MARKET DATA

Ledakan Tambang Pakistan Tewaskan 32 Orang, Harga Batu Bara Terdampak?

mae,  CNBC Indonesia
31 July 2026 08:20
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam nege
Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara jatuh setelah terbang.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (30/7/2026) ditutup di US$ 134,05 per ton, Harganya jatuh 1,07%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan sebesar 3,5% pada Rabu sebelumnya.

Penurunan harga batu bara disebabkan banyak sentimen, terutama harga minyak. Harga minyak ambles hampir 2% lebih pada penutupan Kamis.

Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

China juga melaporkan harga batu bara termal di mulut tambang (mine-mouth) China cenderung stabil meskipun beberapa tambang menaikkan harga secara terbatas.

Kondisi ini terjadi karena pasokan yang lebih ketat akibat pembatasan produksi dan inspeksi keselamatan tambang, tetapi permintaan pembeli masih belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga yang lebih luas.

Sebagian besar tambang mempertahankan harga jual, hanya sejumlah kecil yang menaikkan harga. Pembatasan produksi dan inspeksi keselamatan di sejumlah wilayah tambang memang menopang harga batu bara domestik.

Permintaan listrik juga meningkat karena cuaca musim panas yang lebih panas, tetapi stok batu bara di pembangkit dan pelabuhan masih relatif tinggi sehingga membatasi kenaikan harga.

Namun, aktivitas pembelian dari pengguna akhir dan trader masih berhati-hati, membuat pasar bergerak dalam kisaran sempit.

Pasokan batu bara di pelabuhan dan pembangkit listrik juga masih sangat tinggi sehingga mampu menahan kenaikan harga.

Persediaan batu bara di empat pelabuhan utama China mencapai lebih dari 30 juta ton, tertinggi untuk periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir.

Konsumsi batu bara pembangkit listrik memang meningkat, tetapi stok yang tersedia masih cukup untuk sekitar 20 hari pemakaian sehingga pasokan dinilai aman.

Ledakan Tambang di Pakistan

Sedikitnya 32 penambang tewas dan 10 lainnya masih terjebak setelah ledakan mengguncang tambang batu bara di pinggiran Kota Quetta, Provinsi Baluchistan, Pakistan, Kamis (31/7/2026).

Ledakan diduga dipicu oleh akumulasi gas metana di dalam tambang. Tim penyelamat telah menemukan 32 jenazah, sementara operasi pencarian terhadap para penambang yang masih terjebak terus berlangsung.

 

Pemerintah setempat mengakui proses evakuasi berlangsung sangat sulit. Otoritas Baluchistan juga menjanjikan kompensasi sebesar Rs 500.000 (sekitar US$1.800) bagi keluarga setiap korban meninggal.

Serikat pekerja tambang menduga insiden ini terjadi akibat kelalaian dan mendesak pemerintah mengusut pihak yang bertanggung jawab. Mereka juga meminta penegakan aturan keselamatan yang lebih ketat terhadap perusahaan tambang.

Kecelakaan tambang mematikan memang kerap terjadi di Pakistan, terutama di Baluchistan. Banyak tambang di wilayah tersebut dinilai masih minim ventilasi, sistem pemantauan gas, dan perlengkapan keselamatan dasar. Meski berisiko tinggi dan bergaji rendah, industri batu bara tetap menjadi sumber penghidupan utama bagi ribuan pekerja di provinsi termiskin Pakistan tersebut.

Inspektur pertambangan pemerintah, Ghani Baloch, mengatakan ledakan diduga dipicu oleh akumulasi gas metana dan terjadi di pinggiran Kota Quetta, ibu kota Provinsi Baluchistan.

Sebanyak tujuh jenazah berhasil dievakuasi beberapa jam setelah ledakan. Tim penyelamat kemudian menemukan 25 jenazah lainnya, menurut pernyataan pejabat setempat dan badan penanggulangan bencana provinsi. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung untuk menemukan para penambang yang masih terjebak.

Baloch mengatakan operasi penyelamatan akan terus dilakukan hingga seluruh korban ditemukan. Namun, ia mengakui jumlah korban tewas kemungkinan masih akan bertambah.

"Peluang menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil setelah ledakan gas metana karena kadar oksigen turun hingga nol. Selain itu, tim penyelamat juga harus bergerak sangat hati-hati di dalam tambang," ujar Baloch, dikutip dari AP.

(mae/mae)



Most Popular