Operasi Besar China Selamatkan Sungai Yangtze, Nelayan Jadi Tumbal
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Sungai Yangtze, sungai terpanjang di Asia menunjukkan pemulihan luar biasa setelah puluhan tahun mengalami kerusakan akibat pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan bendungan.
Namun, keberhasilan tersebut dibayar mahal. Larangan penangkapan ikan membuat sekitar 230.000 nelayan kehilangan pekerjaan dan perahu mereka disita atau dimusnahkan.
Biomassa ikan di Sungai Yangtze melonjak lebih dari 200% sejak 2021 setelah terus menurun selama sekitar tujuh dekade. Pada saat yang sama, populasi finless porpoise atau lumba-lumba tanpa sirip meningkat menjadi lebih dari 1.400 ekor, naik dari sekitar 1.000 ekor pada 2017.
Serangkaian temuan tersebut muncul setelah China menjalankan program konservasi besar-besaran di Sungai Yangtze sejak 2021. Mulai dari larangan penangkapan ikan komersial selama 10 tahun, penutupan ribuan pabrik kimia, hingga pengawasan sungai menggunakan patroli, drone, dan kamera.
Â
Sungai Yangtze Foto: Economist |
Â
Hasilnya memang terlihat. Namun, keberhasilan itu juga memunculkan pertanyaan lain. Berapa besar biaya sosial dan lingkungan yang harus dibayar untuk menyelamatkan sungai terpanjang di Asia tersebut?
Operasi Konservasi Skala Besar
Pemulihan tersebut tidak terjadi secara alami. Pemerintah China menjalankan paket perlindungan lingkungan terbesar yang pernah diterapkan di kawasan Sungai Yangtze.
Kebijakan utamanya adalah larangan penangkapan ikan komersial selama 10 tahun yang mulai berlaku pada 2021. Larangan itu mencakup aliran utama Sungai Yangtze, sungai-sungai besar yang terhubung dengannya, hingga danau-danau di kawasan aliran sungai.
Â
Keputusan tersebut diambil setelah hasil tangkapan ikan terus menyusut. Pada 1950-an, tangkapan ikan di Sungai Yangtze masih mencapai lebih dari 400.000 ton per tahun. Menjelang kebijakan itu diterapkan, jumlahnya turun menjadi kurang dari 100.000 ton.
Pemerintah kemudian memperketat pengawasan melalui patroli sungai, drone, kamera pengawas, hingga sanksi yang lebih berat bagi pelanggar. Presiden Xi Jinping turut menjadikan perlindungan Sungai Yangtze sebagai salah satu agenda prioritas, bahkan kinerja lingkungan ikut menjadi salah satu indikator penilaian promosi pejabat daerah.
Meski penangkapan ikan ilegal belum sepenuhnya hilang, skalanya dinilai semakin kecil. Tahun lalu, jumlah perkara pidana terkait praktik tersebut turun 40% dibandingkan 2024.
Langkah pemerintah tidak berhenti di sektor perikanan. Ribuan pabrik kimia di sepanjang bantaran sungai ditutup atau dipindahkan, kawasan hulu direhabilitasi melalui penanaman hutan, sementara berbagai kota di daerah aliran sungai membangun ruang hijau, lahan basah buatan, dan permukaan berpori untuk meningkatkan daya serap air hujan sekaligus mengurangi limpasan air kotor ke sungai.
Â
Menurut Wang Limin, pegiat konservasi senior di China, pemulihan Yangtze menunjukkan kemampuan pemerintah China dalam memusatkan sumber daya negara untuk menyelesaikan persoalan lingkungan dalam waktu relatif singkat.
Ia menilai peningkatan populasi finless porpoise menjadi perkembangan yang paling menggembirakan. Sebagai predator puncak sekaligus indicator species, mamalia tersebut mencerminkan kondisi kesehatan keseluruhan ekosistem sungai.
Nelayan Kehilangan Sungai
Di balik pemulihan ekosistem itu, biaya sosial yang harus ditanggung juga tidak kecil.
Sekitar 230.000 nelayan kehilangan pekerjaan setelah larangan penangkapan ikan diberlakukan. Perahu mereka dihancurkan atau disita agar tidak lagi digunakan.
Media pemerintah China menyebut para nelayan menerima kompensasi, pelatihan kerja, dan sebagian memperoleh pekerjaan baru dengan pendapatan yang lebih baik. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu sejalan dengan narasi tersebut.
Di Kabupaten Jinxian, yang berada di tepi Danau Junshan di selatan aliran utama Sungai Yangtze, warga mengatakan hanya sebagian kecil nelayan yang memperoleh kompensasi. Nilainya pun dinilai jauh di bawah penghasilan mereka ketika masih menangkap ikan.
Â
Sebagian besar akhirnya meninggalkan kampung halaman untuk bekerja sebagai buruh migran di kota-kota besar.
"No one listens to the common people. The government decided everything. You can't argue with them," kata seorang mantan nelayan perempuan yang kini mengelola restoran.
Tak jauh dari lokasi itu, seorang mantan nelayan bernama Zhang menunjuk dermaga tempat perahunya dulu bersandar. Kini lokasi tersebut dipenuhi rerumputan.
Atas dorongan pemerintah, Zhang beralih membudidayakan belut rawa (swamp eel), salah satu makanan khas daerah tersebut. Namun menurutnya, usaha budidaya membutuhkan modal jauh lebih besar dibandingkan menangkap ikan, sementara keuntungan sangat bergantung pada permintaan pasar.
"Everyone's losing money this year," ujarnya.
Bendungan Masih Menjadi Perdebatan
Keberhasilan memulihkan Sungai Yangtze juga belum menutup seluruh persoalan.
Sejak 1950-an, China membangun sedikitnya belasan bendungan besar di Sungai Yangtze, termasuk Three Gorges Dam yang merupakan bendungan hidroelektrik terbesar di dunia, serta ribuan bendungan berukuran lebih kecil di kawasan aliran sungainya.
Banyak peneliti menilai pembangunan bendungan memberikan dampak besar terhadap keanekaragaman hayati karena menghambat migrasi ikan menuju lokasi pemijahan.
Â
Steven Cooke dari Carleton University di Ottawa, yang menjadi salah satu penulis studi Februari tersebut, menilai sektor pembangkit listrik tenaga air belum mendapatkan perhatian yang sama seperti sektor lain dalam upaya konservasi.
"The hydropower industry has really gotten a pass. Everybody else has stepped up, and nothing has changed with respect to hydropower," katanya.
Menurut Cooke, pemulihan Sungai Yangtze akan tetap menghadapi batas selama bendungan tidak diubah atau dilengkapi jalur migrasi ikan.
Ujian Berikutnya
Perdebatan kini berlanjut ke Danau Poyang, danau air tawar terbesar di China yang terhubung dengan Sungai Yangtze.
Pemerintah berencana membangun bendungan sepanjang sekitar 3 kilometer di antara Danau Poyang dan Sungai Yangtze untuk mengendalikan muka air pada musim kemarau. Awal tahun ini, proyek tersebut resmi mendapat persetujuan.
Air mengalir keluar dari pintu air di Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze dekat Yichang di Provinsi Hubei, China tengah, Jumat, 17 Juli 2020. (Wang Gang/Xinhua via AP/File Foto) Foto: Air mengalir keluar dari pintu air di Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze dekat Yichang di Provinsi Hubei, China tengah, Jumat, 17 Juli 2020. (AP/Wang Gang/File Foto) |
Â
Pemerintah menyebut proyek itu diperlukan untuk menjaga ketersediaan air. Namun, banyak pegiat lingkungan khawatir bendungan tersebut justru mengganggu habitat burung migran dan finless porpoise yang populasinya mulai pulih.
Pemulihan Sungai Yangtze menunjukkan kerusakan ekosistem dapat diperlambat, bahkan dibalik, ketika negara mengerahkan sumber daya dalam skala besar. Namun, pengalaman China juga memperlihatkan bahwa keberhasilan konservasi tidak selalu berjalan seiring dengan perlindungan mata pencaharian masyarakat maupun seluruh kepentingan lingkungan.
Â
(mae/mae) Addsource on Google

