menilai kenaikan pada Juli dapat mencegah kebutuhan pengetatan yang lebih besar dan lebih mahal di kemudian hari. Dua pejabat lainnya, Jeffrey R. Schmid dari Kansas City dan Alberto G. Musalem dari St. Louis, kemudian mengatakan mereka kemungkinan akan mendukung kenaikan suku bunga jika memiliki hak suara pada Juli.

Tekanan inflasi masih menjadi sumber utama perdebatan. Inflasi PCE mencapai 4,1% pada Mei, sementara core PCE berada di 3,4%, jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Para pejabat menggambarkan inflasi masih tinggi dengan prospek yang "sangat tidak pasti" dan risiko cenderung meningkat. Mereka menyoroti dampak tarif, kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah, serta meningkatnya permintaan akibat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Sebaliknya, pasar tenaga kerja relatif stabil dan tidak menjadi sumber kekhawatiran utama. Tingkat pengangguran berada di 4,2% pada Juni, sementara pertumbuhan lapangan kerja masih lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.

4.. Neraca Perdagangan Jepang

Defisit neraca perdagangan Jepang melebar menjadi JPY 634,5 miliar pada Juli 2026, meningkat tajam dibandingkan defisit JPY 156,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar yang mencapai 680 miliar yen. Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut Jepang mencatat defisit perdagangan sekaligus yang terbesar sejak Januari 2026.

Nilai impor Jepang melonjak 27,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi rekor baru sebesar JPY12,1463 triliun.

Laju pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan 25,4% pada Juni dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 26,5%. Kenaikan impor didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat setelah pemerintah menggulirkan stimulus ekonomi pada akhir 2025.

Lonjakan impor juga dipengaruhi peningkatan pembelian minyak mentah yang mencapai 87,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Jepang memperluas sumber pasokan energinya di luar Selat Hormuz sebagai respons terhadap ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. Langkah tersebut membuat nilai impor energi meningkat signifikan sepanjang Juli.

Di sisi lain, ekspor Jepang tumbuh 23,2% menjadi rekor tertinggi sebesar JPY 11,5118 triliun.

Angka tersebut merupakan pertumbuhan tercepat sejak Oktober 2022 dan melampaui proyeksi pasar sebesar 19,9%. Kinerja ekspor mencatat kenaikan selama 11 bulan berturut-turut, ditopang pelemahan nilai tukar yen serta tingginya permintaan global terhadap chip yang digunakan untuk teknologi kecerdasan buatan (AI), meski risiko gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah masih membayangi.

5 Inflasi Tahunan Jepang

Inflasi Jepang kembali menguat pada Juli 2026. Tingkat inflasi tercatat 2% secara tahunan (year-on-year/yoy), naik dari 1,60% pada Juni 2026, menunjukkan tekanan harga kembali meningkat di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ).

Secara bulanan, indeks harga konsumen (CPI) Jepang juga meningkat 0,40% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan komponen tertentu tercatat naik 1,80% yoy pada Juli 2026. Angka ini masih berada di bawah rata-rata inflasi inti Jepang sebesar 2,40% sepanjang periode 1971-2026.

Secara historis, inflasi Jepang pernah melonjak hingga 24,90% pada Februari 1974, sementara rekor terendah tercatat -2,50% pada Oktober 2009. Untuk inflasi inti, level tertinggi mencapai 24,70% pada Oktober 1974 dan terendah -2,40% pada Agustus 2009.

Kenaikan inflasi ke level 2% menjadi perhatian karena angka tersebut kembali berada di sekitar target inflasi BOJ. Jika tekanan harga bertahan, pasar akan mencermati apakah kondisi tersebut dapat memperkuat alasan bank sentral Jepang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

 

6. Loan Prime Rate China

Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) pada level terendah sepanjang sejarah untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Agustus 2026.

Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar dan mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.


Suku bunga LPR tenor satu tahun, yang menjadi acuan bagi sebagian besar pinjaman korporasi dan rumah tangga, tetap dipertahankan di level 3,0%.

Sementara itu, LPR tenor lima tahun yang menjadi acuan kredit pemilikan rumah (KPR) juga tidak berubah di level 3,5%. Kebijakan ini diambil ketika pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II-2026 melambat ke level terendah sejak kuartal IV-2022, meski kinerja ekspor masih ditopang permintaan global terhadap produk terkait kecerdasan buatan (AI).

Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel melemah pada Juli 2026.

Penyaluran kredit baru dalam mata uang yuan turut menurun pada Juli dan mencatat kontraksi terdalam sepanjang pencatatan. Di saat yang sama, harga rumah kembali turun, menandakan sektor properti masih menghadapi tekanan.

Pekan lalu, PBOC menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang longgar secara terukur serta menyiapkan berbagai langkah yang dinilai efektif sesuai kebutuhan. Sikap tersebut menunjukkan bank sentral masih berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya permintaan domestik dan meningkatnya risiko dari kondisi eksternal.


7. Rilis Neraca Pembayaran Indonesia dan Transaksi Berjalan Kuartal II-2026

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan kuartal II-2026 pada Jumat (21/8).

Data ini menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergerakan arus modal internasional.

Perhatian investor tertuju pada apakah NPI mampu kembali membaik setelah pada kuartal I-2026 mencatat defisit US$9,1miliar. 

Kondisi tersebut berbalik dari surplus US$6,1 miliar pada kuartal IV-2025, terutama akibat melebarnya defisit transaksi berjalan dan berbaliknya transaksi modal dan finansial ke zona defisit.


Hari Ini, BI juga akan merilis data Transaksi Berjalan kuartal II-2026.

Sebagai catatan, pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan meningkat menjadi US4 miliar atau 1,1% terhadap produk domestik bruto(PDB), dari US2,5 miliar atau 0,7% PDB pada kuartal sebelumnya.

Pelebaran tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya surplus perdagangan nonmigas di tengah perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasok perdagangan internasional.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial juga mengalami defisit sebesar US4,9 miliar setelah sebelumnya mencatat surplus US$9 miliar.

Bank Indonesia menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan kas dan simpanan di luar negeri, meski investasi langsung dan investasi portofolio masih tetap mencatat surplus.

Rilis kuartal II akan menjadi petunjuk apakah tekanan terhadap transaksi berjalan mulai mereda dan apakah arus modal asing kembali menguat.

Perbaikan pada kedua komponen tersebut akan memperkuat fundamental eksternal Indonesia, menopang stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan keyakinan investor terhadap aset domestik. Sebaliknya, apabila defisit masih berlanjut atau semakin melebar, volatilitas di pasar keuangan berpotensi meningkat, terutama di tengah dinamika kebijakan moneter global.

 8. Perkembangan Uang Beredar Juli 2026

BI akan rilis data uang beredar Juli 2026 pada hari ini.

Sebagai catatan, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026.
Posisi M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh sebesar 8,7% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8% (yoy).

Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,9% (yoy).

Perkembangan M2, kata BI, pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).

BI juga mencatat Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8% (yoy) pada Mei 2026.

Sementara itu, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 10,1% (yoy), melanjutkan pertumbuhan sebesar 37,4% (yoy) pada Mei 2026.

BI mencatat Uang Primer (M0) adjusted 2 pada Juni 2026 tumbuh 13,8% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2% (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.228,0 triliun.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0% (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12, 6%.

Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).



Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Jepang akan mengumumkan data inflasi Juli 2026
  • BI akan merilis data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal II-2026
  • BI akan merilis data uang beredar Juni 2026
  • Pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan Duta Besar Negara EU untuk Indonesia di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat

  • Press Conference Danantara Housing Expo di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan

  • Press Conference Kinerja Triwulan II/2026 PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk secara virtual

  • Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) RI-RRT yang akan diakhiri dengan Joint Press Statement di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusa


Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk.
RUPS PT Saratoga Investama Sedaya Tbk.
RUPS PT Habco Trans Maritima Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Indonesian Paradise Property Tbk


Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH




Most Popular
Features