MARKET DATA
CNBC Insight

10 Merek Tertua RI yang Masih Bertahan hingga Kini, Berusia 144 Tahun

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
17 August 2026 10:00
Festival Jajanan Bango 2022
Foto: detikcom/Riska Fitria

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah merek yang masih mudah ditemui di Indonesia ternyata telah melewati perjalanan panjang. Bahkan, beberapa di antaranya sudah hadir sejak masa Hindia Belanda dan tetap bertahan hingga lebih dari satu abad kemudian.

Hingga Indonesia berdiri selama 81 tahun hari ini,merk-merk tersebut masih menemani dan menjadi andalan masyarakat.

Menariknya, merek-merek tersebut lahir dari berbagai jenis usaha, mulai dari kecap, rokok, jamu, susu, kopi, hingga minuman. Sebagian bermula dari usaha rumahan, sementara lainnya dibawa dari luar negeri dan kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Berikut 10 merek tertua yang masih bertahan di Indonesia:

1. Kecap Cap Istana - 1882

Salah satu merek tertua di Indonesia ternyata berasal dari industri kecap di Tangerang. Mengutip situs Budaya Indonesia, Kecap tersebut dikenal sebagai Kecap Cap Istana, yang memiliki sejarah panjang sejak 1882 atau sudah berusia 144 tahun.

Pabriknya didirikan oleh Teng Hay Soey, seorang pedagang keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar Pasar Lama, Tangerang. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Teng Giok Seng dan hingga kini masih beroperasi.

Kecap yang diproduksi dikenal sebagai Kecap Benteng, merujuk pada sebutan kawasan Tangerang yang dahulu dikenal sebagai kota benteng. Sumber sejarah lokal mencatat pabrik tersebut telah berdiri sejak 1882 dan masih beroperasi hingga sekarang.

Kecap Cap Istana bahkan disebut sebagai merek kecap tertua di Indonesia. Selain Cap Istana, produk yang sama juga dikenal menggunakan label burung atau Kecap Benteng Tulen.

Hingga sekarang, proses pembuatannya masih mempertahankan cara lama. Produksi dilakukan dengan tenaga manusia dan tidak sepenuhnya mengandalkan mesin.

2. Djie Sam Soe - 1913

Jauh setelah industri kecap Tangerang berkembang, muncul merek rokok yang kemudian menjadi salah satu produk legendaris Indonesia. Dalam buku The Sampoerna Legacy (2017), pada 1913 Liem Seeng Tee mendirikan bisnis kecil-kecilan dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Nama produk awalnya adalah Dji Sam Soe. 

Kini bisnis kecil itu bernama Sampoerna. Dji Sam Soe diambil dari pelafalan angka 2, 3, dan 4 dalam bahasa China. Rokok tersebut dengan cepat mendapat sambutan pasar. Tingginya permintaan bahkan membuat perusahaan mempekerjakan ribuan orang untuk melinting rokok.

Puncak kejayaannya terjadi pada 1940. Saat itu, produksinya mencapai sekitar 3 juta batang rokok per minggu. Djie Sam Soe kemudian menjadi salah satu merek rokok yang mampu bertahan melewati berbagai zaman dan tetap dikenal hingga sekarang.

3. Jamu Jago - 1918

Tahun 1918 menjadi awal perjalanan salah satu merek jamu tertua di Indonesia, Jamu Jago. Merek ini dirintis oleh T.K. Suprana. Pada awalnya, jamu dibuat secara tradisional dan hanya dijual di sekitar tempat usaha.

Dari usaha sederhana tersebut, Jamu Jago kemudian berkembang. Produk yang semula dijual di wilayah Wonogiri meluas ke Solo dan berbagai daerah di Pulau Jawa. Pada 1936, pemasaran Jamu Jago telah berkembang ke berbagai wilayah Nusantara.

 

Perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada 1945, pusat kegiatannya dipindahkan ke Semarang. Lebih dari satu abad kemudian, Jamu Jago masih bertahan dan memproduksi berbagai produk jamu. Sejumlah sumber menyebut 1918 sebagai tahun awal keberadaan merek ini.

4. Njonja Meneer - 1919

Setahun setelah Jamu Jago, muncul merek jamu lain yang kelak menjadi salah satu nama paling terkenal dalam sejarah industri jamu Indonesia, Njonja Meneer.

Merek ini berkaitan dengan Lauw Ping Nio, perempuan yang kemudian dikenal sebagai Njonja Meneer. Nama Meneer sendiri berkaitan dengan kisah ibunya yang mengonsumsi beras menir ketika mengandungnya.

Lauw Ping Nio menikah muda dengan seorang pedagang bernama Ong Bian Wan. Dari Semarang, ia kemudian mulai mengembangkan usaha jamu. Pada 1919, Lauw Ping Nio memberanikan diri memproduksi jamu secara sederhana dengan teknologi yang masih sangat manual. Produksi dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Jamu buatannya kemudian semakin dikenal. Ia bahkan bepergian menggunakan dokar dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari bahan baku dan pasar. Produk yang dihasilkan antara lain Djamu Habis Bersalin, Jamu Sakit Kencing, Jamu Galian Rapet, Jamu Mekar Sari, Jamu Pria Sehat, dan Jamu Gadis Remaja.

Produk-produknya dikenal dengan sebutan jamu cap potret Njonja Meneer. Pada 1940, pemasaran jamu meluas ke Jakarta. Putrinya, Ong Djian Nio alias Nonnie Saerang, pindah ke Jakarta dan membuka gerai di Pasar Baru.

Setelah Perang Dunia II, bisnis kembali berkembang. Dalam sebuah pemberitaan koran Semarang De Locomotief pada 1949, Njonja Meneer disebut hadir dalam pasar malam dan menjual berbagai produk herbal. Nama Njonja Meneer bahkan mendapat julukan "Ratu Jamu" karena produknya digunakan berbagai kelompok masyarakat.

5. Frisian Flag - 1922

Merek berikutnya memiliki sejarah yang sedikit berbeda. Dikutip dari situs remi, Frisian Flag bukan bermula dari pabrik di Indonesia, melainkan dari produk susu yang pertama kali diimpor ke Hindia Belanda.

Pada 1922, produk dengan merek Frische Vlag mulai diimpor ke Indonesia dari Cooperative Condens Fabriek, Belanda. Sejak saat itu, merek tersebut berkembang dan kemudian dikenal luas sebagai Frisian Flag. Perusahaan sendiri menyebut 1922 sebagai awal perjalanan mereka di Indonesia.

Perkembangan berikutnya terjadi puluhan tahun kemudian. Pada 1969, pembangunan pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, dimulai. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1971, susu kental manis mulai diproduksi dan didistribusikan melalui pabrik tersebut. Dari produk yang awalnya didatangkan dari Belanda, Frisian Flag kemudian berkembang menjadi salah satu merek susu yang dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia.

6. Kapal Api - 1927

Kapal Api didirikan pada 1927 oleh perantau asal Fujian, China bernama Go Soe Loet. Awal mulanya terjadi saat dia tiba di Surabaya dan melihat besarnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi. Ia kemudian merintis usaha kopi dengan memilih biji berkualitas, menyangrai, menggiling, dan menjualnya ke pasar.

Untuk membedakan produknya dari pesaing, kopi tersebut dikemas menggunakan kertas berwarna cokelat dengan merek HAP Hootjan. Nama tersebut kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Kapal Api. Ternyata, nama Kapal Api terkait dengan pengalaman Go Soe Loet menaiki kapal uap ketika menuju Jawa.

Bisnis tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan Kapal Api adalah putranya, Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto.

Di tangan Soedomo, bisnis berkembang semakin besar. Ia melakukan berbagai pembaruan, termasuk mendatangkan mesin pengolahan kopi dari Jerman setelah sebelumnya mencoba membuat mesin sendiri.

Kapal Api kemudian memperluas distribusi ke berbagai wilayah Indonesia dan mulai mengekspor produknya pada 1985. Perusahaan juga mengembangkan berbagai merek lain, termasuk Kopi ABC dan Excelso.

7. Bango - 1928

Kecap juga menjadi bagian penting dalam sejarah merek di Indonesia. Salah satunya adalah Kecap Bango, yang telah ada sejak 1928.

Mengutip Detik Finance, Bango bermula dari industri rumahan di kawasan Benteng, Tangerang. Pasangan suami istri Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio membuat kecap di garasi rumah mereka.

Nama Bango dipilih dengan harapan produk tersebut dapat terbang hingga ke mancanegara. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Pada 1939-1947, produksi Bango sempat terhenti karena bahan baku sulit diperoleh akibat perang.

Setelah produksi kembali berjalan, kecap Bango dipasarkan dari pintu ke pintu. Pada periode 1950-1980, penjualannya meluas ke Jawa, Sumatera, hingga Manado. Seiring meningkatnya permintaan, pabrik kembali dikembangkan. Pada 1997-1998, Bango membuka pabrik di Subang.

Pada 2001, Unilever mengakuisisi Bango dan menjadikan merek tersebut bagian dari bisnisnya. Meski kepemilikannya berubah, nama Bango tetap bertahan sebagai salah satu merek kecap yang paling dikenal masyarakat Indonesia. 

kecap Bangokecap Bango Foto: Unilever Indonesia

8. Tolak Angin - 1930

Sebelum menjadi produk jamu dalam kemasan seperti sekarang, Tolak Angin bermula dari racikan sederhana seorang perempuan di Jawa Tengah. Pasangan suami istri Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio sebelumnya mengelola usaha pemerahan susu bernama Melkrey di Ambarawa.

Pada 1930, mereka merintis toko roti bernama Roti Muncul. Pada tahun yang sama, Rakhmat Sulistio mulai meracik jamu untuk mengatasi masuk angin. Racikan tersebut kemudian dikenal sebagai Tolak Angin.

Berbekal kemampuan mengolah rempah-rempah, pasangan tersebut kemudian membuka usaha jamu di Yogyakarta pada 1935. Pada 1940, Tolak Angin dalam bentuk godokan mulai dipasarkan.

Perjalanan bisnis kemudian berkembang. Pada 1951, mereka mendirikan perusahaan sederhana bernama Sido Muncul di Semarang. Nama tersebut berarti "Impian yang Terwujud". Dari perusahaan itulah Tolak Angin kemudian berkembang menjadi salah satu produk jamu paling dikenal di Indonesia.

9. Bir Bintang - 1931

Minuman berikutnya memiliki sejarah yang bermula pada masa Hindia Belanda. Pada 1931, berdiri pabrik minuman beralkohol bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya.

Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan dikenal melalui produk Bir Bintang. Dalam perjalanannya, merek ini melewati berbagai perubahan dan perkembangan perusahaan. Bir Bintang kemudian menjadi salah satu merek minuman yang paling dikenal di Indonesia.

Seiring perubahan preferensi konsumen, perusahaan juga mengembangkan berbagai varian produk, termasuk produk tanpa alkohol. Meski sejarah awalnya berkaitan dengan perusahaan yang berdiri pada 1931, nama Bir Bintang kemudian menjadi identitas yang jauh lebih dikenal masyarakat dibanding nama perusahaan awalnya.

10. Blue Band - 1934

Merek terakhir dalam daftar ini adalah Blue Band, yang masuk ke Hindia Belanda pada 1934Pada masa itu, masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda membutuhkan margarin. Blue Band kemudian diperkenalkan ke pasar dan menggunakan pita biru sebagai ikon yang dikaitkan dengan kualitas tinggi.

Perkembangannya berlanjut. Pada 1936, tercatat sudah ada N.V. van den Berghs Fabrieken di Batavia yang memproduksi minyak goreng dan mentega.

Setahun kemudian, Sidney van den Bergh berkunjung ke Batavia. Ia melihat besarnya peluang pasar di Hindia Belanda dan menilai posisi perusahaan di wilayah tersebut sangat baik.

Perkiraan tersebut kemudian terbukti. Setelah sempat terganggu perang, Blue Band berkembang menjadi salah satu merek margarin yang dikenal luas.

Iklan-iklannya juga semakin banyak menghiasi media massa. Blue Band tidak hanya menjual margarin, tetapi membangun citra sebagai produk yang mendukung kebutuhan gizi keluarga, antara lain dengan menonjolkan kandungan vitamin A dan D. Hingga kini, Blue Band masih dijual di Indonesia dalam berbagai ukuran dan kemasan.

 


 

 


(mfa/mfa)

Most Popular
Features