Sentimen pasar pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu cenderung beragam. Dari eksternal, bursa Asia-Pasifik mayoritas dibuka menguat. Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,2%, Topix menguat 0,29%, Kospi Korea Selatan bertambah 0,89%, dan Kosdaq naik 0,6%.
Penguatan kemarin melanjutkan kinerja positif pada dua perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (6/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp17.910/US$, setelah melonjak 0,50% pada Rabu.
S&P 500 Cetak Rekor Baru, Data Tenaga Kerja AS Redam Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga
Indeks S&P 500 menguat pada perdagangan Jumat setelah pelaku pasar menilai penurunan tak terduga jumlah pekerjaan pada Juli dapat membuat Federal Reserve menahan suku bunga dalam waktu dekat.
Indeks tersebut naik 0,62% dan ditutup pada rekor baru 7.757,64. Nasdaq Composite tampil lebih unggul dengan lonjakan 1,3% ke level 26.690,62. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 151,83 poin atau 0,28% menjadi 54.036,93.
Wall Street mencatat kenaikan selama dua pekan berturut-turut. S&P 500, yang pada awal pekan lalu untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.700, menguat 3,6% sepanjang pekan.
Nasdaq membukukan kenaikan 5,2%, didorong oleh pemulihan saham-saham produsen cip. iShares Semiconductor ETF atau SOXX bahkan menutup pekan dengan kenaikan lebih dari 7%. Dow juga naik hampir 3%. Ketiga indeks tersebut mencatat performa mingguan terbaik sejak April.
Data Pekerjaan Jauh di Bawah Perkiraan
Laporan nonfarm payrolls Juli menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan. Angka ini jauh lebih lemah dibandingkan perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memproyeksikan penambahan 83.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% karena tingkat partisipasi angkatan kerja merosot ke posisi terendah dalam lebih dari lima tahun. Sebelumnya, ekonom memperkirakan tingkat pengangguran akan bertahan di 4,2%.
Mayoritas pelaku pasar kontrak berjangka fed funds kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50% hingga 3,75% dalam pertemuan kebijakan September, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Perubahan ekspektasi tersebut berlangsung cepat. Sehari sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang sebesar 55% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
"Bagi pasar tenaga kerja, angka ini menunjukkan kondisi yang tidak sedang booming dan mungkin mulai melemah. Namun, bagi pasar keuangan, dua kekhawatiran terbesar adalah imbal hasil obligasi dan inflasi," kata Kepala Investasi Nuveen, Saira Malik, dalam program Squawk Box CNBC.
Menurut Malik, lemahnya data pekerjaan tidak mendukung pandangan bahwa The Fed harus kembali menaikkan suku bunga.
Saham Teknologi dan Software Melesat
Saham-saham perangkat lunak turut memimpin penguatan pasar pada Jumat. Laporan keuangan terbaru membantu meredakan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan mengganggu bisnis industri perangkat lunak.
Saham Cloudflare melonjak lebih dari 5% setelah perusahaan keamanan siber berbasis cloud tersebut mengeluarkan proyeksi kinerja yang solid untuk kuartal berjalan dan sepanjang tahun.
Saham Atlassian melesat 35% setelah pendapatan dan laba disesuaikan pada kuartal keempat melampaui ekspektasi. Perusahaan juga menyampaikan panduan kinerja yang optimistis.
Sementara itu, saham Airbnb menguat 17% setelah perusahaan penyewaan akomodasi tersebut membukukan pendapatan dan laba yang lebih baik dari perkiraan.
Harga Minyak Naik Tipis
Harga minyak bergerak sedikit lebih tinggi ketika investor menantikan potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan bahwa kedua negara berpeluang mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman September naik 1,15% dan ditutup pada US$78,18 per barel. Adapun harga Brent, yang menjadi acuan internasional, meningkat 1,29% menjadi US$83,55 per barel.
"Kesimpulannya, penyelesaian diperkirakan akan tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jika situasinya berubah, kecemasan akan kembali muncul di pasar," ujar Kepala Strategi Ekuitas U.S. Bank Asset Management, Terry Sandven.
"Namun, untuk saat ini, berbagai kekhawatiran pasar mulai mereda," tambahnya.
Saham SpaceX Melonjak
Saham Space Exploration Technologies atau SpaceX melesat 12% pada Jumat. Kenaikan tersebut membuat saham perusahaan berpeluang menutup satu pekan perdagangan dengan hasil positif setelah cukup lama tertekan.
Saham perusahaan milik Elon Musk itu telah naik hampir 19% sepanjang pekan, didukung oleh meningkatnya optimisme investor terhadap fundamental SpaceX. Sebelumnya, saham tersebut selalu melemah dalam empat pekan berturut-turut.
Reli SpaceX pekan ini salah satunya dipicu oleh keputusan Argus yang menaikkan rekomendasi saham SpaceX dari hold menjadi buy.
Perusahaan investasi tersebut juga mempertahankan target harga sebesar US$160 per saham. Target itu mencerminkan potensi kenaikan sekitar 39% dibandingkan harga penutupan Kamis.
Selain itu, kekhawatiran mengenai potensi aksi jual akibat sejumlah jadwal pembukaan masa penguncian saham tampaknya telah tercermin dalam harga. Saham SpaceX sebelumnya sempat melemah pada awal pekan karena kekhawatiran tersebut.
Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada 10-14 Agustus 2026. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada inflasi Amerika Serikat (AS), harga produsen, dan penjualan ritel yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan merilis hasil Survei Konsumen Juli dan Survei Penjualan Eceran Juni. Kedua data tersebut akan memberikan gambaran mengenai daya beli masyarakat Indonesia.
Puncaknya adalah pada Jumat pekan ini di mana Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan serta menyerahkan Nota Keuangan serta Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Agenda global berdampak tinggi pada pekan ini terkonsentrasi di AS, China tidak memiliki agenda penting pada periode tersebut.
Keyakinan Konsumen Indonesia
Bank Indonesia dijadwalkan merilis Survei Konsumen Juli pada hari ini, Senin (10/8/2026). Proyeksi awal menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dapat turun menjadi 116 dari 117,8 pada Juni.
IKK Juni sebelumnya turun dari 120,9 dan mencapai posisi terendah sejak September 2025. Pelemahan terutama berasal dari menurunnya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, pembelian barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan kerja.
Ekspektasi konsumen terhadap pendapatan, ketersediaan pekerjaan, dan kegiatan usaha enam bulan mendatang juga ikut melemah. Meski demikian, indeks masih berada di atas 100 yang menunjukkan konsumen tetap berada dalam zona optimistis.
Pasar akan mencermati apakah penurunan keyakinan konsumen mulai mereda atau justru berlanjut pada Juli. IKK yang lebih baik dari proyeksi dapat mendukung saham konsumsi, ritel, otomotif, perbankan, dan telekomunikasi.
Sebaliknya, penurunan lebih dalam dapat memperkuat kekhawatiran mengenai daya beli dan permintaan kredit konsumsi. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi optimisme terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2026.
Penjualan Eceran Indonesia
BI akan melanjutkan agenda domestik dengan merilis Survei Penjualan Eceran Juni pada Selasa (11/8/2026).
Penjualan eceran diproyeksikan tumbuh 1,8% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,9% pada Mei. Penjualan Mei terkontraksi untuk bulan kedua berturut-turut dan menjadi penurunan terdalam sejak Mei 2023.
Pelemahan sebelumnya terlihat pada penjualan makanan, minuman dan tembakau, sandang, serta peralatan rumah tangga. Penjualan perangkat informasi dan komunikasi juga masih terkontraksi dalam. Sementara itu, penjualan suku cadang otomotif tetap tumbuh meskipun lajunya melambat.
Kembalinya penjualan eceran ke zona positif akan memberikan sinyal bahwa konsumsi rumah tangga mulai pulih. Hal ini penting karena konsumsi merupakan kontributor terbesar perekonomian Indonesia dan menjadi penopang pendapatan banyak emiten domestik.
Namun, apabila penjualan kembali terkontraksi, pasar dapat menilai tekanan biaya hidup masih membatasi belanja masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi membebani saham ritel, barang konsumsi, otomotif, dan perbankan yang bergantung pada pertumbuhan kredit konsumsi.
Penjualan Rumah AS
AS akan mengumumkan penjualan rumah lama periode Juli pada Selasa (11/8/2026). Konsensus memperkirakan penjualan turun tipis menjadi 4,07 juta unit dari 4,09 juta unit secara tahunan.
Pada Juni, penjualan rumah lama turun 2,4% secara bulanan dan berada di bawah perkiraan pasar. Penurunan terjadi di wilayah Selatan, Midwest, dan Barat AS, sedangkan wilayah Timur Laut mencatat kenaikan.
Persediaan rumah turun menjadi 1,56 juta unit atau setara dengan kebutuhan selama 4,6 bulan. Pada saat yang sama, harga rata-rata rumah meningkat 1,8% secara tahunan menjadi US$440.600, tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Data perumahan memberikan gambaran mengenai dampak suku bunga tinggi terhadap rumah tangga dan perekonomian AS. Penjualan yang kembali melemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran The Fed.
Namun, penurunan yang terlalu dalam juga berisiko memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi mulai memberikan tekanan lebih besar terhadap aktivitas ekonomi.
Inflasi Konsumen AS
Agenda pbesar pekan ini adalah inflasi konsumen AS periode Juli yang akan dirilis pada Rabu (12/8/2026) pukul 19.30 WIB.
Inflasi tahunan diperkirakan melandai menjadi 3,4% dari 3,5%. Secara bulanan, harga konsumen diperkirakan naik 0,1% setelah turun 0,4% pada Juni.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, diproyeksikan melambat menjadi 2,5% secara tahunan dari 2,6%. Secara bulanan, inflasi inti diperkirakan meningkat 0,2% setelah tidak mengalami perubahan pada periode sebelumnya.
Inflasi Juni turun tajam karena meredanya tekanan harga energi. Harga bensin dan bahan bakar turun sehingga mampu mengimbangi kenaikan harga pangan dan tempat tinggal. Inflasi inti juga melandai dari 2,9% menjadi 2,6%.
Karena penurunan sebelumnya banyak dibantu oleh energi, pasar akan mencermati apakah tekanan harga pada jasa dan tempat tinggal ikut mereda. Inflasi inti dinilai lebih menggambarkan tekanan harga yang mendasar dan berkelanjutan.
Inflasi di atas perkiraan dapat mendorong dolar AS serta imbal hasil US Treasury karena peluang pelonggaran The Fed akan mengecil. Skenario tersebut berpotensi menekan rupiah, obligasi pemerintah, dan saham negara berkembang.
Sebaliknya, inflasi yang sesuai atau lebih rendah dari proyeksi dapat memperkuat harapan penurunan suku bunga. Kondisi ini berpotensi mendukung saham perbankan, properti, teknologi, dan sektor lain yang sensitif terhadap suku bunga.
Inflasi Produsen AS
AS akan merilis Producer Price Index (PPI) Juli pada Kamis (13/8/2026) pukul 19.30 WIB. PPI utama diperkirakan naik 0,1% secara bulanan setelah turun 0,3% pada Juni.
PPI inti diproyeksikan tumbuh 0,2%, sama seperti periode sebelumnya. Secara tahunan, inflasi produsen diperkirakan melandai menjadi sekitar 5% dari 5,5%.
Pada Juni, inflasi produsen tahunan turun menjadi 5,5% dari 6% dan berada di bawah ekspektasi. Meski menurun, angkanya masih cukup tinggi dan menunjukkan tekanan biaya di tingkat produsen belum sepenuhnya hilang.
PPI kerap dipandang sebagai petunjuk awal tekanan harga yang nantinya dapat diteruskan produsen kepada konsumen. Kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, terutama setelah CPI yang panas, dapat memperkuat kekhawatiran bahwa proses penurunan inflasi mulai terhambat.
Sebaliknya, PPI yang lemah dapat memperkuat sentimen positif apabila inflasi konsumen juga terkendali. Kombinasi tersebut berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberikan ruang penguatan bagi rupiah serta IHSG.
Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027
Perhatian masyarakat, dunia usaha, hingga investor akan tertuju pada Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI pada Jumat (14/8/2026). Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah melalui RAPBN 2027 dan Nota Keuangan.
Sidang tahun ini digelar lebih cepat dari biasanya. Jika sebelumnya berlangsung pada 16 Agustus, tahun ini dimajukan dua hari karena 16 Agustus 2026 jatuh pada Minggu.
Pada pagi hari, Prabowo akan menyampaikan Pidato Kenegaraan yang memuat evaluasi kinerja pemerintah sepanjang 2026 sekaligus prioritas pembangunan ke depan. Sementara pada siang hari, Presiden akan menyampaikan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan.
Dua agenda tersebut menjadi penting karena dapat memberikan sinyal mengenai arah ekonomi dan fiskal Indonesia pada 2027.
Lewat Pidato Kenegaraan, pasar akan mencermati program apa saja yang akan menjadi prioritas pemerintah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), mengingat dampaknya tidak hanya terhadap belanja negara, tetapi juga daya beli masyarakat, penyerapan produk dalam negeri, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Namun, perhatian terbesar investor akan tertuju pada RAPBN 2027.
Melalui Nota Keuangan, pemerintah akan membuka gambaran mengenai seberapa besar negara akan membelanjakan anggaran, sumber pendapatan negara, defisit, hingga strategi pembiayaan untuk menjalankan berbagai program prioritas.
Sejumlah asumsi makro juga akan menjadi sorotan, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, hingga harga minyak mentah Indonesia (ICP).
Bagi investor, angka-angka tersebut menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal dan potensi dampaknya terhadap pasar keuangan. Sementara bagi dunia usaha, asumsi tersebut dapat menjadi gambaran mengenai prospek permintaan, investasi, biaya produksi, hingga peluang bisnis sepanjang 2027.
Sebelumnya, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR telah menyepakati sejumlah kerangka awal RAPBN 2027 dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.
Salah satu target yang disepakati adalah pertumbuhan ekonomi 2027 di kisaran 5,8%-6,5%.
Inflasi dipatok di kisaran 1,5%-3,5%. Sementara itu, nilai tukar rupiah diasumsikan berada di rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, dengan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun diproyeksikan sebesar 6,5%-7,3%.
"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna DPR, dikutip Jumat (3/7/2026).
Rentang tersebut selanjutnya menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam menyusun rancangan awal RAPBN 2027 beserta Nota Keuangan.
Setelah disampaikan dalam Sidang Bersama, RUU APBN 2027 akan dibahas lebih lanjut bersama DPR, termasuk melalui Komisi XI, sebelum ditetapkan menjadi undang-undang pada akhir Oktober 2026.
Dengan demikian, 14 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi pasar, hari tersebut menjadi momentum untuk membaca arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo: seberapa agresif belanja negara akan digenjot, dari mana uangnya berasal, dan sektor mana yang akan menjadi prioritas pemerintah pada 2027.
Penjualan Ritel AS
Penjualan ritel AS periode Juli akan diumumkan pada Jumat (14/8/2026) pukul 19.30 WIB. Konsensus memperkirakan penjualan tumbuh 0,1% secara bulanan, melambat dari 0,2% pada Juni.
Penjualan di luar kendaraan diperkirakan meningkat 0,2% setelah turun 0,2%. Sementara itu, kelompok penjualan yang digunakan dalam penghitungan konsumsi pada PDB diproyeksikan tetap tumbuh solid.
Pada Juni, penjualan ritel tetap bertumbuh karena kenaikan penjualan kendaraan, perdagangan daring, elektronik, dan perlengkapan olahraga. Namun, penurunan harga energi menekan penerimaan stasiun bahan bakar. Di luar bensin, penjualan justru tumbuh lebih kuat.
Angka di atas perkiraan menunjukkan konsumsi AS tetap solid dan dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, konsumsi yang terlalu kuat juga dapat memperlambat penurunan inflasi dan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sebaliknya, penjualan yang lemah dapat mendukung ekspektasi pelonggaran moneter. Reaksi pasar akan bergantung pada apakah pelemahan tersebut dianggap sebagai normalisasi konsumsi atau sinyal perlambatan ekonomi yang lebih tajam.
Berikut agenda ekonomi hari ini:
- Neraca Perdagangan Jepang Juni 2026
- Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026
-
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Kota Jakarta Pusat
-
Seremoni pembukaan perdagangan dan peluncuran ETF emas di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Kota Jakarta Selatan
-
Konferensi Pers HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia di Main Hall BEI, Kota Jaksel
-
Konferensi Pers Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan di kantor pusat BPS, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua DK OJK dan Ketua DK LPS
-
Konferensi Pers MoU PT Rans Entertainment Tbk. dengan PT Mayora Indah Tbk. di Le Nusa, Kota Jakarta Selatan
-
Media Gathering Jakarta Eye Center di Roti Romi Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain CEO JEC dan Ketua Perdami Jay
Berikut agenda korporasi hari ini:
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Selamat Sempurna Tbk (SMSM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Eastparc Hotel Tbk (EAST)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Interim Samudera Indonesia Tbk (SMDR)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Nusa Palapa Gemilang Tbk (NPGF)
-
Laporan Pembelian Kembali Saham (Buyback) (ISSP)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI)
Berikut indikator ekonomi terbaru:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]