MARKET DATA
Newsletter

Menanti Pidato Kenegaraan Prabowo di Tengah "Banjir" Kabar dari AS

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 August 2026 06:23
FILE PHOTO: A street sign for Wall Street is seen outside of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, New York, U.S., June 28, 2021. REUTERS/Andrew Kelly//File Photo
Foto: REUTERS/Andrew Kelly

S&P 500 Cetak Rekor Baru, Data Tenaga Kerja AS Redam Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

Indeks S&P 500 menguat pada perdagangan Jumat setelah pelaku pasar menilai penurunan tak terduga jumlah pekerjaan pada Juli dapat membuat Federal Reserve menahan suku bunga dalam waktu dekat.

Indeks tersebut naik 0,62% dan ditutup pada rekor baru 7.757,64. Nasdaq Composite tampil lebih unggul dengan lonjakan 1,3% ke level 26.690,62. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 151,83 poin atau 0,28% menjadi 54.036,93.

Wall Street mencatat kenaikan selama dua pekan berturut-turut. S&P 500, yang pada awal pekan lalu untuk pertama kalinya ditutup di atas level 7.700, menguat 3,6% sepanjang pekan.

Nasdaq membukukan kenaikan 5,2%, didorong oleh pemulihan saham-saham produsen cip. iShares Semiconductor ETF atau SOXX bahkan menutup pekan dengan kenaikan lebih dari 7%. Dow juga naik hampir 3%. Ketiga indeks tersebut mencatat performa mingguan terbaik sejak April.

Data Pekerjaan Jauh di Bawah Perkiraan

Laporan nonfarm payrolls Juli menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan. Angka ini jauh lebih lemah dibandingkan perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memproyeksikan penambahan 83.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% karena tingkat partisipasi angkatan kerja merosot ke posisi terendah dalam lebih dari lima tahun. Sebelumnya, ekonom memperkirakan tingkat pengangguran akan bertahan di 4,2%.

Mayoritas pelaku pasar kontrak berjangka fed funds kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50% hingga 3,75% dalam pertemuan kebijakan September, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Perubahan ekspektasi tersebut berlangsung cepat. Sehari sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang sebesar 55% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

"Bagi pasar tenaga kerja, angka ini menunjukkan kondisi yang tidak sedang booming dan mungkin mulai melemah. Namun, bagi pasar keuangan, dua kekhawatiran terbesar adalah imbal hasil obligasi dan inflasi," kata Kepala Investasi Nuveen, Saira Malik, dalam program Squawk Box CNBC.

Menurut Malik, lemahnya data pekerjaan tidak mendukung pandangan bahwa The Fed harus kembali menaikkan suku bunga.

Saham Teknologi dan Software Melesat

Saham-saham perangkat lunak turut memimpin penguatan pasar pada Jumat. Laporan keuangan terbaru membantu meredakan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan mengganggu bisnis industri perangkat lunak.

Saham Cloudflare melonjak lebih dari 5% setelah perusahaan keamanan siber berbasis cloud tersebut mengeluarkan proyeksi kinerja yang solid untuk kuartal berjalan dan sepanjang tahun.

Saham Atlassian melesat 35% setelah pendapatan dan laba disesuaikan pada kuartal keempat melampaui ekspektasi. Perusahaan juga menyampaikan panduan kinerja yang optimistis.

Sementara itu, saham Airbnb menguat 17% setelah perusahaan penyewaan akomodasi tersebut membukukan pendapatan dan laba yang lebih baik dari perkiraan.

Harga Minyak Naik Tipis

Harga minyak bergerak sedikit lebih tinggi ketika investor menantikan potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan bahwa kedua negara berpeluang mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman September naik 1,15% dan ditutup pada US$78,18 per barel. Adapun harga Brent, yang menjadi acuan internasional, meningkat 1,29% menjadi US$83,55 per barel.

"Kesimpulannya, penyelesaian diperkirakan akan tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jika situasinya berubah, kecemasan akan kembali muncul di pasar," ujar Kepala Strategi Ekuitas U.S. Bank Asset Management, Terry Sandven.

"Namun, untuk saat ini, berbagai kekhawatiran pasar mulai mereda," tambahnya.

Saham SpaceX Melonjak

Saham Space Exploration Technologies atau SpaceX melesat 12% pada Jumat. Kenaikan tersebut membuat saham perusahaan berpeluang menutup satu pekan perdagangan dengan hasil positif setelah cukup lama tertekan.

Saham perusahaan milik Elon Musk itu telah naik hampir 19% sepanjang pekan, didukung oleh meningkatnya optimisme investor terhadap fundamental SpaceX. Sebelumnya, saham tersebut selalu melemah dalam empat pekan berturut-turut.

Reli SpaceX pekan ini salah satunya dipicu oleh keputusan Argus yang menaikkan rekomendasi saham SpaceX dari hold menjadi buy.

Perusahaan investasi tersebut juga mempertahankan target harga sebesar US$160 per saham. Target itu mencerminkan potensi kenaikan sekitar 39% dibandingkan harga penutupan Kamis.

Selain itu, kekhawatiran mengenai potensi aksi jual akibat sejumlah jadwal pembukaan masa penguncian saham tampaknya telah tercermin dalam harga. Saham SpaceX sebelumnya sempat melemah pada awal pekan karena kekhawatiran tersebut.

(gls/gls)


Most Popular
Features