MARKET DATA

Daftar Banjir Nepal Paling Mematikan dalam Sejarah

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
27 August 2026 13:20
Tim penyelamat bergegas untuk mencari ratusan orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 160 orang, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Navesh Chitrakar)
Foto: Tim penyelamat bergegas untuk mencari ratusan orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 160 orang, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Navesh Chitrakar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nepal kembali dihantam banjir bandang.

Sedikitnya 157 orang tewas dalam banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026). Ratusan orang lainnya masih dilaporkan hilang setelah material es, batu dan lumpur meluncur ke sungai dan menyapu permukiman.

Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. Nepal telah berulang kali menghadapi banjir besar dengan skala kerusakan yang berbeda, dari jebolnya danau gletser di Himalaya hingga hujan ekstrem yang melumpuhkan Kathmandu.

Dalam catatan 1900-2005, sebanyak 2.740 kejadian banjir tercatat dari total 13.525 bencana alam yang dilaporkan di Nepal. Namun, yang lebih mencolok bukan frekuensinya.

Tim penyelamat bergegas untuk mencari ratusan orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 160 orang, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Navesh Chitrakar)Tim penyelamat bergegas untuk mencari ratusan orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 160 orang, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Navesh Chitrakar) Foto: Tim penyelamat bergegas untuk mencari ratusan orang yang hilang di perbatasan Nepal-Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 160 orang, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Navesh Chitrakar)

 

Dari sekitar 7,4 juta korban jiwa akibat seluruh bencana dalam periode tersebut, sekitar 3,2 juta kematian terjadi dalam peristiwa banjir. Lebih dari 2,8 juta di antaranya tercatat di wilayah Tarai.

Dengan kata lain, banjir mencakup sekitar seperlima kejadian bencana yang tercatat, tetapi menyumbang sekitar 44% korban jiwa.

Mengapa Nepal Kerap Banjir?

Nepal menjadi salah satu negara yang rentan dilanda banjir, terutama saat musim monsun. Sekitar 80% curah hujan tahunan Nepal terjadi pada periode Juni-September, sehingga hujan deras dalam waktu singkat dapat dengan cepat meningkatkan debit sungai dan memicu luapan.

Kondisi geografis Nepal yang berada di kawasan Himalaya semakin memperbesar risiko.

Sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan dan lereng curam, membuat air hujan mengalir deras dari dataran tinggi menuju lembah dan dataran rendah. Aliran air yang cepat ini juga meningkatkan ancaman longsor dan banjir bandang.

Gabungan citra satelit memperlihatkan Manakamana, Nepal, pada tanggal 23 Agustus 2026 sebelum banjir bandang (atas) dan pada tanggal 26 Agustus 2026 setelah banjir bandang (bawah) yang melanda wilayah tersebut. (PLANET LABS PBC/Handout via REUTERS)Gabungan citra satelit memperlihatkan Manakamana, Nepal, pada tanggal 23 Agustus 2026 sebelum banjir bandang (atas) dan pada tanggal 26 Agustus 2026 setelah banjir bandang (bawah) yang melanda wilayah tersebut. (PLANET LABS PBC/Handout via REUTERS) Foto: Gabungan citra satelit memperlihatkan Manakamana, Nepal, pada tanggal 23 Agustus 2026 sebelum banjir bandang (atas) dan pada tanggal 26 Agustus 2026 setelah banjir bandang (bawah) yang melanda wilayah tersebut. (PLANET LABS PBC/Handout via REUTERS)

Risiko tersebut diperparah oleh banyaknya jaringan sungai di Nepal. Negara ini memiliki sekitar 6.000 sungai dan anak sungai, termasuk sungai besar seperti Koshi, Gandaki, dan Karnali yang berhulu di kawasan Himalaya dan mengalir ke selatan menuju dataran rendah.

Ketika hujan monsun membuat debit sungai melonjak, potensi luapan pun meningkat.

Dalam sejumlah kasus, banjir juga datang bersamaan dengan longsor. Hujan ekstrem dapat membuat lereng gunung tidak stabil dan memicu longsoran tanah serta batu yang kemudian membendung aliran sungai. Ketika bendungan alami tersebut jebol, air bercampur material longsoran dapat menerjang wilayah di bawahnya sebagai banjir bandang atau debris flow.

Ancaman lain datang dari perubahan kondisi es dan gletser di Himalaya. Pemanasan dapat mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan volume air di danau-danau glasial.

Bangunan-bangunan yang terendam sebagian di sepanjang tepi sungai akibat banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026, sebagaimana terlihat dalam tangkapan layar dari video yang dirilis untuk umum. (Sujan Bagale/Handout via REUTERS)Bangunan-bangunan yang terendam sebagian di sepanjang tepi sungai akibat banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026, sebagaimana terlihat dalam tangkapan layar dari video yang dirilis untuk umum. (Sujan Bagale/Handout via REUTERS) Foto: Bangunan-bangunan yang terendam sebagian di sepanjang tepi sungai akibat banjir bandang di distrik Nuwakot, Nepal, pada 26 Agustus 2026, sebagaimana terlihat dalam tangkapan layar dari video yang dirilis untuk umum. (via REUTERS/Sujan Bagale)

Kondisi ini berpotensi memicu glacial lake outburst flood (GLOF), yakni banjir besar yang terjadi ketika bendungan alami sebuah danau glasial jebol.

Di saat yang sama, perubahan iklim membuat pola curah hujan semakin sulit diprediksi. World Bank memperkirakan perubahan pola hujan dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor di Nepal, termasuk meningkatnya kejadian hujan ekstrem dalam periode satu hingga beberapa hari di sejumlah wilayah.

Kerentanan Nepal juga dipengaruhi oleh faktor manusia. Keterbatasan lahan membuat banyak masyarakat tinggal di sekitar sungai, lembah maupun lereng yang memiliki risiko banjir dan longsor.

Urbanisasi di kawasan pegunungan juga meningkatkan jumlah penduduk serta aset yang berada di wilayah rawan. Dengan kombinasi hujan monsun ekstrem, topografi Himalaya, ribuan sungai, longsor, pencairan gletser, perubahan iklim dan konsentrasi permukiman di kawasan rawan, Nepal menghadapi risiko banjir yang berulang dan kompleks.

Bentuk bencana banjir Nepal juga tidak selalu sama.

Pada 1985, misalnya, yang menerjang lembah bukan sekadar luapan sungai. Danau gletser Dig Tsho jebol setelah gelombang yang dipicu longsoran es masuk ke danau. Sekitar 5 juta m³ air kemudian meluncur ke lembah Bhote Kosi dan Dudh Kosi.

 

Skalanya terlihat dari debit puncak yang mencapai 1.600 m³ per detik. Sekitar 3 juta m³ material debris ikut bergerak dalam jarak kurang dari 40 kilometer.

Pada 2024, ancamannya datang dalam bentuk lain. Hujan ekstrem pada 27-28 September membuat sembilan stasiun pemantauan di Kathmandu Valley mencatat curah hujan tertinggi sejak sistem pemantauan hidrologi modern Nepal dimulai pada 1970.

Hujan tersebut kemudian memicu 132 longsor di berbagai wilayah Nepal. Di Kathmandu, Lalitpur dan Kavrepalanchowk saja, tercatat 57 longsor.

1,7 Juta Terdampak, 1% PDB Tergerus

Salah satu banir terparah adalah pada 2017. Sebanyak 1,7 juta orang terdampak dan sekitar 460.000 orang harus mengungsi ketika banjir melanda 35 distrik Nepal.

Tujuh tahun kemudian, banjir kembali menunjukkan dampak yang lebih luas terhadap pusat aktivitas ekonomi. Hujan 27-28 September 2024 menjadi yang terberat yang tercatat sejak sistem pemantauan hidrologi modern Nepal dibangun pada 1970 di sembilan stasiun pemantauan Kathmandu Valley.

Sedikitnya 236 orang meninggal dan lebih dari 8.400 orang mengungsi. Di Kathmandu Valley saja, 56 kematian dilaporkan.

Suasana pasca banjir dan longsor yang melanda desa Bhumidanda, kotamadya Panauti, di Kavre, Nepal, Selasa (1/10/2024). (REUTERS/Navesh Chitrakar)Suasana pasca banjir dan longsor yang melanda desa Bhumidanda, kotamadya Panauti, di Kavre, Nepal, Selasa (1/10/2024). (REUTERS/Navesh Chitrakar) Foto: Suasana pasca banjir dan longsor yang melanda desa Bhumidanda, kotamadya Panauti, di Kavre, Nepal, Selasa (1/10/2024). (REUTERS/Navesh Chitrakar)

 

Kerusakan juga menjalar ke infrastruktur. Sebanyak 22 pembangkit listrik tenaga air dan sembilan jalur transmisi rusak atau hancur, sementara 17 ruas jalan terdampak longsor.

Pemerintah Nepal memperkirakan kerugian ekonomi awal mencapai sekitar 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.

 

(mae/mae)



Most Popular