10 Merek Tertua RI yang Masih Bertahan hingga Kini, Berusia 144 Tahun
6. Kapal Api - 1927
Kapal Api didirikan pada 1927 oleh perantau asal Fujian, China bernama Go Soe Loet. Awal mulanya terjadi saat dia tiba di Surabaya dan melihat besarnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi. Ia kemudian merintis usaha kopi dengan memilih biji berkualitas, menyangrai, menggiling, dan menjualnya ke pasar.
Untuk membedakan produknya dari pesaing, kopi tersebut dikemas menggunakan kertas berwarna cokelat dengan merek HAP Hootjan. Nama tersebut kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Kapal Api. Ternyata, nama Kapal Api terkait dengan pengalaman Go Soe Loet menaiki kapal uap ketika menuju Jawa.
Bisnis tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan Kapal Api adalah putranya, Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto.
Di tangan Soedomo, bisnis berkembang semakin besar. Ia melakukan berbagai pembaruan, termasuk mendatangkan mesin pengolahan kopi dari Jerman setelah sebelumnya mencoba membuat mesin sendiri.
Kapal Api kemudian memperluas distribusi ke berbagai wilayah Indonesia dan mulai mengekspor produknya pada 1985. Perusahaan juga mengembangkan berbagai merek lain, termasuk Kopi ABC dan Excelso.
7. Bango - 1928
Kecap juga menjadi bagian penting dalam sejarah merek di Indonesia. Salah satunya adalah Kecap Bango, yang telah ada sejak 1928.
Mengutip Detik Finance, Bango bermula dari industri rumahan di kawasan Benteng, Tangerang. Pasangan suami istri Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio membuat kecap di garasi rumah mereka.
Nama Bango dipilih dengan harapan produk tersebut dapat terbang hingga ke mancanegara. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Pada 1939-1947, produksi Bango sempat terhenti karena bahan baku sulit diperoleh akibat perang.
Setelah produksi kembali berjalan, kecap Bango dipasarkan dari pintu ke pintu. Pada periode 1950-1980, penjualannya meluas ke Jawa, Sumatera, hingga Manado. Seiring meningkatnya permintaan, pabrik kembali dikembangkan. Pada 1997-1998, Bango membuka pabrik di Subang.
Pada 2001, Unilever mengakuisisi Bango dan menjadikan merek tersebut bagian dari bisnisnya. Meski kepemilikannya berubah, nama Bango tetap bertahan sebagai salah satu merek kecap yang paling dikenal masyarakat Indonesia.
kecap Bango Foto: Unilever Indonesia |
8. Tolak Angin - 1930
Sebelum menjadi produk jamu dalam kemasan seperti sekarang, Tolak Angin bermula dari racikan sederhana seorang perempuan di Jawa Tengah. Pasangan suami istri Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio sebelumnya mengelola usaha pemerahan susu bernama Melkrey di Ambarawa.
Pada 1930, mereka merintis toko roti bernama Roti Muncul. Pada tahun yang sama, Rakhmat Sulistio mulai meracik jamu untuk mengatasi masuk angin. Racikan tersebut kemudian dikenal sebagai Tolak Angin.
Berbekal kemampuan mengolah rempah-rempah, pasangan tersebut kemudian membuka usaha jamu di Yogyakarta pada 1935. Pada 1940, Tolak Angin dalam bentuk godokan mulai dipasarkan.
Perjalanan bisnis kemudian berkembang. Pada 1951, mereka mendirikan perusahaan sederhana bernama Sido Muncul di Semarang. Nama tersebut berarti "Impian yang Terwujud". Dari perusahaan itulah Tolak Angin kemudian berkembang menjadi salah satu produk jamu paling dikenal di Indonesia.
9. Bir Bintang - 1931
Minuman berikutnya memiliki sejarah yang bermula pada masa Hindia Belanda. Pada 1931, berdiri pabrik minuman beralkohol bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya.
Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan dikenal melalui produk Bir Bintang. Dalam perjalanannya, merek ini melewati berbagai perubahan dan perkembangan perusahaan. Bir Bintang kemudian menjadi salah satu merek minuman yang paling dikenal di Indonesia.
Seiring perubahan preferensi konsumen, perusahaan juga mengembangkan berbagai varian produk, termasuk produk tanpa alkohol. Meski sejarah awalnya berkaitan dengan perusahaan yang berdiri pada 1931, nama Bir Bintang kemudian menjadi identitas yang jauh lebih dikenal masyarakat dibanding nama perusahaan awalnya.
10. Blue Band - 1934
Merek terakhir dalam daftar ini adalah Blue Band, yang masuk ke Hindia Belanda pada 1934. Pada masa itu, masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda membutuhkan margarin. Blue Band kemudian diperkenalkan ke pasar dan menggunakan pita biru sebagai ikon yang dikaitkan dengan kualitas tinggi.
Perkembangannya berlanjut. Pada 1936, tercatat sudah ada N.V. van den Berghs Fabrieken di Batavia yang memproduksi minyak goreng dan mentega.
Setahun kemudian, Sidney van den Bergh berkunjung ke Batavia. Ia melihat besarnya peluang pasar di Hindia Belanda dan menilai posisi perusahaan di wilayah tersebut sangat baik.
Perkiraan tersebut kemudian terbukti. Setelah sempat terganggu perang, Blue Band berkembang menjadi salah satu merek margarin yang dikenal luas.
Iklan-iklannya juga semakin banyak menghiasi media massa. Blue Band tidak hanya menjual margarin, tetapi membangun citra sebagai produk yang mendukung kebutuhan gizi keluarga, antara lain dengan menonjolkan kandungan vitamin A dan D. Hingga kini, Blue Band masih dijual di Indonesia dalam berbagai ukuran dan kemasan.
(mfa/mfa)
