Puluhan Jam Penuh Guncangan, Dunia Cemas Menanti Keputusan The Fed
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 537,24 poin atau 1,03% ke 52.747,32. Penutupa ini mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Saham Sherwin-Williams melonjak 8% setelah membukukan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi.
Sementara itu, Coca-Cola naik 5% usai melaporkan pendapatan dan laba yang lebih baik dari perkiraan serta menaikkan proyeksi kinerja sepanjang tahun.
Indeks S&P 500 juga menguat 0,21% ke 7.428,78. Sebaliknya, Nasdaq Composite turun tipis 0,22% ke 24.876,91.
Saham-saham semikonduktor menjadi pemberat, dengan ETF VanEck Semiconductor (SMH) merosot lebih dari 3% dan mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut. Saham Micron dan AMD masing-masing anjlok lebih dari 8%.
Penurunan harga minyak turut menopang sentimen pasar setelah Iran membahas pengelolaan Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4% menjadi US$79,26 per barel, sedangkan Brent melemah 4,8% menjadi US$84,09 per barel.
Pergerakan pasar mencerminkan rotasi investasi yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, di mana sektor-sektor ekonomi tradisional mulai diminati, sementara saham-saham teknologi yang sebelumnya melonjak mengalami tekanan.
ETF sektor teknologi Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) turun ke level terendah sejak 7 Mei. Sebaliknya, ETF sektor kesehatan XLV dan sektor keuangan XLF mencetak rekor tertinggi, dipimpin oleh kenaikan saham-saham asuransi.
"Ini merupakan rotasi yang sangat luas. Pelemahan momentum saham teknologi sudah berlangsung sekitar enam hingga delapan pekan dan lebih dipengaruhi faktor teknikal pasar dibanding perubahan fundamental," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Meski demikian, menurut Mayfield, keberlanjutan penguatan sektor-sektor siklikal seperti barang konsumsi non-primer, keuangan, dan industri akan bergantung pada tetap rendahnya harga minyak dan suku bunga.
"Sulit membayangkan sektor-sektor tersebut terus menguat jika imbal hasil obligasi naik di seluruh tenor dan harga minyak kembali mendekati US$100 per barel," ujarnya.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu. Investor memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga, tetapi berharap mendapat petunjuk yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Selain itu, musim laporan keuangan perusahaan teknologi tetap menjadi fokus utama pekan ini. Investor menunggu hasil kinerja dari Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft.
(emb/emb) Addsource on Google