Adu Kuat Sentimen Rebalancing MSCI-Inflasi AS: IHSG-Rupiah Terguncang?
Pasar keuangan Indonesia pada Kamis (13/8/2026) akan mencerna inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai sesuai perkiraan. Perhatian selanjutnya tertuju pada inflasi produsen dan klaim pengangguran AS yang akan dirilis pada Kamis malam.
Ketiga data tersebut akan menjadi rangkaian penting untuk membaca arah kebijakan The Federal Reserve. Inflasi konsumen menunjukkan tekanan harga mulai berkurang, tetapi pasar masih membutuhkan konfirmasi bahwa biaya di tingkat produsen dan kondisi tenaga kerja juga mendukung pelonggaran kebijakan moneter.
Selain AS terdapat PPI Jepang yang masih menjadi fokus pemerintah Jepang. Sementara dari sisi domestik pasar akan dihadapi oleh pengumuman MSCI yang diumumkan dini hari tadi.
Berikut ini adalah penjabaran serta hasil pengumuman kemarin serta yang akan diumumkan pada hari ini:
Perkembangan Perang: AS-Iran Masih Buntu, Selat Hormuz Tetap Tertutup
Iran dan Amerika Serikat (AS) masih belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk. Sumber senior Iran mengatakan belum ada kemajuan dalam upaya menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni.
Kesepakatan tersebut sebelumnya mencakup penghentian operasi militer dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, AS menuduh Iran gagal memenuhi komitmennya, sementara Teheran menuding Washington melanggar kesepakatan dengan tetap memblokade pelabuhan dan membekukan aset Iran.
Presiden AS Donald Trump mengklaim AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Namun, otoritas Iran menyatakan jalur tersebut masih diblokade dan tidak akan dibuka sampai tuntutan Teheran dipenuhi.
Konflik kembali memanas setelah serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan Teluk. Kondisi ini membuat harga minyak tetap volatil.
Harga Brent berada di sekitar US$88 per barel, sementara WTI sekitar US$83 per barel. Sebelum perang, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia.
Hasil Rebalancing MSCI
Hasil rebalancing MSCI diumumkan Kamis dini hari. Investor pada pasar hari ini diperkirakan akan mencermati hasil evaluasi indeks MSCI yang diumumkan pada dini hari tadi.
Dalam evaluasi tersebut, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Index, sementara dua saham dikeluarkan, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Namun, nasib keduanya berbeda. CPIN langsung dimasukkan ke MSCI Indonesia Small Cap sehingga perubahan ini lebih tepat disebut penurunan kelas dari Standard menuju Small Cap.
Sementara GOTO, penghapusannya tidak hanya berlaku dari MSCI Indonesia Standard. MSCI memastikan saham tersebut juga akan dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index menggunakan harga sistem terendah, yakni 0,00001 dari mata uang saham.
Perlakuan khusus ini diterapkan karena muncul persoalan replikasi indeks akibat likuiditas GOTO yang sangat rendah setelah sahamnya bertahan di harga minimum Rp50 sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.
MSCI juga menghapus sembilan saham dari Indonesia Small Cap. Karena saat ini Indonesia sedang diberlakukan pembekuan maka tidak ada penambahan pada emiten Indonesia sampai dengan pengumuman selanjutnya sebelum tanggal efektif rebalancing MSCI November 2026 mendatang.
Seluruh perubahan berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Penyesuaian portofolio oleh passive fund biasanya berubah menjelang penutupan pada tanggal efektif mulai perdagangan hari ini hingga penutupan 31 Agustus mendatang.
Oleh karena itu, saham yang keluar berpotensi menghadapi tekanan jual dan lonjakan volume dalam beberapa hari ke depan sampai sebelum tanggal efektif rebalancing berlaku.
MSCI tidak memberikan pengumuman tambahan terkait Indonesia di dalam website resmi Index Announcement MSCI, sehingga investor masih perlu menunggu hasil keputusan MSCI terkait kelanjutan pembekuan dan lainnya hingga pengumuman lanjutan sebelum rebalancing MSCI November 2026 mendatang.
Prabowo Serahkan Daftar Nama 4 Calon Dewan Gubernur Bank Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengusulkan empat nama untuk mengisi posisi Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).
Ketua DPR Puan Maharani mengatakan Surat Presiden terkait calon Dewan Gubernur BI telah disampaikan kepada pimpinan DPR oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Empat nama yang diajukan yakni Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI, Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI
Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur BI, dan Anwar Bashori sebagau calon Deputi Gubernur BI..
Saat ini, Destry menjabat Deputi Gubernur Senior BI, Aida merupakan Deputi Gubernur BI, Solikin menjabat Asisten Gubernur BI, sedangkan Anwar merupakan Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI.
Puan mengatakan proses pemilihan akan dilakukan melalui mekanisme DPR setelah masa sidang dibuka pada 14 Agustus 2026.
Inflasi AS Melandai Sesuai Ekspektasi
Data inflasi AS yang dirilis pada Rabu menunjukkan harga barang dan jasa mulai melambat, sehingga kemungkinan mengurangi urgensi The Federal Reserve (The Fed) untuk segera menaikkan suku bunga.
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS), indeks harga konsumen (CPI) naik 0,1% secara bulanan pada Juli. Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,2%.
Secara tahunan, inflasi masing-masing berada di level 3,4% dan 2,5%, turun 0,1 poin persentase dari Juni. Seluruh angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus Dow Jones.
Meski masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, kenaikan harga yang relatif rendah dalam dua bulan terakhir menunjukkan tekanan akibat lonjakan energi mulai mereda. Namun, harga masih volatil karena kondisi di Timur Tengah terus berubah.
Penurunan inflasi tahunan menunjukkan tekanan harga secara bertahap mulai mereda. Namun, inflasi masih berada di atas sasaran The Fed sebesar 2%, sementara kenaikan bulanan memperlihatkan harga kembali meningkat setelah sempat turun pada Juni.
Hasil ini dapat mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga lanjutan, tetapi belum cukup untuk mendorong pemangkasan bunga secara agresif.
Bagi pasar Indonesia, inflasi yang sesuai perkiraan cenderung memberikan sentimen positif terbatas. Tekanan terhadap dolar AS dan yield obligasi dapat mereda sehingga membantu pergerakan rupiah serta IHSG.
Inflasi Produsen Jepang
Hari ini, investor akan mencermati indeks harga barang perusahaan (PPI) Jepang periode Juli yang akan dirilis pagi ini. Indikator ini menggambarkan perubahan harga barang yang diperdagangkan antar korporasi dan menjadi ukuran tekanan biaya di tingkat produsen.
Secara tahunan, inflasi produsen Jepang diperkirakan meningkat menjadi 7,4% dari 7,1% pada Juni. Secara bulanan, harga produsen diproyeksikan naik 0,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% sebelumnya.
Kenaikan tersebut menunjukkan perusahaan Jepang masih menghadapi tekanan biaya bahan baku, energi, dan barang impor. Pelemahan yen juga dapat meningkatkan biaya impor yang kemudian diteruskan ke harga jual perusahaan dan konsumen.
Realisasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat alasan Bank of Japan untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter. Kondisi ini berpotensi menguatkan yen, tetapi dapat menekan saham eksportir Jepang dan meningkatkan volatilitas pasar Asia.
Sebaliknya, PPI yang lebih rendah akan menunjukkan tekanan biaya mulai berkurang. Hasil tersebut dapat meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang dan memberikan sentimen positif bagi pasar saham regional, meskipun pelemahan yen berpotensi kembali terjadi.
Inflasi Produsen AS
Setelah inflasi konsumen kemarin, pasar akan mencermati indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS periode Juli yang akan diumumkan malam ini. Data ini penting karena menggambarkan perubahan biaya yang dihadapi produsen sebelum diteruskan kepada konsumen.
PPI secara tahunan diperkirakan melandai menjadi 4,9% dari 5,5% pada Juni. Secara bulanan, harga produsen diproyeksikan naik 0,2% setelah sebelumnya turun 0,3%.
Inflasi produsen inti diperkirakan turun menjadi 4,2% secara tahunan dari 4,7%. Namun, secara bulanan PPI inti diproyeksikan meningkat 0,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juni.
Apabila hasilnya lebih rendah dari perkiraan, pasar dapat menilai tekanan biaya perusahaan ikut mereda setelah inflasi konsumen turun. Kondisi ini berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, PPI yang lebih tinggi akan menunjukkan tekanan biaya produksi masih kuat dan berisiko diteruskan menjadi kenaikan harga konsumen. Skenario tersebut dapat memperkuat dolar, meningkatkan yield obligasi, dan memberikan tekanan terhadap rupiah serta IHSG.
Klaim Pengangguran AS
Pada waktu yang sama, pasar akan menunggu klaim awal tunjangan pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 8 Agustus. Klaim diperkirakan naik menjadi 202.000 dari 199.000 pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, klaim lanjutan diperkirakan berada di sekitar 1,8 juta, relatif stabil dibandingkan 1,801 juta sebelumnya. Klaim lanjutan menggambarkan jumlah masyarakat yang masih menerima tunjangan setelah mengajukan klaim pertama.
Kenaikan klaim awal secara terkendali dapat menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melonggar tanpa mengalami pelemahan tajam. Kondisi tersebut cukup positif bagi pasar karena dapat mengurangi tekanan upah dan inflasi sekaligus memberikan ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Namun, klaim yang jauh lebih tinggi dari perkiraan dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja.
Sebaliknya, klaim yang kembali turun akan menunjukkan pasar tenaga kerja tetap ketat. Kondisi itu berpotensi membuat The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama karena tekanan inflasi dari upah masih berisiko bertahan.
(gls/gls)