MARKET DATA

Harga Emas Luluh Lantak! Hangus 2% dalam Sehari, Terbakar Harga Minyak

mae,  CNBC Indonesia
24 July 2026 06:50
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok 2%. Pelemahan terjadi setelah konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) ditutup di US$ 4047,15 per troy ons. Harganya ambruk 2%.

Pelemahan ini mengakhiri tren positif emas yang menguat 3,08% dalam dua hari sebelumnya.

Pada hari ini, Jumat (24/7/2026), harga emas menguat tipis 0,04% ke US$ 4048,59 per troy ons.

Pelemahan emas salah satunya dipicu lonjakan dolar AS. Indeks melesat ek 101,44 atau rekoe teringgi sejak 25 Juni 2026.

Kenaikan indeks membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

"Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena pasar menilai bank sentral akan kesulitan menurunkan suku bunga akibat tekanan inflasi. Kenaikan yield merupakan musuh bagi investor emas dan perak karena kedua logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil," kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

 

Harga minyak Brent sempat menembus US$100 per barel pada Kamis kemarin.

Minyak Brent ditutup naik 7% ke US$100,69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,2% menjadi US$92,19 per barel.

Harga minyak brent sudah terbang 19% lebih dalam lima hari terakhir.

Level US$ 100 adalah yang pertama kalinya sejak akhir Mei. Harga melonjak setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi.

Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak global akan meluas dari Selat Hormuz.

 

Kenaikan harga minyak membebani emas karena meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer), kondisi yang biasanya mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil.

Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh setelah rapat kebijakan moneter selama dua hari yang akan digelar pekan depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 83% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, meningkat dari 68% sehari sebelumnya.

"Pasar memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga pada pertemuan pekan depan, meski nada pernyataannya kemungkinan tetap hawkish. Namun, jika The Fed justru memberikan sinyal yang jauh lebih dovish atau lebih hawkish dari perkiraan, pasar akan bereaksi," ujar Wyckoff.

Harga perak juga ambruk. Merujuk Refinitiv, harga perak pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026) ditutup di US$ 57,68 per troy ons. Harganya jatuh 3,4%.

Pelemahan ini mengakhiri tren positif perak yang melesat 7,6% dalam empat hari sebelumnya.

Pada hari ini, Jumat (24/7/2026), harga perak melemah 0,14% ke US$ 57,59 per troy ons.

 


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Mari Tepuk Tangan! Harga Emas Terbang Meski Dikepung 3 "Musuh" Abadi


Most Popular
Features