Giant Sea Wall Impian Prabowo, Seperti Apa Tanggul Raksasa Belanda?
Jakarta, CNBCÂ Research - Pembangunan Giant Sea Wall Pantai Utara Jawa menjadi salah satu proyek besar yang disoroti Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan paparan pemerintah, Giant Sea Wall dirancang membentang sepanjang 575 kilometer di Pantura Jawa dengan estimasi biaya sekitar US$100 miliar atau skeitar Rp 1.800 triliun (US$1= Rp 18.000).
Proyek yang direncanakan terbagi dalam 15 segmen tersebut diperkirakan membutuhkan waktu pembangunan 15 hingga 20 tahun.
"Tanggul besar untuk mengamankan pantai utara Pulau Jawa ini mutlak harus kita lakukan. Jangan kita tunggu bencana datang, kita harus belajar dari negara lain seperti Belanda yang membangun infrastruktur perlindungan jangka panjang tanpa menunggu bencana,"Â ujar Prabowo di Gedung MPR/DPR RI Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
"Proyek ini akan butuh 15 - 20 tahun untuk kita selesaikan, ini waktu yang lama, saya tidak tahu presiden ke berapa yang akan meresmikan. Saya bertekad presiden ke 8 akan mulai proyek ini," imbuhnya.
Giant Sea Wall ditujukan untuk melindungi sekitar 50 juta penduduk pesisir Pantura. Kawasan tersebut juga menyumbang sekitar 38% PDB Indonesia serta menjadi lokasi 70 kawasan industri, lima kawasan ekonomi, dan poros logistik nasional.
Namun, Prabowo menegaskan proyek tersebut tidak hanya akan menjadi tanggul perlindungan pantai. Giant Sea Wall juga dirancang menjadi infrastruktur air bersih, jalur pertumbuhan baru, serta proyek rekayasa yang mengembangkan kemampuan teknologi nasional.
Selain itu, Giant Sea Wall kita di Pantura harus jadi infrastruktur air bersih, harus jadi jalur pertumbuhan baru, proyek rekayasa anak bangsa," beber Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Belanda sebagai salah satu negara yang dapat menjadi contoh.
Belajar dari 'Giant Sea Wall' Belanda
Salah satu proyek perlindungan air paling terkenal di Belanda adalah Afsluitdijk, tanggul sepanjang 32 kilometer yang memisahkan Wadden Sea dan IJsselmeer. Infrastruktur tersebut telah melindungi sebagian wilayah Belanda dari banjir laut sejak 1932.
Afsluitdijk merupakan salah satu proyek rekayasa air paling ikonik di Belanda yang memisahkan Laut Wadden dari Danau IJssel (IJsselmeer).
Pembangunan Afsluitdijk tidak lepas dari ancaman banjir laut yang sejak lama menghantui Belanda.
Salah satu titik baliknya terjadi pada 1916, ketika banjir besar melanda wilayah Belanda, menimbulkan korban jiwa, membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, serta menyebabkan kerugian ekonomi.
Bencana tersebut mendorong pemerintah Belanda mengambil langkah besar. Pada 1918, pemerintah mengesahkan Zuiderzeewet, undang-undang yang menjadi dasar proyek untuk menutup Zuiderzee, mengendalikan air, sekaligus menciptakan kawasan air tawar dan lahan baru.
Pembangunan Afsluitdijk kemudian dimulai pada 1920-an. Setelah bertahun-tahun dikerjakan, bagian terakhir tanggul akhirnya ditutup pada 28 Mei 1932.
Sejak saat itu, Afsluitdijk bukan hanya menjadi benteng Belanda menghadapi laut, tetapi juga menjadi contoh bagaimana infrastruktur perlindungan banjir dapat dirancang sebagai proyek jangka panjang.
Namun, lebih dari 90 tahun setelah dibangun, Afsluitdijk kini memiliki fungsi jauh lebih luas dari sekadar tanggul.
Afsluitdijk menggabungkan sistem perlindungan banjir dengan pengelolaan air. Belanda tengah meningkatkan kemampuan pembuangan air dari IJsselmeer (Danau IJssel) ke Wadden Sea melalui pintu air tambahan dan stasiun pompa berkapasitas tinggi.
Tanggul tersebut sekaligus menjadi koridor transportasi karena jalan tol A7 menghubungkan Noord-Holland dan Friesland melalui Afsluitdijk. Kawasan ini juga digunakan untuk pengembangan teknologi energi berbasis angin, matahari, air, hingga pertemuan air tawar dan air asin.
Â
Belanda juga menghadapi konsekuensi ekologis dari pembangunan Afsluitdijk.
Pemisahan air asin Wadden Sea dan air tawar IJsselmeer menghambat migrasi ikan. Untuk mengatasinya, kini dibangun Fish Migration River, sungai buatan yang memungkinkan ikan kembali bermigrasi antara kedua perairan tanpa mengurangi fungsi perlindungan banjir.
Pengalaman Afsluitdijk menunjukkan bahwa tanggul laut berskala besar dapat dikembangkan menjadi infrastruktur multifungsi. Namun, proyek semacam ini juga membutuhkan adaptasi dan pengelolaan jangka panjang. Afsluitdijk sendiri masih terus diperkuat setelah lebih dari sembilan dekade untuk menghadapi kenaikan muka laut dan cuaca ekstrem.
Jangan Tunggu Bencana Datang
Prabowo memperkirakan pembangunan Giant Sea Wall Pantura akan lama. Meski prosesnya panjang, ia menegaskan proyek tersebut harus segera dimulai. "Jangan kita tunggu bencana datang," kata Prabowo.
Ia bahkan mengakui belum mengetahui presiden ke berapa yang nantinya akan meresmikan proyek tersebut. Namun, sebagai Presiden ke-8 RI, Prabowo menegaskan dirinya bertekad menjadi presiden yang memulai pembangunan Giant Sea Wall.
(Salma Laiqa/slm)