MARKET DATA
Newsletter

Menanti Pidato Kenegaraan Prabowo di Tengah "Banjir" Kabar dari AS

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 August 2026 06:23
WASHINGTON, DC - MAY 12: Flags at the base of the Washington Monument fly at half staff as the United States nears the 1 millionth death attributed to COVID May 12, 2022 in Washington, DC. U.S. President ordered flags to fly at half-mast through next
Foto: Bendera Amerika Serikat (Photo by Win McNamee/Getty Images)

Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada 10-14 Agustus 2026. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada inflasi Amerika Serikat (AS), harga produsen, dan penjualan ritel yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan merilis hasil Survei Konsumen Juli dan Survei Penjualan Eceran Juni. Kedua data tersebut akan memberikan gambaran mengenai daya beli masyarakat Indonesia.

Puncaknya adalah pada Jumat pekan ini di mana Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan serta menyerahkan Nota Keuangan serta Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2026.

Agenda global berdampak tinggi pada pekan ini terkonsentrasi di AS, China tidak memiliki agenda penting pada periode tersebut.

Keyakinan Konsumen Indonesia

Bank Indonesia dijadwalkan merilis Survei Konsumen Juli pada hari ini, Senin (10/8/2026). Proyeksi awal menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dapat turun menjadi 116 dari 117,8 pada Juni.

IKK Juni sebelumnya turun dari 120,9 dan mencapai posisi terendah sejak September 2025. Pelemahan terutama berasal dari menurunnya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, pembelian barang tahan lama, dan ketersediaan lapangan kerja.

Ekspektasi konsumen terhadap pendapatan, ketersediaan pekerjaan, dan kegiatan usaha enam bulan mendatang juga ikut melemah. Meski demikian, indeks masih berada di atas 100 yang menunjukkan konsumen tetap berada dalam zona optimistis.

Pasar akan mencermati apakah penurunan keyakinan konsumen mulai mereda atau justru berlanjut pada Juli. IKK yang lebih baik dari proyeksi dapat mendukung saham konsumsi, ritel, otomotif, perbankan, dan telekomunikasi.

Sebaliknya, penurunan lebih dalam dapat memperkuat kekhawatiran mengenai daya beli dan permintaan kredit konsumsi. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi optimisme terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2026.

Penjualan Eceran Indonesia

BI akan melanjutkan agenda domestik dengan merilis Survei Penjualan Eceran Juni pada Selasa (11/8/2026).

Penjualan eceran diproyeksikan tumbuh 1,8% secara tahunan, berbalik dari kontraksi 3,9% pada Mei. Penjualan Mei terkontraksi untuk bulan kedua berturut-turut dan menjadi penurunan terdalam sejak Mei 2023.

Pelemahan sebelumnya terlihat pada penjualan makanan, minuman dan tembakau, sandang, serta peralatan rumah tangga. Penjualan perangkat informasi dan komunikasi juga masih terkontraksi dalam. Sementara itu, penjualan suku cadang otomotif tetap tumbuh meskipun lajunya melambat.

Kembalinya penjualan eceran ke zona positif akan memberikan sinyal bahwa konsumsi rumah tangga mulai pulih. Hal ini penting karena konsumsi merupakan kontributor terbesar perekonomian Indonesia dan menjadi penopang pendapatan banyak emiten domestik.

Namun, apabila penjualan kembali terkontraksi, pasar dapat menilai tekanan biaya hidup masih membatasi belanja masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi membebani saham ritel, barang konsumsi, otomotif, dan perbankan yang bergantung pada pertumbuhan kredit konsumsi.

Penjualan Rumah AS

AS akan mengumumkan penjualan rumah lama periode Juli pada Selasa (11/8/2026). Konsensus memperkirakan penjualan turun tipis menjadi 4,07 juta unit dari 4,09 juta unit secara tahunan.

Pada Juni, penjualan rumah lama turun 2,4% secara bulanan dan berada di bawah perkiraan pasar. Penurunan terjadi di wilayah Selatan, Midwest, dan Barat AS, sedangkan wilayah Timur Laut mencatat kenaikan.

Persediaan rumah turun menjadi 1,56 juta unit atau setara dengan kebutuhan selama 4,6 bulan. Pada saat yang sama, harga rata-rata rumah meningkat 1,8% secara tahunan menjadi US$440.600, tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Data perumahan memberikan gambaran mengenai dampak suku bunga tinggi terhadap rumah tangga dan perekonomian AS. Penjualan yang kembali melemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran The Fed.

Namun, penurunan yang terlalu dalam juga berisiko memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi mulai memberikan tekanan lebih besar terhadap aktivitas ekonomi.

Inflasi Konsumen AS

Agenda pbesar pekan ini adalah inflasi konsumen AS periode Juli yang akan dirilis pada Rabu (12/8/2026) pukul 19.30 WIB.

Inflasi tahunan diperkirakan melandai menjadi 3,4% dari 3,5%. Secara bulanan, harga konsumen diperkirakan naik 0,1% setelah turun 0,4% pada Juni.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, diproyeksikan melambat menjadi 2,5% secara tahunan dari 2,6%. Secara bulanan, inflasi inti diperkirakan meningkat 0,2% setelah tidak mengalami perubahan pada periode sebelumnya.

Inflasi Juni turun tajam karena meredanya tekanan harga energi. Harga bensin dan bahan bakar turun sehingga mampu mengimbangi kenaikan harga pangan dan tempat tinggal. Inflasi inti juga melandai dari 2,9% menjadi 2,6%.

Karena penurunan sebelumnya banyak dibantu oleh energi, pasar akan mencermati apakah tekanan harga pada jasa dan tempat tinggal ikut mereda. Inflasi inti dinilai lebih menggambarkan tekanan harga yang mendasar dan berkelanjutan.

Inflasi di atas perkiraan dapat mendorong dolar AS serta imbal hasil US Treasury karena peluang pelonggaran The Fed akan mengecil. Skenario tersebut berpotensi menekan rupiah, obligasi pemerintah, dan saham negara berkembang.

Sebaliknya, inflasi yang sesuai atau lebih rendah dari proyeksi dapat memperkuat harapan penurunan suku bunga. Kondisi ini berpotensi mendukung saham perbankan, properti, teknologi, dan sektor lain yang sensitif terhadap suku bunga.

Inflasi Produsen AS

AS akan merilis Producer Price Index (PPI) Juli pada Kamis (13/8/2026) pukul 19.30 WIB. PPI utama diperkirakan naik 0,1% secara bulanan setelah turun 0,3% pada Juni.

PPI inti diproyeksikan tumbuh 0,2%, sama seperti periode sebelumnya. Secara tahunan, inflasi produsen diperkirakan melandai menjadi sekitar 5% dari 5,5%.

Pada Juni, inflasi produsen tahunan turun menjadi 5,5% dari 6% dan berada di bawah ekspektasi. Meski menurun, angkanya masih cukup tinggi dan menunjukkan tekanan biaya di tingkat produsen belum sepenuhnya hilang.

PPI kerap dipandang sebagai petunjuk awal tekanan harga yang nantinya dapat diteruskan produsen kepada konsumen. Kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, terutama setelah CPI yang panas, dapat memperkuat kekhawatiran bahwa proses penurunan inflasi mulai terhambat.

Sebaliknya, PPI yang lemah dapat memperkuat sentimen positif apabila inflasi konsumen juga terkendali. Kombinasi tersebut berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberikan ruang penguatan bagi rupiah serta IHSG.

Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027

Perhatian masyarakat, dunia usaha, hingga investor akan tertuju pada Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI pada Jumat (14/8/2026). Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah melalui RAPBN 2027 dan Nota Keuangan.

Sidang tahun ini digelar lebih cepat dari biasanya. Jika sebelumnya berlangsung pada 16 Agustus, tahun ini dimajukan dua hari karena 16 Agustus 2026 jatuh pada Minggu.

Pada pagi hari, Prabowo akan menyampaikan Pidato Kenegaraan yang memuat evaluasi kinerja pemerintah sepanjang 2026 sekaligus prioritas pembangunan ke depan. Sementara pada siang hari, Presiden akan menyampaikan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan.

 

Dua agenda tersebut menjadi penting karena dapat memberikan sinyal mengenai arah ekonomi dan fiskal Indonesia pada 2027.

Lewat Pidato Kenegaraan, pasar akan mencermati program apa saja yang akan menjadi prioritas pemerintah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), mengingat dampaknya tidak hanya terhadap belanja negara, tetapi juga daya beli masyarakat, penyerapan produk dalam negeri, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Namun, perhatian terbesar investor akan tertuju pada RAPBN 2027.

Melalui Nota Keuangan, pemerintah akan membuka gambaran mengenai seberapa besar negara akan membelanjakan anggaran, sumber pendapatan negara, defisit, hingga strategi pembiayaan untuk menjalankan berbagai program prioritas.

Sejumlah asumsi makro juga akan menjadi sorotan, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, hingga harga minyak mentah Indonesia (ICP).

Bagi investor, angka-angka tersebut menjadi petunjuk mengenai arah kebijakan fiskal dan potensi dampaknya terhadap pasar keuangan. Sementara bagi dunia usaha, asumsi tersebut dapat menjadi gambaran mengenai prospek permintaan, investasi, biaya produksi, hingga peluang bisnis sepanjang 2027.

 

Sebelumnya, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR telah menyepakati sejumlah kerangka awal RAPBN 2027 dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

Salah satu target yang disepakati adalah pertumbuhan ekonomi 2027 di kisaran 5,8%-6,5%. 

Inflasi dipatok di kisaran 1,5%-3,5%. Sementara itu, nilai tukar rupiah diasumsikan berada di rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, dengan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun diproyeksikan sebesar 6,5%-7,3%.

"Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%," kata Wihadi dalam Rapat Paripurna DPR, dikutip Jumat (3/7/2026).

Rentang tersebut selanjutnya menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam menyusun rancangan awal RAPBN 2027 beserta Nota Keuangan.

Setelah disampaikan dalam Sidang Bersama, RUU APBN 2027 akan dibahas lebih lanjut bersama DPR, termasuk melalui Komisi XI, sebelum ditetapkan menjadi undang-undang pada akhir Oktober 2026.

Dengan demikian, 14 Agustus 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi pasar, hari tersebut menjadi momentum untuk membaca arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo: seberapa agresif belanja negara akan digenjot, dari mana uangnya berasal, dan sektor mana yang akan menjadi prioritas pemerintah pada 2027.

Penjualan Ritel AS

Penjualan ritel AS periode Juli akan diumumkan pada Jumat (14/8/2026) pukul 19.30 WIB. Konsensus memperkirakan penjualan tumbuh 0,1% secara bulanan, melambat dari 0,2% pada Juni.

Penjualan di luar kendaraan diperkirakan meningkat 0,2% setelah turun 0,2%. Sementara itu, kelompok penjualan yang digunakan dalam penghitungan konsumsi pada PDB diproyeksikan tetap tumbuh solid.

Pada Juni, penjualan ritel tetap bertumbuh karena kenaikan penjualan kendaraan, perdagangan daring, elektronik, dan perlengkapan olahraga. Namun, penurunan harga energi menekan penerimaan stasiun bahan bakar. Di luar bensin, penjualan justru tumbuh lebih kuat.

Angka di atas perkiraan menunjukkan konsumsi AS tetap solid dan dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, konsumsi yang terlalu kuat juga dapat memperlambat penurunan inflasi dan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sebaliknya, penjualan yang lemah dapat mendukung ekspektasi pelonggaran moneter. Reaksi pasar akan bergantung pada apakah pelemahan tersebut dianggap sebagai normalisasi konsumsi atau sinyal perlambatan ekonomi yang lebih tajam.

(gls/gls)


Most Popular
Features