Iran Diancam AS, Fed Mengancam Dunia - RI Terancam Transaksi Berjalan?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham AS jatuh karena imbal hasil (yield) obligasi Treasury terus bergerak naik meskipun Departemen Keuangan AS melakukan operasi pembelian kembali utang (debt buyback) dalam skala luar biasa.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi akan menghambat reli pasar saham yang sedang bullish.
Dow Jones Industrial Average anjlok 703,84 poin atau 1,32%, tertekan oleh penurunan 9% saham Walmart. Indeks yang berisi 30 saham tersebut ditutup di level 52.759,21. S&P 500 melandai 0,87% menjadi 7.641,16, sementara Nasdaq Composite melemah 1% ke 26.067,17.
Yield obligasi naik pada Kamis. Yield Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus level sebelum Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Rabu pagi bahwa mereka akan setidaknya menggandakan pembelian kembali surat utang tenor 10, 20, dan 30 tahun dalam beberapa bulan mendatang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Kamis bahwa operasi pembelian kembali utang tersebut bahkan bisa lebih besar dari US$4 miliar yang telah diumumkan sebelumnya.
Yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704%. Sementara yield obligasi Treasury 30 tahun meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 5,248%. Yield 30 tahun sempat melonjak ke level tertinggi dalam hampir 20 tahun pada awal pekan ini.
Adam Phillips, Managing Director of Investments di EP Wealth Advisors, meragukan program buyback tersebut akan cukup untuk memberikan kelegaan bagi pasar obligasi.
Menurutnya, buyback tersebut bukan solusi atas masalah yang sedang menghantam pasar obligasi. Ada kekuatan struktural yang bekerja dan berada di luar kendali Departemen Keuangan maupun pemerintahan AS. Ia menambahkan, dampak positif dari intervensi pemerintah sebelumnya umumnya hanya berlangsung singkat.
"Jika ingin dampaknya bertahan lama, pemerintah perlu melakukan intervensi dengan kekuatan yang lebih besar," ujarnya, kepada CNBC International.
Tekanan terhadap saham juga datang dari kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Saat membahas Iran, Presiden Donald Trump mengatakan melalui unggahan di Truth Social pada Rabu bahwa AS akan memulai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis, Bessent mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.
Harga kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik hampir 3% menjadi US$86,83 per barel. Sementara minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik lebih dari 2% menjadi US$93,78 per barel.
Penurunan saham Walmart turut menekan pasar secara keseluruhan. Raksasa ritel tersebut mencatat hari perdagangan terburuk dalam lebih dari empat tahun setelah penjualan toko yang sama di AS tidak memenuhi ekspektasi analis.
Prospek laba yang telah disesuaikan untuk kuartal III maupun sepanjang tahun juga berada di bawah ekspektasi.
Wall Street sebelumnya baru saja mencatat sesi perdagangan positif. S&P 500 menghentikan tren penurunan selama tiga sesi berturut-turut, setelah yield Treasury AS berjangka panjang turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun.
Penurunan yield terjadi setelah pemerintah mengumumkan rencana untuk meredakan tekanan akibat gejolak pasar obligasi yang baru-baru ini terjadi.
(emb/emb)