MARKET DATA
Newsletter

Adu Kuat Sentimen Rebalancing MSCI-Inflasi AS: IHSG-Rupiah Terguncang?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 August 2026 06:36
Trader James Dresch, center, and specialist Anthony Matesic, right, work on the floor of the New York Stock Exchange, Friday, Jan. 4, 2019. Stocks are jumping at the open on Wall Street Friday as investors welcome news of trade talks between the U.S.
Foto: Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street bergerak beragam pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Mayoritas indeks menguat setelah laporan inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Kenaikan juga didorong saham teknologi, terutama perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), seperti CoreWeave dan Super Micro Computer.

Indeks S&P naik 0,26% dan ditutup di level 7.748,50. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,54% menjadi 26.588,49. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,04% atau 21,58 poin ke 53.770,27.

Indeks harga konsumen (CPI) AS pada Juli sesuai dengan ekspektasi. Inflasi umum naik 0,1% secara bulanan, sementara tingkat inflasi tahunan mencapai 3,4%. CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, naik 0,2% pada Juli dan 2,5% secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan untuk CPI umum maupun inti sedikit turun dibandingkan Juni.

 

Data tersebut muncul ketika Federal Reserve (The Fed) tengah sangat memperhatikan dampak kenaikan harga terhadap konsumen AS. Pada rapat terakhir, tiga pejabat The Fed berbeda pendapat dan memilih menaikkan suku bunga.

Kekhawatiran tersebut belum sepenuhnya mereda. Harga minyak AS menembus US$83 per barel pada Rabu, di tengah semakin kecilnya harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, setelah data inflasi dirilis, peluang The Fed mempertahankan suku bunga bulan depan meningkat.

Perdagangan futures suku bunga The Fed kini menunjukkan peluang sekitar 60% bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%, berdasarkan CME FedWatch. Angka tersebut naik dari lebih dari 45% sepekan sebelumnya.

"Inflasi yang sesuai ekspektasi akan mempertahankan narasi bahwa tidak ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga, yang muncul setelah laporan tenaga kerja pekan lalu," kata Ellen Zentner, Chief Economic Strategist Morgan Stanley Wealth Management, dikutip dari CNBC International.

"Masih akan ada satu putaran data inflasi sebelum rapat FOMC September, sehingga situasinya masih bisa berubah. Namun, kecuali data tersebut menunjukkan kondisi yang jauh berbeda, The Fed kemungkinan masih berada dalam posisi untuk mempertahankan suku bunga bulan depan," ujarnya.

Sementara itu, laporan kinerja kuartalan dan prospek terbaru dari CoreWeave dan Super Micro Computer meyakinkan investor bahwa permintaan terhadap pembangunan infrastruktur AI masih stabil.

Saham CoreWeave melonjak 19% setelah margin laba operasional yang disesuaikan pada kuartal II sebesar 5% melampaui ekspektasi. Pendapatan perusahaan juga berlipat ganda dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Saham Super Micro Computer turut melesat 19% setelah perusahaan memberikan proyeksi laba dan pendapatan kuartal I yang kuat.

Saham perusahaan lain yang terkait AI juga menguat. Dell Technologies naik hampir 10%, sedangkan Micron Technology menguat hampir 5%. Cisco Systems naik hampir 3%.

Selain itu, saham perusahaan neocloud asal Belanda yang tercatat di AS, Nebius, melonjak 34%.

(gls/gls)


Most Popular
Features